Meninggalnya Ahmad Nurhamim, Wakil Ketua DPRD Gresik, Membuat Panggung Politik Lokal Berkabung

Liput – 04 April 2026 | Jumat, 3 April 2026, menjadi hari kelabu bagi Kabupaten Gresik setelah berita duka menyebar bahwa Ahmad Nurhamim, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gresik, menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Semen Gresik sekitar pukul 14.40 WIB. Pria berusia 58 tahun itu, yang dikenal luas dengan sebutan “Anha”, meninggal secara mendadak setelah sempat melaksanakan salat Jumat dan berpartisipasi dalam acara halalbihalal bersama rekan-rekannya pada Senin, 30 Maret 2026.

Nurhamim adalah kader senior Partai Golkar yang telah menapaki jenjang karier politik lokal selama lebih dari tiga dekade. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Golkar Gresik selama dua periode, serta memegang kursi Ketua DPRD Gresik pada tahun 2018-2019 sebelum akhirnya terpilih menjadi Wakil Ketua pada masa legislatif 2024-2029. Selama masa jabatan, ia dikenal sebagai sosok yang aktif menggerakkan ekosistem ekonomi kerakyatan, menghubungkan sektor pertanian, perikanan, dan UMKM dengan program-program nasional seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih.

Ketua DPRD Gresik, Syahrul Munir, menulis sebuah penghormatan di media sosial resmi DPRD, menyebut Nurhamim sebagai “teman diskusi yang selalu produktif dan konstruktif dalam membangun Gresik”. Ia menambahkan, “Kami sangat kehilangan sosok yang selalu memberikan alternatif solusi ketika menghadapi kebuntuan kebijakan. Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi-Nya.”

Rekan sejawat lainnya, seperti Dimas Setio Wicaksono dari Fraksi PKB, mengaku terkejut mendengar kabar tersebut. Beberapa hari sebelum meninggal, Dimas masih mengingat pertemuan hangat dengan Nurhamim yang tampak sehat dan ceria. “Saya kaget menerima kabar duka ini. Beberapa hari lalu beliau tampak sehat dan penuh semangat. Selamat jalan, Mas Nur Hamim, terima kasih atas bimbingannya,” ujar Dimas dalam sebuah pernyataan.

Selain kontribusinya di bidang legislatif, Nurhamim juga dikenal sebagai “telinga rakyat” yang tak jarang turun langsung ke lapangan. Ia sering terlihat mengenakan sepatu lapangan, berjalan di gang-gang sempit, dan duduk di beranda rumah warga untuk mendengarkan keluh kesah mereka. Pendekatan ini membuatnya dihormati tidak hanya oleh pendukungnya, tetapi juga oleh lawan politik yang mengakui integritas dan ketegasannya dalam memperjuangkan kepentingan publik.

Berbagai inisiatif strategis yang diluncurkan di bawah kepemimpinan Nurhamim mencakup:

  • Peningkatan jaringan irigasi di kawasan pertanian Gresik untuk meningkatkan produktivitas padi dan sayuran.
  • Pembangunan fasilitas penunjang perikanan, termasuk pelabuhan kecil dan pusat distribusi hasil laut.
  • Dukungan terhadap UMKM melalui pelatihan kewirausahaan, akses permodalan, dan pemasaran digital.
  • Penerapan program “Makan Bergizi Gratis” di sekolah-sekolah dasar untuk menurunkan angka stunting.

Kepergian Nurhamim meninggalkan ruang kosong tidak hanya di kursi Wakil Ketua DPRD, tetapi juga dalam dinamika politik Gresik yang selama ini dipengaruhi oleh visi dan kerja kerasnya. Pengganti sementara posisi tersebut akan ditetapkan melalui mekanisme internal DPRD, sementara partai Golkar tengah menyiapkan agenda penghormatan resmi di tingkat kabupaten.

Berita duka ini juga memicu reaksi masyarakat luas. Warga Gresik, terutama yang berada di wilayah pedesaan, menyampaikan rasa kehilangan melalui pesan singkat dan media sosial, menyoroti peran Nurhamim dalam memperjuangkan infrastruktur jalan desa, peningkatan fasilitas kesehatan, dan program pendidikan non-formal.

Di tengah kesedihan, keluarga almarhum menyampaikan terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh semua pihak. Mereka berharap agar warisan kebijakan dan semangat kepedulian Nurhamim dapat terus hidup melalui generasi penerus yang melanjutkan perjuangan pembangunan berkelanjutan di Gresik.

Secara keseluruhan, kematian Ahmad Nurhamim menandai akhir sebuah era kepemimpinan yang mengedepankan dialog, inovasi, dan pelayanan publik. Masyarakat Gresik kini dihadapkan pada tantangan untuk melanjutkan program-program yang telah dirintis, sambil menghormati dedikasi seorang politisi yang selama ini menjadi jembatan antara pemerintah dan rakyat.