Drama di Puncak Gunung Leuser: Evakuasi Jenazah dan Badai Angin Puting Beliung Runtuhkan Rumah Warga Gayo Lues

Liput – 16 April 2026 | Gayo Lues, Aceh – Puncak Gunung Leuser kembali menjadi sorotan publik setelah dua peristiwa dramatis terjadi dalam rentang waktu singkat. Pada satu sisi, Kapolres Gayo Lues bersama Bupati Gayo Lues menyambut tim evakuasi jenazah dan rombongan pendaki yang baru saja menyelesaikan pendakian ke puncak tertinggi kawasan konservasi ini. Di sisi lain, desa Badak di wilayah yang sama dilanda angin puting beliung yang menghancurkan dua rumah warga, menambah beban psikologis masyarakat setempat.

Tim evakuasi yang dipimpin oleh Unit Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh tiba di pos pendakian sekitar pukul 09.00 WIB, tepat setelah tim penyelamat berhasil menurunkan tiga jenazah pendaki yang tewas akibat kecelakaan di jalur lintasan berbahaya. Kapolres Gayo Lues, Kombes Pol. Ahmad Syarif, menyampaikan apresiasi atas kerja keras para relawan, petugas medis, serta aparat keamanan yang berkoordinasi secara intensif. “Kami menegaskan bahwa keselamatan pendaki adalah prioritas utama, dan penanganan jenazah dilakukan dengan penuh hormat serta prosedur yang sesuai,” ujar beliau.

Bupati Gayo Lues, H. Muzakir, menambahkan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan fasilitas bantuan darurat bagi keluarga korban, termasuk pengurusan administrasi, bantuan psikologis, serta dukungan finansial sementara. “Kami berkomitmen untuk memberikan kepastian hukum dan moral kepada keluarga yang berduka, sekaligus memastikan tidak ada lagi kejadian serupa di masa depan,” kata sang bupati dalam pernyataannya.

Sementara itu, tim evakuasi juga berhasil mengevakuasi 12 orang pendaki yang mengalami kelelahan dan dehidrasi. Mereka diberikan pertolongan pertama di pos kesehatan lapangan, kemudian dipindahkan ke rumah sakit terdekat di Kabupaten Gayo Lues untuk observasi lebih lanjut. Tim medis menegaskan pentingnya persiapan fisik dan perlengkapan lengkap sebelum menaklukkan puncak Gunung Leuser, mengingat kondisi medan yang berubah-ubah dan cuaca yang dapat menjadi faktor risiko utama.

Di desa Badak, Kabupaten Gayo Lues, angin puting beliung yang melanda pada sore hari kemarin menimbulkan kerusakan signifikan. Dua rumah warga, satu di Jalan Raya Badak dan satu lagi di Jalan Desa Badak, mengalami atap roboh dan dinding retak parah. Warga yang terdampak, Bapak Haji Abdul Rahman (45) dan Ibu Siti Nurjanah (38), melaporkan bahwa mereka sempat berusaha menahan kerusakan dengan menutup jendela dan pintu, namun kekuatan angin yang mencapai kecepatan 150 km/jam membuat upaya tersebut sia-sia.

Tim SAR setempat langsung dikerahkan untuk mengevakuasi penghuni rumah yang terperangkap dan menyalurkan bantuan darurat berupa selimut, makanan ringan, serta air bersih. Kepala Desa Badak, Sdr. Ridwan, menginformasikan bahwa selain dua rumah yang rusak, terdapat tiga rumah lain yang mengalami kerusakan ringan, seperti genting pecah dan jendela pecah. Ia menegaskan bahwa proses penilaian kerusakan akan dilanjutkan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pekerjaan Umum setempat.

Para ahli meteorologi menyebutkan bahwa fenomena angin puting beliung di wilayah Gayo Lues dipicu oleh pertemuan massa udara hangat dari dataran rendah dengan udara dingin yang mengalir dari pegunungan. Kondisi geografis yang bergunung-gunung serta kerapnya perubahan suhu mendadak menjadi faktor utama yang memperparah intensitas angin.

Secara keseluruhan, kedua peristiwa ini menegaskan perlunya sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan alam yang ekstrem. Upaya edukasi mengenai keselamatan pendakian, penyuluhan mitigasi bencana, serta peningkatan infrastruktur penanggulangan darurat menjadi langkah strategis yang harus terus diperkuat.

Kedepannya, pihak berwenang berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur evakuasi di Gunung Leuser serta mempercepat pembangunan rumah tahan bencana di daerah rawan. Diharapkan, melalui kerja sama lintas sektoral, Gayo Lues dapat mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian material dalam menghadapi ancaman alam yang semakin tidak dapat diprediksi.