Liput – 10 April 2026 | Jakarta – Pemerintah Indonesia mempercepat transisi kendaraan bermotor dengan menggerakkan program konversi motor bensin menjadi listrik di seluruh nusantara. Upaya ini didukung oleh para pelaku industri, termasuk United Motor Electric yang baru-baru ini menyuarakan dukungan kuatnya, serta kebijakan strategis Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yang menargetkan produksi motor listrik domestik untuk pasar dalam negeri dan menyiapkan motor berbahan bakar fosil (BBM) khusus ekspor.
Menurut Tomy Huang, pendiri Bintang Racing Team, bengkel konversi di Indonesia terbagi menjadi dua tipe utama. Tipe pertama muncul secara alami dari kebutuhan mengubah motor konvensional menjadi listrik, kemudian berkembang menjadi usaha khusus konversi. Tipe kedua merupakan bengkel motor bensin tradisional yang menambah keahlian konversi untuk memperluas layanan. “Motivasi kami ada dua, pertama yang memang lahir dari konversi, dan kedua bengkel yang ingin menambah keahlian,” ujar Tomy dalam wawancara dengan Kompas.com.
Namun, jumlah bengkel yang sudah tersertifikasi masih terbatas. Sertifikasi dibutuhkan karena proses konversi memerlukan keahlian khusus serta harus memenuhi persyaratan Sertifikat Uji Tipe (SUT) dan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No PM 65/2020. Mekanik Abdul dari Dolland Motor Electric menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan pada aspek teknis, melainkan pada birokrasi perizinan yang “ribet”. Ia menambahkan, meski sudah memiliki sertifikasi mekanik, bengkel masih harus “menumpang” pada bengkel yang sudah bersertifikasi resmi, biasanya BRT, untuk dapat beroperasi secara mandiri.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang diumumkan pada awal April 2026 menegaskan arah produksi motor nasional. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa motor listrik (molis) akan difokuskan untuk pasar domestik, sementara motor berbahan bakar fosil tetap diproduksi untuk tujuan ekspor, terutama ke Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Selatan. “Kita tidak menghentikan produksi motor konvensional, tetapi akan mengarahkannya ke pasar ekspor,” katanya, menambahkan bahwa regulasi baru sedang disiapkan untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik.
Langkah tersebut selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang dalam rapat kerja kabinet pada 8 April 2026 menargetkan produksi massal sedan listrik pada tahun 2028. Prabowo menekankan bahwa program elektrifikasi 100 GW akan menjadi fondasi transisi energi bersih Indonesia, dengan harapan dalam 2‑3 tahun ke depan negara tidak lagi bergantung pada impor BBM. “Kami berharap dalam dua tahun ke depan produksi motor listrik domestik dapat mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri,” ujarnya.
United Motor Electric, perusahaan yang dikenal dengan inovasi konversi motor listrik, juga mengeluarkan pernyataan dukungan. CEO United menegaskan bahwa jaringan bengkel konversi perlu diperluas secara merata, mulai dari Jawa hingga Papua, agar konsumen di seluruh Indonesia dapat mengakses solusi listrik dengan biaya terjangkau. “Subsidi pemerintah sebesar Rp 6,5 juta per motor konversi menjadi katalis penting, namun tanpa infrastruktur bengkel bersertifikasi, program ini tidak akan maksimal,” kata sang bos.
Untuk memfasilitasi pertumbuhan ini, pemerintah telah menyiapkan subsidi sebesar Rp 10 juta per motor konversi di beberapa daerah, termasuk Solo, dan mengajak produsen motor listrik lokal untuk meningkatkan kapasitas produksi. Daftar bengkel bersertifikasi dapat diakses melalui portal resmi Kementerian Perhubungan, memungkinkan pemilik motor mengidentifikasi layanan yang sah.
Berbagai tantangan masih harus diatasi, antara lain kurangnya pemahaman masyarakat tentang perbedaan antara sertifikasi mekanik dan sertifikasi bengkel, serta hambatan administrasi yang memperlambat proses perizinan. Pelaku industri seperti Abdul menekankan pentingnya edukasi publik agar konsumen tidak ragu beralih ke motor listrik yang telah teruji secara resmi.
Secara keseluruhan, sinergi antara kebijakan pemerintah, dukungan politisi, dan inisiatif pelaku industri seperti United Motor Electric serta bengkel konversi tradisional membentuk ekosistem yang berpotensi mengakselerasi elektrifikasi transportasi di Indonesia. Jika regulasi, subsidi, dan sertifikasi dapat dijalankan secara konsisten, target produksi massal motor listrik domestik dan sedan listrik 2028 tampak semakin realistis.