Liput – 15 April 2026 | Jakarta, 16 April 2026 – Pemerintah Republik Rakyat China mengumumkan penutupan sementara sebagian rute domestik dan internasional mulai minggu depan sebagai respons terhadap krisis bahan bakar jet (avtur) yang semakin mengkhawatirkan. Keputusan ini diambil setelah serangkaian laporan mengindikasikan lonjakan harga avtur global yang mencapai lebih dari 100 persen dalam sebulan terakhir, serta gangguan pasokan minyak akibat konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah.
Konflik di Selat Hormuz, yang dipicu oleh penutupan jalur oleh Iran dan blokade yang dilakukan Amerika Serikat, telah memutus rantai distribusi minyak mentah ke pasar dunia. Analis Rystad Energy, Claudio Galimberti, memperingatkan bahwa dalam tiga hingga empat minggu ke depan kondisi dapat menjadi sistemik, memaksa maskapai di Eropa memangkas jadwal hingga 30 persen pada bulan Mei dan Juni. Dampak serupa kini dirasakan oleh maskapai China, termasuk Air China, China Eastern, dan Hainan Airlines, yang melaporkan penurunan kapasitas hingga 15 persen pada rute-rute utama.
Harga bahan bakar jet di pasar internasional melonjak tajam, mencapai kisaran USD 150-200 per barel (sekitar Rp2,5-3,4 juta). Di Amerika Serikat, harga per galon naik dari US$2,50 menjadi US$4,88, setara dengan kenaikan hampir dua kali lipat. Kenaikan ini memaksa maskapai di seluruh dunia menaikkan tarif tiket. Beberapa maskapai, seperti Air France‑KLM, mengumumkan kenaikan harga tiket jarak jauh hingga 50 euro (sekitar Rp1 juta), sementara AirAsia X menambah tarif penerbangan sekitar 20 persen untuk menutupi biaya tambahan bahan bakar.
Di Indonesia, maskapai lokal juga merasakan tekanan serupa. Airasia X mengurangi 10 persen jaringan penerbangannya dan menambah biaya tambahan bahan bakar untuk penerbangan domestik dan internasional. Cathay Pacific, maskapai asal Hong Kong, memberlakukan kenaikan tarif bahan bakar sebesar 34 persen mulai 1 April 2026, dan Alaska Air serta American Airlines menambah biaya bagasi hingga USD 200 (sekitar Rp3,4 juta) per unit untuk menambah pendapatan.
Langkah China menutup penerbangan tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga keamanan. Banyak maskapai menghindari terbang di atas zona konflik Timur Tengah karena risiko serangan rudal dan drone. Aegean Airlines dari Yunani bahkan menangguhkan rute ke Timur Tengah, dan Air New Zealand mengumumkan pemangkasan penerbangan hingga Mei dan Juni. Kebijakan penutupan wilayah udara oleh sejumlah negara Eropa, termasuk Spanyol dan Italia, menambah tekanan pada jaringan penerbangan global.
Pengamat ekonomi senior di ING, Rico Luman, menekankan bahwa krisis pasokan bahan bakar dapat meluas ke Asia dalam beberapa minggu ke depan jika tidak ada alternatif pasokan yang segera tersedia. “Kami telah melihat kapal‑kapal berhenti, sehingga pasokan dari Timur Tengah habis, dan kami membutuhkan pengganti,” ujarnya. Skenario tersebut dapat memperparah situasi di China, mengingat negara tersebut merupakan konsumen avtur terbesar di dunia.
Untuk mengurangi dampak, pemerintah China bersama regulator penerbangan internasional tengah membahas skema subsidi sementara bagi maskapai yang terdampak, serta mempercepat program diversifikasi sumber energi, termasuk peningkatan penggunaan bahan bakar sintetik dan listrik pada pesawat regional. Namun, proses implementasinya diperkirakan memerlukan waktu lebih dari satu tahun.
Secara keseluruhan, penutupan penerbangan oleh China menandai babak baru dalam krisis energi global yang tidak hanya menekan profitabilitas maskapai, tetapi juga menguji ketahanan rantai pasok bahan bakar serta kebijakan energi nasional. Sementara itu, konsumen diharapkan akan merasakan kenaikan harga tiket dan pembatasan rute yang lebih ketat dalam beberapa bulan mendatang.