Liput – 06 April 2026 | Pertandingan pekan ke-26 BRI Super League 2025/2026 yang digelar di Stadion Gelora Madura Ratu Pamellingan, Pamekasan, pada Minggu 5 April 2026 menjadi sorotan utama tidak hanya karena hasil akhir 3-1 yang mendulang tiga poin penuh bagi Borneo FC, tetapi juga karena insiden pelemparan batu ke arah bus pemain Borneo FC yang melibatkan oknum suporter Madura United. Kemenangan tersebut menambah tekanan pada Madura United yang kini berada di zona merah klasemen dengan hanya 20 poin dan menempati posisi ke-16.
Pelatih Borneo FC, Fabio Lefundes, menyampaikan rasa syukur atas tiga poin penting yang diraih, namun tidak menutup diri dari kritik terhadap performa timnya. “Hasil tentu bagus, tetapi performa kami belum terlalu bagus,” kata Lefundes dalam konferensi pers sesudah laga. Ia menyoroti kondisi cuaca yang panas serta ritme permainan yang terhenti beberapa minggu terakhir sebagai faktor yang memengaruhi kualitas permainan. Selain itu, lima pergantian pemain dilakukan sebagian besar karena masalah kebugaran; beberapa pemain mengalami flu dan kelelahan akibat suhu tinggi.
Di sisi lain, Madura United mengalami kegagalan tak hanya di atas lapangan, tetapi juga di luar lapangan. Setelah gol ketiga Borneo FC, sejumlah oknum suporter Madura United melemparkan batu ke arah bus Borneo FC yang sedang menuruni lapangan. Insiden ini memicu reaksi keras dari Panitia Pelaksana (Panpel) Madura United yang segera mengeluarkan permintaan maaf resmi kepada Borneo FC serta mengutuk keras tindakan tersebut. Ketua Panpel, Mohammad Alwi, menegaskan bahwa rivalitas dalam sepak bola seharusnya hanya berlangsung selama 90 menit di dalam lapangan, dan nilai kebersamaan serta persaudaraan harus tetap dijaga di luar itu.
Alwi menambahkan bahwa nilai lokal Madura, seperti semangat “Maduraji” yang menekankan damai, rukun, dan terpuji, harus menjadi landasan perilaku suporter. Ia juga mengungkapkan kesiapan klub untuk bekerja sama dengan aparat penegak hukum dalam proses penyelidikan, menegaskan tidak ada pembenaran atas tindakan kekerasan tersebut.
Secara statistik, hasil 3-1 meningkatkan selisih gol Borneo FC menjadi +12, sementara Madura United kini memiliki selisih gol -15. Berikut ringkasan singkat klasemen setelah laga tersebut:
| Posisi | Tim | Poin | Selisih Gol |
|---|---|---|---|
| 1 | Persib Bandung | 42 | +22 |
| 2 | Borneo FC | 38 | +12 |
| 16 | Madura United | 20 | -15 |
Kemenangan Borneo FC tidak hanya mengamankan tiga poin penuh, tetapi juga memperkuat posisi mereka dalam perburuan tempat finis papan atas. Lefundes menegaskan bahwa fokus tim tetap pada setiap laga, tanpa tergoda untuk terlalu memikirkan posisi pesaing. “Kami selalu menekankan fokus pada pertandingan demi pertandingan, bukan pada apa yang tim lain lakukan,” ujarnya.
Sementara itu, Madura United harus segera memperbaiki performa mereka di lapangan. Kritik tajam muncul terhadap pelatih dan manajemen atas strategi yang dinilai kurang efektif, terutama setelah kekalahan telak dan insiden di luar lapangan. Beberapa analis berpendapat bahwa klub membutuhkan perubahan taktik serta penegakan disiplin yang lebih ketat terhadap suporter.
Insiden bus dan performa di atas lapangan menjadi dua sisi mata uang yang sama: keduanya menyoroti pentingnya sportivitas dan profesionalisme dalam kompetisi sepak bola Indonesia. Jika Madura United ingin keluar dari zona merah, mereka harus memperbaiki aspek taktis, memperkuat kebugaran pemain, serta menegakkan standar perilaku yang lebih tinggi bagi suporter. Borneo FC, di sisi lain, dapat memanfaatkan momentum ini untuk terus menancapkan diri di puncak klasemen, asalkan mereka meningkatkan konsistensi permainan.
Dengan sisa beberapa pekan lagi musim ini, pertarungan di papan atas semakin ketat, sementara perjuangan melawan degradasi menjadi agenda utama bagi Madura United. Kedua tim akan kembali bertemu di laga selanjutnya, memberi kesempatan bagi masing‑masing untuk memperbaiki catatan mereka.