Liput – 10 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026 – Kepala Badan Pengelola Keuangan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), Budi Setiawan, menyampaikan bahwa Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sedang mempertimbangkan opsi ambil alih PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) guna mengatasi beban utang proyek kereta cepat Jakarta‑Bandung yang terus menumpuk. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Wisma BP BUMN, sekaligus menyoroti dinamika restrukturisasi BUMN di masa pemerintahan saat ini.
Menurut data internal Kemenkeu, total utang KCIC telah melampaui Rp 150 triliun, dipicu oleh penurunan pendapatan tiket, biaya konstruksi yang melebihi anggaran, dan penundaan operasional akibat permasalahan teknis. Pemerintah menilai bahwa tanpa intervensi strategis, proyek tersebut dapat menimbulkan risiko fiskal yang signifikan bagi negara.
Budi Setiawan menjelaskan tiga skenario utama yang sedang dievaluasi:
- Pembiayaan kembali melalui penerbitan obligasi negara dengan jaminan aset KCIC.
- Restrukturisasi saham dengan menambah kepemilikan Kemenkeu dan mengurangi porsi saham mitra asing.
- Pengambilalihan penuh oleh Kemenkeu, di mana KCIC akan menjadi BUMN yang dikelola langsung oleh pemerintah.
“Kami sedang menilai mana yang paling efektif dalam melindungi kepentingan fiskal negara sekaligus memastikan proyek tetap dapat diselesaikan,” kata Setiawan. “Pengambilalihan penuh menjadi opsi terakhir bila restrukturisasi tidak mampu menurunkan beban utang secara memadai.”
Sementara itu, dalam upaya memperkuat ekosistem BUMN, pemerintah baru-baru ini menyetujui pembentukan perusahaan baru bernama Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) oleh Danantara Investment Management (DIM). Denera akan memegang kendali penuh atas saham dan operasional proyek sampah menjadi energi listrik (PSEL) di 33 provinsi, menandai langkah strategis dalam mengintegrasikan pengelolaan sampah nasional.
Fadli Rahman, Lead of Waste-to-Energy dan Director of Investment DIM, menegaskan bahwa Denera tidak hanya akan mengoperasikan fasilitas WTE, tetapi juga meningkatkan tingkat pengambilan sampah, mengembangkan TPS3R, hingga mengelola sampah industri. “PSEL adalah katalis bagi pengelolaan sampah terintegrasi, dan Denera akan menjadi contoh BUMN baru yang berorientasi pada keberlanjutan,” ujarnya.
Pengalaman Danantara dalam menggalang investasi senilai US$10 miliar bersama ACWA Power menunjukkan bahwa pemerintah tengah mendorong kemitraan strategis antara BUMN baru dan investor asing untuk proyek infrastruktur kritis. Hal ini memberi konteks penting bagi diskusi pengambilalihan KCIC, di mana pemerintah berusaha menyeimbangkan antara kontrol nasional dan kebutuhan akan modal serta keahlian teknis.
Para analis ekonomi menilai bahwa pengambilalihan KCIC dapat membuka ruang bagi restrukturisasi utang yang lebih fleksibel, sekaligus memungkinkan sinergi dengan inisiatif BUMN lainnya, termasuk Denera. “Jika KCIC menjadi BUMN, pemerintah dapat mengoptimalkan pendanaan melalui mekanisme BUMN yang lebih terintegrasi, misalnya mengalihkan sebagian pendapatan ke proyek energi bersih seperti PSEL,” ujar seorang pakar kebijakan publik.
Namun, skeptisisme tetap ada. Beberapa pengamat mengingatkan bahwa pengelolaan BUMN yang terlalu luas dapat menimbulkan beban birokrasi dan menurunkan efisiensi operasional. “Kunci keberhasilan terletak pada tata kelola yang transparan dan akuntabel,” kata seorang analis keuangan senior.
Di sisi lain, Kemenkeu menegaskan komitmen untuk menjaga kepentingan publik. “Kami tidak akan mengambil alih secara semena‑mena, melainkan melalui proses yang melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk DPR, BUMN, dan mitra strategis,” jelas juru bicara Kemenkeu.
Dengan opsi pengambilalihan KCIC yang sedang dipertimbangkan dan peluncuran Denera sebagai BUMN baru di sektor energi bersih, pemerintah tampak berupaya memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui diversifikasi aset BUMN. Langkah ini diharapkan dapat menurunkan risiko fiskal sekaligus mempercepat transisi Indonesia menuju ekonomi hijau.
Jika keputusan akhir mengarah pada pengambilalihan, proses integrasi KCIC ke dalam struktur BUMN akan melibatkan audit menyeluruh, penyesuaian manajemen, dan penyusunan rencana bisnis baru yang selaras dengan agenda pembangunan nasional. Sementara itu, proyek PSEL oleh Denera akan terus berlanjut, dengan tiga lokasi pertama di Bekasi, Badung, dan Bogor yang telah memenangkan tender pada tahap pertama.
Secara keseluruhan, langkah-langkah ini menandai perubahan signifikan dalam kebijakan BUMN Indonesia, dimana pemerintah tidak hanya berfokus pada penyelamatan proyek yang bermasalah, tetapi juga pada penciptaan entitas baru yang mendukung agenda keberlanjutan dan kemandirian energi.