Real Betis Terpuruk, VAR Menjadi Sorotan di La Liga: Dari Kacamata La Cartuja Hingga Kontroversi Atletico Madrid

Liput – 06 April 2026 | Real Betis kembali menjadi sorotan publik setelah menelan kekalahan tipis 1-0 melawan Espanyol di La Cartuja, Sevilla, pada pekan ke-25 La Liga. Kegagalan ini melanjutkan tren negatif yang telah melanda tim Andalusia selama beberapa pekan terakhir, menambah tekanan pada manajemen dan pelatih dalam upaya mengembalikan performa tim ke jalur kemenangan.

Skor kacamata tersebut tercipta berkat gol tunggal Espanyol pada menit ke-67 melalui serangan balik yang memanfaatkan ruang di lini pertahanan Betis. Meskipun Betis menguasai penguasaan bola sekitar 58 persen, peluang emas mereka terus terhalang oleh pertahanan Espanyol yang disiplin serta keputusan VAR yang menolak beberapa permintaan review dari wasit. Kegagalan ini menambah catatan buruk Betis, yang kini berada di posisi menengah klasemen dengan 31 poin, terpisah jauh dari zona zona kualifikasi Eropa.

Namun, kekalahan ini tidak berdiri sendiri. Pada pekan sebelumnya, Betis terlibat dalam insiden kontroversial pada pertandingan melawan Rayo Vallecano, di mana pemain Betis, Valentín Gómez, melakukan tekel keras yang melanggar aturan. Meskipun wasit tidak mengeluarkan kartu merah pada saat itu, Komite Teknis Wasit (CTE) kemudian mengklarifikasi bahwa tekel tersebut seharusnya mendapat kartu merah setelah periode review. Keputusan ini menjadi bahan perbincangan luas, terutama setelah Atletico Madrid mengangkat isu serupa dalam tweet resmi mereka yang menyoroti perbedaan perlakuan VAR antara pertandingan Betis-Rayo dan pertandingan Atletico-Barcelona.

Diego Simeone, pelatih Atletico Madrid, menegaskan keprihatinannya mengenai inkonsistensi penggunaan VAR di La Liga. Dalam konferensi pers setelah kekalahan Atletico 2-1 melawan Barcelona, Simeone menyebutkan bahwa “sama seperti yang terjadi pada Betis vs Rayo, keputusan yang diambil di lapangan tampak kontradiktif”. Ia menambahkan bahwa keputusan VAR yang memperkuat atau melemahkan tim secara signifikan dapat memengaruhi jalannya kompetisi, terutama di tahap akhir musim ketika setiap poin sangat berharga.

Kontroversi ini mempertegas ketegangan yang sudah ada antara klub-klub besar Spanyol mengenai standar penegakan aturan. Atletico Madrid, yang baru saja mencatatkan kemenangan keenam dari delapan pertandingan terakhir, kini menuntut kejelasan prosedural agar tidak terjadi “mistake” serupa di masa depan. Sementara itu, Real Betis berusaha menata kembali taktik mereka di bawah arahan pelatih baru, dengan fokus pada memperbaiki pertahanan dan menambah efisiensi serangan.

Dalam analisis taktis, pelatih Betis mengakui bahwa kekurangan utama tim terletak pada transisi cepat lawan. “Kita terlalu fokus pada penguasaan bola, namun kurang waspada terhadap serangan balik. Itu yang dimanfaatkan Espanyol di menit ke-67,” ujarnya dalam konferensi pers pasca pertandingan. Selain itu, Betis juga menyoroti kebutuhan untuk menambah opsi serangan dari sisi sayap, mengingat banyak peluang yang terlewat karena ketergantungan pada jalur tengah.

Sementara itu, para pengamat menilai bahwa keputusan VAR yang menolak permintaan review Betis pada gol yang dibatalkan dapat memicu perubahan kebijakan di masa depan. Sejumlah analis mengusulkan agar CTE mengadopsi sistem transparansi yang lebih tinggi, termasuk publikasi video review secara real time untuk mengurangi spekulasi publik.

Di luar lapangan, pendukung Betis mengekspresikan kekecewaannya melalui media sosial, menuntut klarifikasi dari federasi serta menyoroti perlunya reformasi VAR. Mereka menilai bahwa ketidakpastian keputusan dapat merusak integritas kompetisi dan menurunkan kepercayaan fans terhadap otoritas sepakbola Spanyol.

Secara keseluruhan, musim ini menunjukkan betapa pentingnya konsistensi dalam penerapan teknologi VAR bagi semua tim La Liga. Real Betis, yang kini harus berjuang mengembalikan performa, harus memperbaiki aspek taktis serta menyesuaikan diri dengan standar penegakan aturan yang lebih ketat. Atletico Madrid, di sisi lain, terus menuntut keadilan dan kejelasan dalam keputusan yang mempengaruhi hasil pertandingan mereka. Jika tidak ada perbaikan, dinamika kontroversi ini dapat berlanjut, mempengaruhi tidak hanya klasemen, tetapi juga reputasi kompetisi sepakbola Spanyol secara keseluruhan.