Fluminense Tersungkur di Maracanã: Kekalahan 2-1 dari Independiente Rivadavia Goyang Papan Grup Libertadores

Liput – 16 April 2026 | Fluminense mengalami pukulan berat pada putaran kedua fase grup Copa Libertadores 2026 setelah menelan kekalahan 2-1 dari tim asal Argentina, Independiente Rivadavia, di kandang Maracanã pada 15 April 2026. Pertandingan yang dijadwalkan mulai pukul 21.30 WIB ini awalnya menjanjikan bagi Tricolores, namun serangan balik cepat lawan mengubah alur pertandingan menjadi krisis.

Tim tuan rumah membuka skor lebih dulu berkat gol cepat dari Guilherme Arana pada menit ke-9. Bola meluncur dari sudut sayap kiri setelah umpan lebar yang diberikan oleh Hercules, lalu dihadapi oleh Arana yang menembakkan tembakan keras ke sudut atas gawang, menimbulkan sorakan riuh penonton. Meskipun Arana mencuri perhatian, Fluminense tidak mampu meningkatkan keunggulan tersebut, dan aliran serangan mereka terhenti oleh pertahanan disiplin Rivadavia.

Pada menit ke-36, Rivadavia menyamakan kedudukan lewat sundulan kepala Fabrizio Sartori. Serangan standar dari luar kotak penalti menghasilkan tendangan bebas yang kurang terkendali, namun Leonard Costa berhasil menyalurkan bola ke arah Sartori yang menanduknya ke gawang tanpa banyak peluang bagi kiper Fabio. Gol tersebut mengubah dinamika pertandingan, memaksa Fluminense untuk mengejar poin kembali.

Usaha mengembalikan keunggulan terus berlanjut pada babak pertama, namun peluang yang diciptakan masih belum cukup tajam. Savarino, yang berperan sebagai playmaker, menembakkan tembakan jarak jauh yang meleset, sementara Canobbio menembak melebihi tiang gawang dalam upaya memanfaatkan rebound.

Babak kedua dimulai dengan intensitas tinggi, namun pada menit ke-6 Rivadavia memanfaatkan kesalahan pertahanan Fluminense. Fabio keluar dari garis gawang terlalu jauh, kemudian Canobbio yang mencoba menyingkirkan bola dengan kepala malah mengarahkan bola kembali ke area penalti. Alex Arce, yang menunggu di posisi opportunistik, memanfaatkan rebound tersebut dan menaklukkan Fabio, menjadikan skor menjadi 2-1 untuk tim tamu.

Setelah gol penentu itu, Fluminense beralih menjadi tim menyerang, namun pertahanan Rivadavia tetap kokoh. Upaya serangan balik Tricolores hanya menghasilkan tembakan jarak jauh dari Bernal dan Arana yang tidak mengancam. Pada menit-menit akhir, Fluminense menguasai penguasaan bola sebesar 71 persen dan menembakkan 21 tembakan, namun hanya satu yang mencapai target, menegaskan masalah efisiensi di lini depan.

Kekalahan ini menempatkan Fluminense di dasar klasemen Grup C dengan hanya satu poin, sementara Independiente Rivadavia memimpin grup dengan enam poin setelah kemenangan pertama melawan Bolívar. Selanjutnya, Fluminense harus menghadapi dua pertandingan tandang melawan Bolívar dan Rivadavia kembali, menambah tekanan untuk keluar dari zona degradasi.

Beberapa faktor penting turut memengaruhi hasil ini. Pelatih Zubelídia harus beradaptasi dengan absennya Lucho Acosta yang cedera ligamen lutut kiri, serta ketiadaan pemain kunci seperti German Cano. Di sisi lain, Rivadavia tampil dengan skuad yang lengkap, menampilkan trio andalan Florentín, Villa, dan Alex Arce yang menjadi ancaman konstan. Penampilan kiper Nicolas Bolcato juga patut diacungi jempol, dengan lima kali penyelamatan penting yang menjaga timnya tetap unggul.

Ke depan, Fluminense memiliki jadwal padat. Pada 19 April mereka akan menjamu Santos di Vila Belmiro dalam rangkaian ke-12 Campeonato Brasileiro Serie A, diikuti dengan laga Libertadores melawan Bolívar pada 30 April di La Paz. Kedua pertandingan tersebut menjadi kesempatan bagi Tricolores untuk memperbaiki moral dan mengumpulkan poin penting.

Kesimpulannya, kekalahan 2-1 di Maracanã menjadi pelajaran pahit bagi Fluminense. Ketidakefisienan dalam menyelesaikan peluang, serta kerentanan di lini pertahanan, menjadi sorotan utama. Jika tim ingin kembali bersaing di fase grup, mereka perlu meningkatkan ketajaman serangan dan memperbaiki koordinasi belakang, sambil mengoptimalkan kontribusi pemain yang tersedia meski harus beroperasi tanpa beberapa pemain kunci.