Liput – 15 April 2026 | Pelatih asal Australia, Graham Arnold, kini berada di pusat sorotan internasional setelah berhasil mengantarkan tim nasional Irak ke Piala Dunia 2026, pertama kalinya dalam empat dekade. Keberhasilan kualifikasi ini menjadikannya pelatih pertama dari Australia yang membimbing tim negara lain ke turnamen dunia senior, sebuah prestasi yang menambah catatan sejarah sepakbola Asia.
Arnold, yang akan berusia 63 tahun pada bulan Agustus, menegaskan bahwa kontraknya berakhir tepat setelah fase grup Piala Dunia, dan ia belum menandatangani perjanjian apapun untuk melanjutkan. “Buku masih terbuka, kontrak selesai setelah Piala Dunia,” ujar Arnold dalam sebuah wawancara dengan media setempat. Ia menambahkan bahwa meski ada pembicaraan informal tentang kemungkinan tetap, ia belum siap membuat keputusan formal.
Di balik sorotan media, Arnold menghabiskan minggu-minggu terakhir menyiapkan skuad Irak untuk menghadapi tiga lawan tangguh di grup: Prancis, Norwegia, dan Senegal. Ia juga aktif memantau pemain dual‑eligible yang dapat memperkuat lini serang, seperti Charbel Shamoon, bek kanan Perth Glory, dan Ali Auglah, penyerang kelahiran Sydney yang memiliki akar Irak namun pernah bermain untuk tim muda Australia. Kedua pemain tersebut dipertimbangkan untuk menambah variasi taktik dalam laga melawan tim‑tim Eropa.
Perayaan kemenangan 2‑1 melawan Bolivia pada fase play‑off menandai momen emosional bagi bangsa Irak. Arnold dan pemainnya disambut sebagai pahlawan, bahkan ia sempat bertemu langsung dengan Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia al‑Sudani. Kembali ke Australia, kerumunan suporter Irak di bandara Sydney menunggu kedatangan mereka, menciptakan suasana yang tak terlupakan. “Saat keluar dari pesawat, petugas keamanan menanyakan siapa Graham Arnold. Saya menjawab, ‘Saya melatih Irak’, dan semua orang terkejut,” kata Arnold mengingat kembali pengalaman tersebut.
Meski sorotan utama terpusat pada Piala Dunia, Arnold juga dihadapkan pada pilihan kompetisi berikutnya. Irak telah mengamankan tempat di Piala Asia 2027 yang akan diselenggarakan di Arab Saudi, dan pencapaian tersebut dapat menjadi tantangan baru bagi sang pelatih. Namun, Arnold mengaku bahwa ia belum memutuskan apakah akan melanjutkan peran di Irak atau mencari tantangan baru di negara lain yang belum pernah menembus Piala Dunia.
Strategi Arnold menekankan pada mentalitas underdog. Ia menegaskan bahwa tim Irak tidak perlu merasa terintimidasi oleh lawan‑lawannya, terutama Norwegia yang dipimpin oleh Erling Haaland, serta Prancis yang menampilkan bintang dunia Kylian Mbappé. “Kami tahu posisi kami sebagai tim outsider, tetapi kami akan bermain dengan keberanian dan disiplin,” katanya.
Keputusan Arnold setelah Piala Dunia akan menjadi sorotan selanjutnya, mengingat ia dianggap salah satu pelatih paling berpengalaman di kawasan Asia. Jika ia memilih untuk tetap, Irak dapat memiliki kepemimpinan stabil menjelang Piala Asia. Sebaliknya, kepergiannya dapat membuka peluang bagi pelatih lokal atau kandidat internasional lainnya, sekaligus menguji kemampuan federasi Irak dalam mempertahankan momentum kualifikasi.
Dengan kontrak yang akan berakhir setelah pertandingan pembuka melawan Norwegia pada 17 Juni, masa depan Graham Arnold masih menjadi pertanyaan terbuka. Apa pun keputusan yang diambil, prestasinya menginspirasi banyak pelatih muda di Australia dan Asia, serta menegaskan bahwa dedikasi dan taktik yang tepat dapat mengubah nasib sebuah tim di panggung dunia.