Dubes Iran Boroujerdi Gelar Serangkaian Pertemuan dengan Megawati, Jusuf Kalla, dan Jokowi: Ungkap Alasan dan Harapan di Tengah Konflik Timur Tengah

Liput – 04 April 2026 | Jakarta, 4 April 2026 – Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, melakukan rangkaian pertemuan dengan sejumlah tokoh politik dan keagamaan Indonesia dalam kurun waktu satu bulan. Kunjungan tersebut mencakup pertemuan dengan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, serta Presiden ke-7 Joko Widodo di Solo, serta tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin. Dalam tiap pertemuan, Boroujerdi menegaskan alasan diplomatik, menyampaikan rasa terima kasih, serta menyerukan solidaritas Indonesia terhadap Iran yang tengah mengalami serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Berikut rangkaian kunjungan yang dilaksanakan:

  • 3 Maret 2026 – Pertemuan dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di kediamannya, Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan. Boroujerdi menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan politik Indonesia kepada Iran dan menjelaskan bahwa Iran menjadi korban serangan brutal yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel.
  • 10 Maret 2026 – Pertemuan dengan Presiden ke-5, Megawati Soekarnoputri, di kediamannya di Menteng, Jakarta Pusat. Megawati menyampaikan pesan kepada Ayatollah Mojtaba Khamenei serta mengharapkan peran aktif Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam menghentikan invasi sepihak di Timur Tengah.
  • 1 April 2026 – Pertemuan dengan Presiden ke-7, Joko Widodo, di kediamannya di Solo. Boroujerdi memberikan laporan terkini tentang situasi di Iran, menyampaikan duka cita atas tiga prajurit TNI yang gugur dalam misi penjaga perdamaian di Lebanon, serta menegaskan dukungan Indonesia sebagai fasilitator perdamaian.
  • 3 April 2026 – Pertemuan dengan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin, di Pondok Labu, Jakarta Selatan. Din menyampaikan doa bagi bangsa Iran, menyerukan persatuan umat Islam, serta menegaskan pentingnya al‑ukhuwwah al‑imaniyyah di tengah konflik geopolitik.

Dalam setiap pertemuan, Boroujerdi menekankan tiga poin utama. Pertama, rasa terima kasih kepada Indonesia yang telah menyuarakan keprihatinan dan belasungkawa atas serangan yang menimpa Iran. Kedua, penyampaian laporan situasi terbaru di Iran, termasuk serangan udara yang dilakukan oleh koalisi Amerika‑Israel serta dampaknya terhadap infrastruktur sipil. Ketiga, ajakan kepada Indonesia untuk bergabung dalam kampanye anti‑perang, baik melalui diplomasi maupun doa, dengan harapan Indonesia dapat berperan sebagai mediator yang netral di antara pihak‑pihak yang berkonflik.

Menurut pernyataan Boroujerdi, kunjungan ini tidak sekadar ritual diplomatik, melainkan upaya konkret “safari diplomasi” untuk menggalang dukungan internasional melawan apa yang ia sebut sebagai agresi “zionis” dan “imperialis”. Ia menyoroti bahwa Indonesia, sebagai negara mayoritas Muslim dan anggota Gerakan Non‑Blok, memiliki posisi strategis untuk menyuarakan penolakan terhadap penggunaan kekuatan militer dalam menyelesaikan sengketa.

Megawati dalam percakapannya menegaskan pentingnya revitalisasi PBB sebagai lembaga yang dapat menegakkan keadilan dan menghormati kedaulatan negara‑negara merdeka. Ia berharap bahwa melalui dialog konstruktif, konflik di Timur Tengah dapat diatasi tanpa melibatkan intervensi militer yang merusak.

Jusuf Kalla menambahkan bahwa solidaritas Indonesia terhadap Iran mencerminkan nilai-nilai persahabatan yang telah terjalin sejak era Orde Baru, dan menekankan bahwa dukungan moral harus diiringi dengan upaya konkret, termasuk kemungkinan mediasi di wilayah strategis seperti Selat Hormuz.

Jokowi, dalam pertemuan tertutup yang berlangsung hampir dua jam, menegaskan bahwa Indonesia akan terus menjaga hubungan diplomatik yang baik dengan Iran, sekaligus menekankan bahwa kebijakan terkait kapal Indonesia di Selat Hormuz merupakan ranah pemerintah. Ia menyambut baik ajakan Boroujerdi untuk kampanye anti‑perang, dan menekankan pentingnya perdamaian global demi stabilitas ekonomi dan keamanan regional.

Din Syamsuddin, mewakili komunitas Muslim Indonesia, menekankan bahwa persatuan umat Islam lintas mazhab sangat penting dalam menghadapi tekanan eksternal. Ia mengutip seruan Imam Besar Al‑Azhar untuk bersatu, serta mengajak semua lapisan masyarakat Indonesia untuk mendoakan kemenangan moral Iran serta mengutuk pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Israel.

Selain menyampaikan rasa terima kasih, Boroujerdi juga mengingatkan kembali kunjungan Presiden Iran sebelumnya, Ebrahim Raisi, ke Indonesia pada tahun 2023, yang bertemu dengan Jokowi. Ia menilai kunjungan tersebut menunjukkan komitmen kedua negara untuk memperkuat kerja sama di bidang ekonomi, energi, dan kebudayaan.

Secara keseluruhan, rangkaian pertemuan ini mencerminkan upaya Iran untuk memperluas jaringan diplomatiknya di Asia Tenggara, sekaligus menguji seberapa besar Indonesia bersedia menjadi suara yang menentang agresi militer. Dengan menonjolkan nilai solidaritas, doa, dan dukungan politik, Boroujerdi berharap Indonesia dapat menjadi jembatan dialog antara Iran dan komunitas internasional, serta membantu meredakan ketegangan yang kini mengancam stabilitas regional.

Pengembangan hubungan bilateral ini diperkirakan akan terus berlanjut, mengingat dinamika geopolitik yang terus berubah. Pemerintah Indonesia belum mengumumkan langkah konkret selanjutnya, namun pernyataan para tokoh yang ditemui menegaskan komitmen bersama untuk menjaga perdamaian, menghormati kedaulatan, dan mempromosikan dialog sebagai jalan keluar dari konflik.