Liput – 20 April 2026 | Gorontalo, 18 April 2026 – Keluarga korban mengungkap rangkaian kejadian yang terjadi beberapa menit sebelum dua bocah hanyut di Sungai Bulango, sebuah aliran yang melintasi wilayah Kabupaten Gorontalo Utara. Menurut keterangan orang tua, suasana hari itu tampak biasa; anak-anak bermain air sambil bersenda gurau, namun situasi berubah menjadi tragedi dalam hitungan detik.
Aliandra Elmira Ramadhani, bocah perempuan berusia 8 tahun, dikenal oleh warga sekitar sebagai sosok yang rajin salat dan mengaji. Ia sering terlihat membawa Al-Qur’an kecil ke tepi sungai bersama adik laki-lakinya, Bima, yang berusia 6 tahun. Kedua anak tersebut biasanya diawasi ketat oleh ayah mereka, namun pada sore itu, orang tua harus menyiapkan keperluan rumah sehingga pengawasan berkurang sesaat.
Menurut saksi mata, pada pukul 15.30, Aliandra dan Bima bermain lempar batu kecil ke aliran air. Air sungai yang pada saat itu mengalir deras akibat curah hujan semalam membuat kedalaman tak terduga. Saat salah satu batu meluncur ke tengah, kedua anak berusaha mengejar, namun terpeleset dan terhanyut. Sekitar lima menit setelah itu, ayah mereka menyadari kepergian anak-anak dan langsung berlari ke tepi sungai.
“Saya baru menyadari mereka tidak ada di belakang rumah. Ketika saya melihat ke sungai, airnya sudah sangat deras dan saya tidak dapat melihat mereka,” ujar Bapak Hendra, ayah dari kedua korban. “Saya langsung memanggil tetangga dan petugas pemadam kebakaran setempat, namun arus sungai terlalu kuat,” tambahnya.
Tim SAR yang dikerahkan segera melakukan pencarian dengan menggunakan perahu motor. Upaya pencarian berlangsung selama lebih dari tiga jam, namun hanya menemukan pakaian anak-anak yang terbawa arus. Badan kepolisian setempat mengonfirmasi bahwa kedua anak tersebut dinyatakan hilang dan masih dalam proses identifikasi.
Selain menyoroti tragedi, keluarga korban menekankan pentingnya kesadaran masyarakat akan bahaya air, terutama di wilayah yang memiliki banyak sungai kecil namun berpotensi berbahaya. “Kami tidak pernah menyangka hal ini terjadi pada anak kami yang selalu taat beribadah. Kami berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi orang tua untuk selalu menjaga anak di dekat air,” kata Ibu Siti, ibu dari Aliandra.
Kasus ini memicu reaksi cepat dari pemerintah daerah. Gubernur Gorontalo, Dr. Rusdy, menyatakan akan meningkatkan patroli di titik-titik rawan serta mengadakan sosialisasi tentang keselamatan di perairan kepada warga. “Kita harus memastikan bahwa setiap warga, terutama orang tua, memahami risiko yang ada dan mengambil langkah preventif,” ujarnya dalam konferensi pers.
Para pakar keselamatan anak menambahkan bahwa pengawasan intensif, penggunaan rompi pelampung, serta edukasi tentang arus air sangat penting. Mereka juga menyarankan pembuatan rambu peringatan di daerah dengan aliran cepat.
Kasus dua bocah hanyut ini menambah daftar panjang insiden kecelakaan air di Indonesia. Menurut data Kementerian PUPR, setiap tahunnya lebih dari 200 kasus anak terjatuh atau terhanyut di sungai, dan angka kematian masih tinggi. Upaya mitigasi masih menjadi tantangan, terutama di daerah terpencil.
Di sisi lain, masyarakat setempat menggalang dana bantuan bagi keluarga korban. Penggalangan dana melalui platform digital dan sumbangan langsung di rumah duka telah mengumpulkan lebih dari 150 juta rupiah. Dana tersebut akan digunakan untuk biaya pemakaman dan dukungan psikologis bagi keluarga.
Tragedi ini sekaligus menegaskan kembali pentingnya peran aktif komunitas dalam menjaga keselamatan anak. Dengan kolaborasi antara pemerintah, lembaga non‑profit, dan warga, diharapkan kejadian serupa dapat diminimalisir di masa depan.
Keluarga korban kini tengah menunggu proses identifikasi lebih lanjut serta menyiapkan upacara peringatan. Sementara itu, mereka berharap suara mereka dapat menjadi seruan bagi semua pihak untuk memperketat pengawasan di area perairan.