Liput – 08 April 2026 | Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan adanya pihak internal Kementerian Keuangan yang menyebarkan rumor bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya mampu bertahan selama dua pekan jika subsidi bahan bakar minyak (BBM) tidak dinaikkan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR pada Senin, 6 April 2026.
Purbaya menegaskan bahwa ia baru mengetahui adanya desas‑desus tersebut, meskipun sumbernya berasal dari dalam kementerian yang dipimpinnya. “Bahkan sumbernya bukan dari luar, malah dari Kementerian Keuangan sendiri yang menyebarkan isu‑isu seperti itu. Saya baru tahu, padahal menterinya saya, jadi saya agak bingung,” ujar Purbaya.
Menurutnya, rumor tersebut muncul di tengah ketegangan pasar minyak dunia, di mana harga minyak mentah diproyeksikan dapat mencapai US$ 100 per barel pada akhir tahun 2026. Untuk mengantisipasi skenario tersebut, Kementerian Keuangan telah melakukan serangkaian simulasi fiskal yang mencakup tiga level harga minyak: US$ 80, US$ 90, dan US$ 100 per barel. Hasil simulasi menunjukkan bahwa defisit APBN tetap berada dalam batas aman, yakni sekitar 2,9 % hingga 2,92 % dari Produk Domestik Bruto (PDB).
- Jika harga minyak rata‑rata US$ 80 per barel, defisit diperkirakan 2,5 % PDB.
- Pada harga US$ 90 per barel, defisit meningkat menjadi sekitar 2,7 % PDB.
- Dengan asumsi harga US$ 100 per barel, defisit tetap terkendali di 2,9 %–2,92 % PDB.
Purbaya menambahkan bahwa pemerintah telah menyiapkan kebijakan penyesuaian anggaran yang dapat menekan total belanja hingga 2,92 % dari PDB tanpa harus menaikkan subsidi BBM. “Kami siap tidak menaikkan BBM bersubsidi sampai akhir tahun 2026, dengan asumsi harga minyak dunia rata‑rata US$ 100 per barel sudah kami hitung,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa stabilitas fiskal Indonesia tidak terancam meskipun harga minyak dunia berada pada level tertinggi. “Defisit APBN tetap berada di bawah 4 % meski terjadi lonjakan harga minyak, berkat exercise fiskal yang kami lakukan berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto,” kata Purbaya.
Isu APBN hanya tersisa dua minggu sempat menimbulkan kepanikan di kalangan pelaku pasar dan publik. Namun, Purbaya menolak spekulasi tersebut dan menekankan bahwa perhitungan keuangan pemerintah telah memperhitungkan seluruh variabel eksternal, termasuk fluktuasi harga minyak, nilai tukar rupiah, dan pendapatan pajak.
Selama rapat kerja, Komisi XI DPR menanyakan langkah konkret apa yang akan diambil pemerintah untuk menjaga kesinambungan anggaran. Menanggapi, Purbaya menjelaskan bahwa Kementerian Keuangan telah menyiapkan paket penyesuaian belanja operasional, memperkuat penerimaan pajak, serta meningkatkan efisiensi penggunaan dana publik. “Kami akan terus memantau perkembangan pasar energi global dan menyesuaikan kebijakan fiskal secara dinamis,” pungkasnya.
Dengan klarifikasi tersebut, Menteri Keuangan berharap publik dapat memahami bahwa rumor tentang “APBN hanya tahan dua minggu” tidak berlandaskan data faktual. Ia menutup pertemuan dengan catatan optimisme bahwa ekonomi Indonesia tetap berada pada jalur pertumbuhan yang stabil, meski dihadapkan pada tantangan energi global.