Pertemuan Besar di Paris: 50 Negara Bahas Blokade Selat Hormuz dan Dampaknya pada Keamanan Global

Liput – 20 April 2026 | Paris menjadi saksi pertemuan diplomatik terbesar tahun ini, di mana lebih dari lima puluh negara beserta organisasi internasional berkumpul untuk membahas isu kritis Blokade Selat Hormuz. Pertemuan yang berlangsung selama tiga hari ini menyoroti ketegangan yang terus meningkat antara Amerika Serikat dan Iran, serta implikasinya terhadap perdagangan energi dunia.

Delegasi Indonesia, yang baru saja tiba di Belgia untuk melobi pembukaan blokade Gaza, turut mengirimkan perwakilan ke Paris. Kehadiran diplomat Indonesia menegaskan peran aktif negara Asia Tenggara dalam upaya menurunkan ketegangan maritim dan memperkuat dialog multilateral.

Menurut pernyataan wakil menteri luar negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, Iran menolak membuka kembali Selat Hormuz sampai AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Iran menilai blokade tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah disepakati pada awal bulan ini, meskipun kedua belah pihak mengklaim telah mencapai progres dalam negosiasi.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa blokade angkatan laut akan tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan yang memuaskan Washington. Trump menolak tekanan Tehran dan menekankan bahwa keamanan jalur pelayaran internasional tidak dapat diabaikan.

Berbagai pihak menilai pertemuan di Paris sebagai kesempatan penting untuk membuka jalur diplomatik baru. Berikut adalah beberapa poin utama yang diangkat selama diskusi:

  • Penegasan kembali pentingnya kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur strategis yang menyalurkan sekitar 20% produksi minyak dunia.
  • Permintaan Iran untuk penghapusan blokade sebagai prasyarat pembukaan kembali selat.
  • Penawaran mediasi oleh Uni Eropa melalui koordinator khusus yang akan mengunjungi Tehran dalam waktu dekat.
  • Pengaruh ekonomi: penutupan selat diperkirakan menambah biaya pengiriman minyak hingga 12%, menggerakkan harga energi global naik.
  • Peran Indonesia dan negara-negara ASEAN dalam mendukung solusi damai yang menghormati kedaulatan masing-masing pihak.

Selain isu Iran‑AS, pertemuan juga membahas konflik lain yang mempengaruhi stabilitas maritim, termasuk blokade Gaza yang menjadi sorotan delegasi Indonesia. Meskipun fokus utama tetap pada Blokade Selat Hormuz, para peserta sepakat bahwa penyelesaian satu konflik dapat memberi contoh bagi konflik serupa di wilayah lain.

Para ahli memperingatkan bahwa ketegangan yang belum terselesaikan dapat berpotensi memicu eskalasi lebih luas. Jika blokade tetap berlanjut, risiko terjadinya insiden militer di selat tersebut dapat meningkat, mengancam keamanan kapal dagang dan menimbulkan gangguan rantai pasokan global.

Kesepakatan sementara yang dihasilkan pertemuan di Paris menekankan pentingnya melanjutkan dialog bilateral antara Amerika Serikat dan Iran, sambil membuka ruang bagi mediasi multilateral. Pihak-pihak yang hadir sepakat untuk mengadakan pertemuan lanjutan dalam enam bulan ke depan, dengan agenda khusus meninjau kemajuan pengurangan blokade dan implementasi mekanisme monitoring maritim independen.

Dengan lebih dari lima puluh negara dan organisasi internasional terlibat, harapan besar ditempatkan pada diplomasi kolektif untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz. Keberhasilan upaya ini tidak hanya berdampak pada stabilitas regional, tetapi juga pada pasar energi global dan keamanan perdagangan laut.