Liput – 06 April 2026 | Jakarta, 5 April 2026 – Pertamina Nasional Renewable Energy (NRE) menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan US Grains & BioProducts Council (USGBC), lembaga yang mewakili produsen biji-bijian dan produk bio di Amerika Serikat, untuk memperluas pengembangan bioetanol di Indonesia. Kesepakatan ini menandai langkah strategis dalam rangka mempercepat transisi energi bersih serta mengoptimalkan potensi pertanian nasional sebagai bahan baku biofuel.

Kerjasama ini mencakup serangkaian program yang meliputi penelitian dan pengembangan (R&D), transfer teknologi, serta pembentukan ekosistem industri bioetanol yang terintegrasi. Kedua pihak sepakat untuk menggabungkan keahlian Pertamina NRE dalam pengolahan energi dengan pengetahuan USGBC tentang teknologi fermentasi modern dan manajemen rantai pasok biji-bijian.

Dalam acara penandatanganan yang dihadiri oleh pejabat tinggi Pertamina, perwakilan USGBC, serta delegasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Direktur Utama Pertamina NRE, Budi Santoso, menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam mengatasi tantangan ketergantungan pada bahan bakar fosil. “Kolaborasi dengan USGBC tidak hanya membawa teknologi terbaru, tetapi juga membuka akses pasar global bagi bioetanol Indonesia,” ujar Budi.

Baca juga:

Sementara itu, Ketua USGBC, Emily Carter, menyampaikan optimismenya terhadap potensi Indonesia sebagai produsen bioetanol kelas dunia. “Kami melihat adanya sinergi yang kuat antara sumber bahan baku lokal, terutama jagung, singkong, dan tebu, dengan kapabilitas produksi Pertamina. Bersama, kita dapat menghasilkan bioetanol dengan standar internasional dan menurunkan emisi karbon secara signifikan,” kata Emily.

Berikut adalah poin-poin utama dalam MoU tersebut:

Baca juga:
  • Pengembangan fasilitas pilot plant bioetanol di wilayah Jawa Barat, dengan kapasitas produksi awal 50.000 hektoliter per tahun.
  • Pelatihan teknis bagi tenaga ahli Indonesia oleh tim riset USGBC, mencakup proses pretreatment, fermentasi, dan pemurnian.
  • Penelitian bersama mengenai pemilihan varietas tanaman unggul yang memiliki kandungan pati tinggi untuk meningkatkan efisiensi konversi.
  • Skema pendanaan bersama, termasuk akses ke kredit hijau (green credit) dan hibah riset dari lembaga keuangan internasional.
  • Pembangunan jaringan distribusi bioetanol yang terintegrasi dengan stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) milik Pertamina.

Penguatan kolaborasi ini diharapkan dapat menambah kapasitas produksi bioetanol nasional yang saat ini masih berada di bawah 200.000 hektoliter per tahun. Pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan penggunaan bioetanol hingga 10% dalam campuran bahan bakar (E10) pada tahun 2030, selaras dengan komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) di bawah Paris Agreement.

Di sisi lain, industri pertanian Indonesia dapat memperoleh nilai tambah yang signifikan. Dengan mengalihkan sebagian produksi jagung dan singkong ke sektor biofuel, petani diharapkan memperoleh harga jual yang lebih stabil dan mengurangi volatilitas pasar komoditas tradisional. USGBC berencana membantu membangun skema kontrak berkelanjutan (sustainable contract) antara petani lokal dan Pertamina, sehingga tercipta kepastian pasokan bahan baku.

Baca juga:

Implementasi teknologi fermentasi terkini yang akan diadopsi meliputi penggunaan enzim selulase yang lebih efisien serta sistem pemantauan real-time berbasis Internet of Things (IoT). Hal ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menurunkan biaya operasional hingga 15% dibandingkan proses konvensional.

Selain aspek ekonomi, kolaborasi ini juga memiliki implikasi lingkungan yang signifikan. Bioetanol yang dihasilkan dari biomassa pertanian memiliki jejak karbon lebih rendah dibandingkan bensin konvensional. Analisis awal memperkirakan bahwa setiap liter bioetanol dapat mengurangi emisi CO2 sebesar 2,5 kilogram, sehingga kontribusi terhadap target penurunan emisi nasional dapat tercapai lebih cepat.

Baca juga:

Pemerintah melalui Kementerian ESDM menegaskan dukungan penuh terhadap inisiatif ini dengan menyediakan insentif fiskal, termasuk pembebasan pajak impor peralatan fermentasi dan pemotongan tarif listrik untuk fasilitas produksi bioetanol. Kebijakan ini diharapkan mempercepat realisasi proyek pilot dan menarik investasi tambahan dari sektor swasta.

Secara keseluruhan, sinergi antara Pertamina NRE dan US Grains & BioProducts Council mencerminkan arah baru dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani, memperluas basis industri hijau, dan mendukung komitmen iklim global. Dengan langkah konkret ini, Indonesia semakin mendekatkan diri pada visi negara maritim yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi di panggung energi internasional.

Baca juga: