Liput – 15 April 2026 | Jerome Polin, influencer muda yang dikenal lewat video edukasi matematika, bersama kakaknya Jehian Panangian, resmi mengumumkan penutupan jaringan gerai minuman kekinian Menantea pada 25 April 2026. Keputusan itu diambil setelah serangkaian masalah operasional menumpuk, mulai dari keterlambatan pembayaran tagihan supplier, sengketa perpajakan, hingga indikasi fraud internal. Selama lima tahun beroperasi, Menantea mencatat kerugian hingga Rp 38 miliar, meski pemiliknya telah menyuntikkan dana pribadi untuk menutup kewajiban dan mengkompensasi karyawan.

Kasus Menantea menjadi contoh nyata betapa sulitnya mengelola bisnis bagi kreator konten yang belum memiliki pengalaman mendalam di dunia korporasi. Namun, Jerome Polin bukan satu-satunya selebriti yang harus menelan pahitnya kegagalan usaha. Berikut empat artis lain yang baru-baru ini harus menutup bisnis mereka karena berbagai faktor, mulai dari manajemen yang lemah hingga perubahan tren pasar.

  • Raffi Ahmad – Café “Raffi’s Lounge”
    Pada 2023, Raffi Ahmad meluncurkan sebuah café di kawasan Senopati, Jakarta, dengan konsep modern yang mengusung menu fusion Asia. Meskipun sempat ramai pada pembukaan, café tersebut mengalami penurunan omzet secara drastis akibat persaingan ketat, kurangnya riset lokasi, dan kegagalan dalam mengatur stok bahan baku. Pada akhir 2025, Raffi mengumumkan penutupan permanen karena kerugian yang diperkirakan mencapai Rp 20 miliar.
  • Nagita Slavina – Klinik Kecantikan “Naga Glow”
    Nagita Slavina bersama suaminya, Raffi Ahmad, mengembangkan klinik kecantikan yang menawarkan perawatan wajah dan tubuh. Meski brandnya didukung popularitas pasangan selebriti, Naga Glow tidak mampu bersaing dengan jaringan klinik besar yang memiliki teknologi lebih canggih. Selain itu, terdapat keluhan konsumen mengenai standar kebersihan yang tidak konsisten, yang berujung pada tindakan regulator. Pada September 2025, klinik tersebut ditutup dan lisensinya dicabut.
  • Atta Halilintar – Platform E‑Commerce “Halilintar Store”
    Sebagai salah satu YouTuber dengan jutaan subscriber, Atta meluncurkan toko online yang menjual merchandise, pakaian, dan gadget. Namun, kurangnya sistem logistik yang solid menyebabkan keterlambatan pengiriman hingga 30 hari, menurunkan kepercayaan pelanggan. Di samping itu, muncul tuduhan penipuan karena produk tidak sesuai deskripsi. Akibatnya, platform tersebut mengalami kerugian finansial sebesar sekitar Rp 15 miliar dan akhirnya dihentikan operasi pada Maret 2026.
  • Ayu Ting Ting – Restoran “Ayus Kitchen”
    Ayu Ting Ting, penyanyi dangdut yang terkenal, membuka restoran di Bandung dengan menu masakan tradisional modern. Restoran ini sempat menjadi sorotan media, namun tidak mampu mempertahankan standar pelayanan. Karyawan sering mengeluhkan jam kerja yang tidak teratur, dan manajemen gagal mengontrol biaya operasional. Pada November 2025, Ayus Kitchen menutup pintunya setelah mengalami kerugian sekitar Rp 10 miliar.

Kelima kasus tersebut menunjukkan pola umum yang sering terjadi pada usaha yang digerakkan oleh nama selebriti: antusiasme awal tinggi, namun tanpa perencanaan bisnis yang matang, riset pasar yang mendalam, serta sistem manajemen keuangan yang terstruktur, risiko kegagalan menjadi sangat besar. Banyak artis mengandalkan popularitas pribadi sebagai modal utama, padahal dunia usaha menuntut keahlian khusus di bidang operasional, pemasaran, dan kepatuhan regulasi.

Baca juga:

Kesimpulannya, popularitas di media sosial tidak serta merta menjamin kesuksesan bisnis. Pengalaman Jerome Polin dengan Menantea dan contoh-contoh di atas menegaskan pentingnya persiapan profesional, audit internal yang rutin, serta kemampuan beradaptasi dengan dinamika pasar. Bagi para kreator yang ingin merambah dunia wirausaha, kolaborasi dengan profesional bisnis dan fokus pada keuangan transparan menjadi langkah krusial untuk menghindari kerugian yang dapat merusak reputasi pribadi sekaligus menghabiskan sumber daya finansial yang signifikan.

Baca juga:
Baca juga:
Baca juga:
Baca juga: