Liput – 15 April 2026 | Manuel Pellegrini, pelatih asal Chile berusia 72 tahun, kembali menjadi sorotan dunia sepakbola setelah menegaskan komitmennya dengan Real Betis untuk musim depan. Keputusan ini bukan sekadar perpanjangan kontrak biasa; ia mencerminkan kepercayaan penuh klub Spanyol tersebut pada visi taktis dan pengalaman internasional sang “Manu”.
Pellegrini memulai kariernya di tanah kelahirannya, memimpin tim-tim lokal sebelum menancapkan jejaknya di Eropa. Setelah sukses di Malaga dan Valencia, ia melangkah ke Liga Premier Inggris bersama West Ham United, namun puncak kariernya di Inggris tercapai saat mengangkat bendera Manchester City pada 2013. Di bawah asuhannya, City menorehkan rekor tak terbendung, termasuk kemenangan 3-0 dramatis di Stamford Bridge pada April 2016 yang menandai hattrick Sergio Agüero. Kemenangan tersebut menjadi bagian dari empat momen bersejarah ketika Manchester City menjuarai pertandingan tandang melawan Chelsea dengan skor tiga gol tanpa balas.
Keberhasilan tersebut tidak hanya menambah koleksi trofi Pellegrini, tetapi juga menegaskan kemampuannya mengoptimalkan skuad dengan kombinasi pemain bintang dan taktik fleksibel. Dalam satu daftar singkat, pencapaian utama Pellegrini meliputi:
- Menjuarai La Liga bersama Malaga (2010)
- Mengamankan tiga gelar Premier League bersama Manchester City (2013/14, 2017/18, 2018/19)
- Menjadi pelatih keempat yang mencatat kemenangan 3-0 Manchester City di Stamford Bridge (2016)
- Memimpin Real Betis kembali ke kompetisi Eropa pada musim 2022/23
Di Real Betis, keputusan strategis baru-baru ini datang dari eksekutif senior Ramon Alarcon. Dalam sebuah wawancara di Cadena SER, Alarcon menegaskan bahwa kontrak Pellegrini telah diperpanjang dan tidak ada ruang untuk spekulasi lebih lanjut. “Dalam semua skenario dan rencana keuangan untuk musim depan, nama Manuel Pellegrini adalah yang pertama muncul,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa klub menaruh harapan tinggi pada pelatih berpengalaman itu, terutama dalam mengejar tempat di Liga Champions.
Alarcon juga menyoroti implikasi finansial dari hasil kompetisi Eropa. “Jika kami lolos ke Liga Champions, kami tidak akan melakukan pengeluaran berlebihan karena harus menjaga keseimbangan keuangan jangka panjang. Sebaliknya, kegagalan masuk kompetisi Eropa akan memaksa kami mengurangi biaya skuad,” jelasnya. Pernyataan ini menempatkan Pellegrini pada posisi sentral dalam merancang strategi transfer dan rotasi pemain, mengingat batas anggaran yang ketat.
Salah satu contoh nyata kebijakan transfer yang dipengaruhi Pellegrini adalah pemantauan pemain tengah Guido Rodríguez. Baik Betis maupun Villarreal mengirim tim untuk menilai profil 32‑tahun pemain asal Argentina itu, yang sebelumnya menghabiskan empat musim di Betis sebelum pindah ke West Ham pada 2024. Kembali ke Valencia, penampilan Guido menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi, menjadikannya target potensial bagi klub yang menginginkan keseimbangan lini tengah. Hal ini mencerminkan pendekatan Pellegrini yang mengutamakan pemain berpengalaman namun masih mampu memberi kontribusi signifikan.
Gaya kepelatihan Pellegrini dikenal dengan permainan menyerang yang terstruktur, namun fleksibel dalam menyesuaikan taktik sesuai lawan. Di Betis, ia berusaha mengintegrasikan pemain muda seperti Sergio Canales dan Borja Iglesias ke dalam sistem yang menekankan penguasaan bola dan transisi cepat. Kombinasi antara kebijaksanaan veteran dan energi muda menjadi kunci bagi Betis untuk bersaing di Liga Spanyol serta turnamen Eropa.
Kesimpulannya, Manuel Pellegrini tidak hanya membawa warisan kemenangan dari masa lalu, melainkan juga menyiapkan Real Betis untuk tantangan modern. Dengan dukungan penuh manajemen, kebijakan transfer yang cermat, dan filosofi permainan yang progresif, ia berada pada jalur yang tepat untuk mengembalikan kejayaan klub di panggung domestik dan internasional.
