Liput – 04 April 2026 | Indonesia terus menghadapi beban kesehatan yang berat akibat kanker. Data terbaru mengungkap lebih dari 408.000 kasus baru dan hampir 242.000 kematian dalam satu tahun, menandakan tingkat mortalitas mencapai 59,24 persen. Angka ini menimbulkan keprihatinan mengingat fasilitas layanan onkologi yang masih terbatas, terutama di luar Pulau Jawa.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan dan Global Cancer Observatory 2022, Indonesia memiliki kurang dari 80 unit pelayanan kanker, jauh di bawah standar International Atomic Energy Agency yang menyarankan satu mesin radioterapi per 250.000 penduduk. Selain itu, jumlah dokter spesialis onkologi radiasi hanya sekitar 135 orang, mayoritas berlokasi di Jawa, sehingga akses bagi pasien di daerah lain masih sangat terbatas.
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Kasus baru (2026) | 408.661 |
| Kematian | 242.099 |
| Tingkat mortalitas | 59,24% |
| Unit layanan kanker | <80 |
| Dokter onkologi radiasi | ~135 |
Situasi ini semakin diperparah oleh faktor risiko yang meningkat, salah satunya obesitas. Penelitian menunjukkan bahwa kelebihan berat badan dapat meningkatkan peluang terkena kanker hingga 55 persen, mencakup berbagai tipe seperti kanker payudara, usus, dan ginjal. Gaya hidup tidak sehat, termasuk pola makan tinggi garam, lemak jenuh, dan kurangnya aktivitas fisik, berkontribusi pada peningkatan kejadian.
Salah satu bentuk kanker yang kerap tidak menampakkan gejala pada tahap awal adalah kanker ginjal. Menurut Dr. Ahmad Zulfan Hendri, Sp.U(K) dari Fakultas Kedokteran UGM, mayoritas kasus baru terdeteksi pada stadium menengah hingga lanjut karena gejalanya sering tidak spesifik. Penyakit ini biasanya berawal dari sel jernih (clear cell) yang tampak transparan di mikroskop, namun penyebab pasti tumor belum diketahui secara pasti.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- Urine berwarna merah atau bercampur darah
- Rasa tidak nyaman atau nyeri di pinggang
- Munculnya benjolan di area perut
- Nyeri punggung yang persisten
Faktor risiko meliputi riwayat merokok, hipertensi, pola makan yang meningkatkan tekanan darah, serta obesitas. Individu dengan anggota keluarga yang pernah mengidap kanker ginjal memiliki risiko dua kali lipat dibandingkan populasi umum. Selain itu, gangguan fungsi ginjal sebelumnya juga meningkatkan kerentanan.
Kasus publik yang menyoroti bahaya kanker ginjal adalah Vidi Aldiano, penyanyi terkenal yang berjuang melawan penyakit ini sejak 2019. Meskipun sempat menjalani perawatan di Malaysia, ia meninggal pada 2026 setelah bertahun-tahun berjuang, menegaskan pentingnya deteksi dini.
Dokter Zulfan menekankan pentingnya pemeriksaan rutin, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) atau cek kesehatan lengkap setidaknya sekali dalam setahun dapat membantu menemukan tumor secara insidental sebelum mencapai stadium lanjut.
Upaya pemerintah dan swasta terus digalakkan untuk menambah fasilitas onkologi, termasuk pembangunan pusat radioterapi di wilayah yang belum terlayani. Selain itu, program edukasi tentang gaya hidup sehat, pencegahan obesitas, dan pentingnya skrining kanker menjadi prioritas dalam menurunkan angka mortalitas.
Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat, memperluas jaringan layanan medis, dan mengatasi faktor risiko seperti obesitas, Indonesia diharapkan dapat menurunkan angka kematian akibat kanker secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.