Pinkan Mambo Bikin Live TikTok di Pinggir Jalan, Cuan Jutaan dan Pedagang Meraup Rezeki

Liput – 05 April 2026 | Jakarta, 4 April 2026 – Penyanyi pop era 2000-an yang dulu bersinar bersama duo Ratu kini memukau netizen dengan aksi live streaming di TikTok sambil ngamen di pinggir jalan Sepatan, Tangerang Selatan. Pinkan Ratnasari Mambo, yang akrab dipanggil Pinkan Mambo, mengubah trotoar menjadi panggung digital, memadukan hiburan, ekonomi mikro, dan aksi sosial dalam satu paket yang menarik ribuan mata penonton daring.

Setiap kali memulai siaran, Pinkan menyiapkan perlengkapan sederhana: mikrofon nirkabel, gigi‑gigi mini, dan sebuah gerobak kecil berisi speaker serta perlengkapan panggung mini. Ia mengenakan rok mini khas dangdut keliling, lengkap dengan sun cream ber‑SPF tinggi untuk melindungi kulitnya dari terik matahari. “Sebelum dan sesudah makeup, saya pakai sun cream supaya tidak kulitnya belang,” ujarnya sambil menyiapkan makeup di tepi trotoar. Kombinasi pakaian flamboyan dan perlindungan kulit menjadi ciri khas penampilannya yang tetap bersinar meski berada di luar ruangan.

Model bisnis live TikToknya tidak hanya mengandalkan hadiah (gift) dari penonton. Setiap kali seorang ‘Sultan’ atau penonton memberikan saweran, kamera langsung menyorot angka yang menanjak. Dalam satu sesi yang berlangsung antara 11.00 hingga 16.00 WIB, Pinkan mampu mengumpulkan hingga Rp 26‑30 juta, tergantung pada intensitas interaksi dan cuaca. “Kalau hari mujur, cuan bisa lewat 30 juta dalam empat jam,” katanya sambil menertawakan kondisi fisik yang kadang lelah karena cuaca ekstrem.

Penghasilan besar itu tidak hanya mengalir ke kantong artis. Pedagang kaki lima di sekitar lokasi siaran melaporkan peningkatan penjualan secara signifikan. Saat Pinkan mulai bernyanyi, kerumunan penonton berkumpul, menambah arus pembeli bagi penjual makanan ringan, minuman, serta perlengkapan ponsel. Beberapa pedagang mengaku pendapatan harian mereka naik hingga tiga kali lipat dibandingkan hari biasa. “Dulu kami cuma jual gorengan, sekarang tiap ada live Pinkan, penjualan minuman dingin kami melambung,” ujar salah satu penjual di Sepatan.

Selain keuntungan finansial, Pinkan menekankan aspek sosial. Ia rutin menyumbangkan sebagian hadiah kepada masjid dan gereja setempat, serta membagikan makanan kepada warga sekitar. “Kita bagi‑bagi rejeki juga sama orang kecamatan,” jelasnya, menegaskan hubungan baik dengan pihak berwenang setempat. Aksi tersebut mendapatkan pujian dari sebagian netizen, meski tetap menuai kritik dan pro‑kontra terkait penggunaan ruang publik untuk hiburan daring.

Bergerak dari dunia musik ke panggung digital bukan keputusan tiba‑tiba. Setelah berkarier di grup Ratu bersama Maia Estianty, Pinkan sempat menempuh pendidikan tinggi di Universitas Trisakti, jurusan Ekonomi. Meskipun terpaksa menunda kuliah karena jadwal tur yang padat, pengetahuan ekonominya kini membantu mengelola pendapatan live streaming, bisnis kuliner, serta brand fashion “Pinkanmambo Collection”.

Selain menyanyi, Pinkan pernah mengelola “Pinkanmambo’s Kitchen”, sebuah kafe yang menonjolkan menu tradisional Indonesia, serta “Pinkanmambo Singing Academy” yang menawarkan kelas vokal dengan tarif Rp 500 ribu per bulan untuk reguler dan Rp 1 juta untuk privat. Meskipun beberapa usaha mengalami pasang surut, ia tetap menekankan pentingnya diversifikasi sumber pendapatan di era digital.

Strategi konten Pinkan juga sangat terstruktur. Ia menggabungkan tantangan unik, seperti menari sambil menyeimbangkan gerobak, atau menguji stamina dengan bernyanyi dalam suhu di atas 35 derajat Celsius. Setiap tantangan dirancang untuk memicu interaksi penonton, meningkatkan durasi siaran, dan pada gilirannya, meningkatkan hadiah yang diberikan. “Kami tidak hanya ngamen, kami juga menghibur dan mengedukasi penonton tentang pentingnya melindungi kulit,” tambahnya sambil menepuk sunscreen di wajah.

Fenomena ini menandakan pergeseran paradigma dalam industri hiburan Indonesia. Artis yang dulu mengandalkan kontrak rekaman dan konser kini dapat memanfaatkan platform media sosial untuk menghasilkan pendapatan langsung dari penonton, sekaligus memberikan dampak positif pada ekonomi mikro lokal. Bagi pedagang pinggir jalan, kehadiran Pinkan menjadi sumber peluang baru, sementara bagi artis, ini menjadi cara bertahan yang halal dan kreatif di tengah tantangan industri musik tradisional.

Ke depannya, Pinkan berencana memperluas jangkauan siaran ke kota‑kota lain, sekaligus meningkatkan kolaborasi dengan pelaku usaha lokal. Ia berharap model ini dapat menjadi contoh bagi seniman lain yang ingin menggabungkan kreativitas, kemandirian ekonomi, dan tanggung jawab sosial dalam satu panggung – bahkan di trotoar sekalipun.