Liput – 12 April 2026 | Jakarta, 12 April 2026 – TNI Angkatan Laut (TNI AL) kembali menegaskan peran strategisnya dalam diplomasi militer dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui serangkaian program yang melibatkan kerja sama internasional, pelatihan teknis, dan inisiatif ekonomi. Pada periode dua hari terakhir bulan April, sejumlah pertemuan tingkat tinggi dan kegiatan lapangan menandai langkah konkret TNI AL dalam memperluas jaringan kerja sama dengan Amerika Serikat serta memberdayakan UMKM pesisir di Jawa Tengah.
Dalam rangka memperkuat sinergi pendidikan militer, Asisten Kepala Staf (Asops) Kasal Laksda Yayan Sofiyan menandatangani perjanjian kerja sama dengan Rear Admiral Katie Sheldon, Wakil Komandan 7th Fleet Command US Navy, pada forum Staff Talks yang diadakan 9–10 April di Wisma Elang Laut, Jakarta Pusat. Kesepakatan tersebut mencakup pengiriman taruna TNI AL ke United States Naval Academy serta ke Akademi US Coast Guard untuk program pendidikan dan latihan intensif. Ini merupakan lanjutan dari kerjasama yang telah berjalan pada periode sebelumnya, namun kali ini menambahkan dimensi baru dengan melibatkan US Coast Guard yang menekankan keamanan maritim, penegakan hukum laut, dan operasi penyelamatan.
Ketua Staf TNI AL Laksamana Muhammad Ali menegaskan bahwa program pertukaran taruna tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis dan taktis prajurit, tetapi juga memperkuat diplomasi militer Indonesia. “Kerja sama bilateral ini menambah rangkaian pencapaian tugas diplomasi angkatan laut guna mendukung diplomasi militer dan pertahanan antara Indonesia dan Amerika Serikat,” ujar Laksamana dalam keterangan resmi yang diterbitkan pada hari Minggu.
Selaras dengan kebijakan luar negeri bebas‑aktif yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, program ini juga mencerminkan komitmen Indonesia untuk memperluas jejaring pertahanan sambil tetap menekankan kemandirian nasional. Kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari Panglasa TNI Jenderal Agus Subiyanto, yang menilai bahwa kolaborasi dengan US Navy dan US Coast Guard dapat memperkaya pengetahuan TNI AL dalam bidang operasi laut modern.
Di sisi lain, TNI AL tidak hanya berfokus pada ranah militer. Pada hari yang sama, Pusat Teritorial Angkatan Laut (Pusteral) meluncurkan program pelatihan olahan hasil laut dan kedelai bagi 300 pelaku UMKM serta warga pesisir di Lanal Cilacap dan Lanal Tegal, Jawa Tengah. Program ini, yang diselenggarakan bekerja sama dengan FKS Group, bertujuan meningkatkan nilai jual produk lokal melalui transformasi bahan mentah menjadi produk olahan bernilai tinggi.
Komandan Pusteral Laksma A. Agung Pryo Suseno menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi laut yang melimpah namun nilai ekonomi masih terkendala oleh penjualan produk mentah. “Melalui pelatihan ini, kami berharap masyarakat dapat mengolah hasil laut dan kedelai secara mandiri, sehingga meningkatkan pendapatan dan ketahanan ekonomi daerah,” ujarnya.
Pelatihan mencakup materi teori, demonstrasi memasak, teknik pengolahan ikan, udang, kerang, serta pengembangan produk turunan kedelai seperti tempe, tahu, dan snack protein. Selain itu, program juga menyoroti pentingnya gizi seimbang untuk mengatasi stunting, dengan menekankan penggunaan bahan lokal yang kaya protein.
Beatrice Susanto, VP of ESG FKS Group, menambahkan bahwa kolaborasi ini memperluas jangkauan pemberdayaan ekonomi di kawasan pesisir. “FKS Empower berkomitmen memperkuat kapasitas UMKM agar dapat menciptakan produk kompetitif di pasar nasional maupun internasional,” kata Susanto.
Berbagai inisiatif ini juga mendapat sorotan dalam acara Coffee Morning yang digelar pada 9 April 2026 di Restoran Pule TMII, Jakarta Timur. Acara yang dipimpin oleh Asisten Intelijen Panglima TNI Mayjen Rio Firdianto mempertemukan 46 atase pertahanan dari 30 negara sahabat, serta perwakilan TNI AD, AL, dan AU. Diskusi menyoroti prosedur perizinan kapal, keamanan maritim, serta peran TNI AL dalam menjaga kedaulatan laut Indonesia.
Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan yang meliputi pendidikan militer di luar negeri, pelatihan ekonomi bagi masyarakat pesisir, dan diplomasi militer multinasional menegaskan posisi TNI AL sebagai instrumen strategis dalam memperkuat pertahanan, memperluas jaringan internasional, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Upaya ini diharapkan dapat menjadi model bagi institusi pertahanan lain dalam mengintegrasikan fungsi keamanan dengan pembangunan ekonomi berkelanjutan.