Lululemon Dikecam oleh Texas: Apa Dampak PFAS pada Pakaian Olahraga Anda?

Liput – 17 April 2026 | Jakarta, 17 April 2026Lululemon, merek athleisure terkemuka asal Kanada, kembali menjadi sorotan publik setelah Texas Attorney General Ken Paxton mengumumkan penyelidikan resmi terkait keberadaan bahan kimia “forever chemicals” atau PFAS (per- dan polyfluoroalkyl substances) dalam produk-produknya. Penyelidikan ini muncul di tengah penurunan penjualan dan tekanan margin perusahaan, menambah beban krisis kepercayaan konsumen terhadap merek yang selama ini dikenal dengan kualitas tinggi dan inovasi bahan.

PFAS merupakan kelompok lebih dari 4.700 senyawa sintetis yang terkenal karena ketahanannya terhadap air, noda, lemak, serta suhu tinggi. Karena sifat tersebut, PFAS telah lama dipakai dalam pelapis tahan air, bahan anti-noda, dan produk industri lainnya. Namun, sifat tidak terurai selama ratusan hingga ribuan tahun membuatnya dijuluki “forever chemicals”. Penelitian awal mengaitkan paparan PFAS dengan gangguan endokrin, penurunan fertilitas, peningkatan risiko beberapa jenis kanker, serta dampak negatif pada sistem imun.

Menurut pernyataan Paxton, penyelidikan akan menelusuri apakah pakaian aktif Lululemon mengandung PFAS, serta menilai potensi risiko kesehatan bagi konsumen. “Kami tidak akan membiarkan perusahaan menjual bahan beracun dengan harga premium di bawah kedok kesehatan dan keberlanjutan,” tegas Paxton dalam siaran persnya tanggal 13 April 2026.

Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara Lululemon mengklaim bahwa perusahaan telah menghentikan penggunaan PFAS pada tahun fiskal 2023, khususnya pada produk dengan lapisan pelindung air yang hanya mencakup sebagian kecil dari rangkaian produk mereka. “Kami berkomitmen pada keselamatan tamu kami dan memastikan semua produk memenuhi atau melampaui standar regulasi global,” ujar juru bicara tersebut. Ia menambahkan bahwa Lululemon mensyaratkan vendor untuk melakukan pengujian rutin oleh lembaga pihak ketiga yang kredibel untuk memastikan tidak ada PFAS dalam pasokan mereka.

Namun, para ahli dan aktivis lingkungan menyoroti bahwa jejak PFAS dalam produk Lululemon masih pernah terdeteksi sebelumnya. Pada 2022, uji independen menemukan jejak fluorine—indikator umum keberadaan PFAS—pada pakaian beberapa merek aktif, termasuk Lululemon, Athleta, dan Old Navy. Penemuan tersebut memicu serangkaian pernyataan publik yang menuntut transparansi lebih besar dari produsen pakaian.

Lucy Siegle, jurnalis lingkungan, menekankan bahwa PFAS dapat terlepas saat pakaian dicuci atau mengalami gesekan intens, masuk ke saluran air dan akhirnya mencemari ekosistem. “Karena tidak terurai, bahan ini terus beredar dalam rantai makanan, menimbulkan potensi dampak jangka panjang pada kesehatan manusia dan satwa,” ujar Siegle.

Di sisi lain, ilmuwan Maddie Massy, yang dikutip dalam liputan 7NEWS, menjelaskan bahwa paparan PFAS melalui kulit dari pakaian Lululemon diperkirakan kecil. “Meskipun PFAS dapat dilepaskan saat pakaian dipakai atau dicuci, jumlah yang diserap kulit biasanya minimal,” jelasnya. Massy menyarankan konsumen untuk tidak menghindari pakaian lama secara drastis, melainkan mengurangi penggunaan berlebihan dan menghindari kondisi ekstrem seperti suhu tinggi atau gesekan berlebih.

Penyelidikan Texas ini juga menyoroti perbandingan dengan praktik industri lain. Sejumlah merek fashion global, termasuk H&M, M&S, serta supermarket Tesco, telah mengumumkan rencana penghapusan PFAS dari rantai pasokan mereka. Di pasar lokal, alternatif berbahan serat alami seperti BAM (Bamboo Clothing), MATE the Label, dan Girlfriend Collective menawarkan pilihan tanpa fluorine, yang dipandang lebih ramah lingkungan dan aman bagi konsumen.

Jika hasil penyelidikan mengkonfirmasi keberadaan PFAS dalam produk Lululemon yang masih beredar, perusahaan dapat menghadapi sanksi administratif, tuntutan hukum, serta penurunan penjualan yang signifikan. Namun, Lululemon menegaskan kesiapan mereka untuk berkooperasi penuh dengan otoritas Texas, menyediakan dokumentasi lengkap terkait bahan baku dan proses produksi.

Berita ini menambah daftar tantangan yang dihadapi Lululemon, termasuk perlambatan penjualan global dan tekanan margin yang semakin ketat. Konsumen kini semakin kritis terhadap klaim keberlanjutan dan kesehatan produk, menuntut transparansi yang lebih tinggi serta komitmen nyata dalam mengeliminasi bahan berbahaya.

Kesimpulannya, penyelidikan PFAS terhadap Lululemon menegaskan pentingnya pengawasan regulasi yang ketat terhadap bahan kimia dalam industri fashion. Sementara Lululemon mengklaim telah menghentikan penggunaan PFAS, bukti historis dan kekhawatiran konsumen menuntut verifikasi independen. Bagi pembeli, langkah paling bijak adalah memantau informasi terbaru, memilih produk dengan sertifikasi bebas PFAS, dan mengadopsi praktik perawatan pakaian yang meminimalkan pelepasan bahan kimia ke lingkungan.