BMRI Tertekan: Investor Asyang Jual Besar, Harga Turun 2% di Tengah Gejolak Global

Liput – 09 April 2026 | Pasar saham Indonesia kembali berada di zona merah pada sesi perdagangan Rabu, 9 April 2026. Empat bank terbesar (big banks) mengalami tekanan jual bersih, dengan Bank Mandiri (BMRI) menurun 2,14% ke level Rp4.570 per lembar. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan aksi jual agresif investor asing yang menargetkan saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk BUMI, BNBR, GOTO, dan BBRI.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa investor asing melakukan net sell sebesar Rp1,11 triliun di seluruh pasar pada sesi I. Menurut Stockbit, total penjualan mencapai Rp3,56 triliun, sementara pembelian hanya Rp2,45 triliun. Meskipun demikian, di tengah tekanan jual, terdapat pola rotasi: investor asing melepas saham-saham besar dan beralih ke saham yang lebih selektif atau sektoral, seperti energi dan ritel.

Saham-saham yang paling banyak dilepas oleh asing meliputi:

  • BUMI: net sell 382,7 juta saham
  • BNBR: net sell 118,7 juta saham
  • GOTO: net sell 111,2 juta saham
  • BBRI: net sell 84,2 juta saham
  • BRPT: net sell 50,6 juta saham

Selain empat bank besar, tekanan jual juga dirasakan pada BMRI, ACES, BRMS, dan INET. Keberadaan aksi jual pada sektor perbankan menandakan bahwa investor global sedang melakukan profit taking atau mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Di sisi lain, investor asing tetap aktif mengakumulasi saham-saham di sektor energi, teknologi, dan ritel. Daftar saham yang menjadi target beli bersih (net foreign buy) meliputi:

  • ESSA: net buy 19,8 juta saham
  • BUKA: net buy 16,6 juta saham
  • NSSS: net buy 14,1 juta saham
  • KAQI: net buy 13,0 juta saham
  • COAL: net buy 12,3 juta saham
  • TAPG, MAPI, DEWA, EMTK, ERAA, ADMR juga termasuk dalam daftar borongan asing.

Penurunan nilai tukar rupiah menjadi faktor penting yang memicu kehati-hatian investor asing. Pada hari yang sama, rupiah melemah 0,46% menjadi Rp17.090 per dolar AS. Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menilai depresiasi rupiah dapat memperparah sentimen “wait and see” dan berpotensi mendorong Bank Indonesia untuk menaikkan BI‑Rate demi menahan inflasi. Kenaikan suku bunga dapat memperlambat pertumbuhan kredit bank serta meningkatkan rasio kredit bermasalah (NPL), yang pada gilirannya dapat menambah tekanan pada harga saham perbankan, termasuk BMRI.

Faktor geopolitik di Timur Tengah, penyesuaian indeks MSCI, serta dinamika penilaian lembaga pemeringkat juga menjadi variabel yang memperkeruh prospek pasar. Semua faktor tersebut bersinergi menurunkan kepercayaan investor terhadap saham-saham yang sebelumnya dianggap aman, seperti saham perbankan.

Meskipun BMRI tercatat sebagai salah satu saham yang mengalami penurunan, fundamental bank tetap kuat. Bank Mandiri mempertahankan portofolio kredit yang luas, dengan penyaluran kredit manufaktur yang tetap solid meski di tengah gejolak global. Namun, volatilitas pasar dan kebijakan moneter domestik menjadi tantangan utama yang harus dihadapi manajemen dalam menjaga profitabilitas dan likuiditas.

Secara keseluruhan, situasi pasar saham Indonesia pada awal April 2026 mencerminkan fase rotasi aset oleh investor asing: melepas saham-saham besar yang sudah mencapai valuasi tinggi, sambil mengincar peluang di sektor energi dan ritel yang dianggap lebih defensif. Bagi investor domestik, strategi diversifikasi dan pemantauan kebijakan moneter menjadi kunci untuk mengelola risiko dalam portofolio, terutama pada saham-saham perbankan seperti BMRI yang sensitif terhadap pergerakan nilai tukar dan suku bunga.