Liput – 13 April 2026 | London, 13 April 2026 – Arsenal kembali menelan kekalahan mengejutkan di kandang sendiri setelah dijatuhkan 1-2 oleh Bournemouth pada pekan ke-32 Liga Inggris. Kegagalan ini menambah tekanan pada manajer Mikel Arteta, yang kini berada di ujung tanduk setelah sebelumnya menelan serangkaian kegagalan di kompetisi domestik.
Sejak awal musim, The Gunners tampil impresif, menguasai peringkat puncak klasemen dan menyisakan jarak lima poin dari Manchester City. Namun, kekalahan melawan Bournemouth menguak dua masalah utama yang menggerogoti performa tim: ketajaman menyerang yang menurun di depan dan kelengahan defensif di belakang.
Menurut catatan pertandingan, Arsenal menguasai bola sejak menit pertama dan menciptakan peluang berulang, namun gagal mengeksekusi dengan efektif. Gol pembuka Bournemouth pada menit ke-17 oleh Eli Junior Kroupi datang dari serangan balik cepat, memanfaatkan kebingungan pertahanan Arsenal setelah sebuah bola liar masuk ke dalam kotak penalti. Arsenal sempat menyamakan kedudukan pada menit ke-35 lewat penalti Viktor Gyokeres setelah wasit menunjuk titik putih akibat handball Ryan Christie.
Setelah menyamakan skor, Arsenal meningkatkan intensitas serangan dan hampir menambah keunggulan melalui gol kedua Gyokeres yang kemudian dianulir karena offside. Namun, kegagalan defensif kembali mengintai pada menit ke-74 ketika Bournemouth memanfaatkan serangan balik cepat, menyiapkan Alex Scott yang menutup pertandingan dengan gol penentu.
Setelah peluit akhir, Arteta mengaku sangat kecewa, menyebut hasil tersebut “pukulan telak di wajah”. Ia menegaskan tim harus bangkit dan menanggapi setiap pertandingan layaknya final. Namun, komentar tersebut tidak menghentikan spekulasi media mengenai nasibnya. Beberapa laporan mengindikasikan bahwa jika Arsenal gagal mengamankan gelar Premier League, manajemen dapat mengambil langkah drastis, termasuk mengganti Arteta dengan mantan kapten klub, Cesc Fabregas.
Fabregas, yang kini melatih Como di Serie A, menjadi sorotan utama. Keberhasilannya membawa Como bersaing di papan atas liga Italia menambah kredibilitasnya sebagai calon pengganti. Media Spanyol Mundo Deportivo bahkan menyebut Fabregas sebagai “pilihan utama” jika Arsenal memutuskan untuk beralih kepemimpinan teknis. Fabregas pernah menghabiskan hampir satu dekade di Arsenal sebagai gelandang kreatif, membantu klub mencapai final Liga Champions pada era Arsène Wenger.
Di sisi lain, tekanan pada Arteta tidak hanya datang dari hasil di liga. Arsenal juga baru saja kalah di final Carabao Cup melawan Manchester City dan tersingkir dari Piala FA oleh Southampton. Kombinasi kegagalan di tiga kompetisi utama menurunkan kepercayaan pendukung dan menambah beban mental pada skuad.
Meski begitu, ada harapan di lini pemain. Kai Havertz, yang baru saja mencetak gol dramatis melawan Sporting CP di Liga Champions, menunjukkan bahwa Arsenal masih memiliki potensi untuk bersaing di panggung Eropa. Penjaga gawang David Raya juga mendapat pujian atas aksi-aksi pentingnya. Namun, konsistensi tetap menjadi pertanyaan besar, terutama mengingat pertahanan yang mudah ditembus oleh serangan cepat lawan.
Manajemen Arsenal dikabarkan telah menyiapkan beberapa langkah kontinjensi. Selain mengamankan Fabregas sebagai opsi, klub juga mempertimbangkan pergerakan pemain di pasar transfer, termasuk kemungkinan menjual atau meminjamkan beberapa pemain yang belum menunjukkan performa optimal. Namun, keputusan akhir masih menunggu perkembangan selanjutnya di liga.
Dengan sisa beberapa pekan musim, Arsenal harus mengembalikan performa ke level yang seharusnya. Jika tidak, tekanan terhadap Artura dapat berujung pada perubahan struktural yang signifikan, termasuk pengangkatan pelatih baru. Bagi pendukung Arsenal, pertanyaan utama kini: apakah Arteta dapat memperbaiki kekurangan di lini depan dan belakang, ataukah Fabregas akan segera menapaki kursi kepelatihan di Emirates?