Lonjakan Pengisian SPKLU Saat Mudik Lebaran: EV Indonesia Menembus Rekor Baru

Liput – 08 April 2026 | Arus mudik Lebaran tahun ini menunjukkan perubahan signifikan dalam pola mobilitas masyarakat Indonesia, terutama di sektor kendaraan listrik (EV). PT PLN (Persero) mencatat peningkatan penggunaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) hingga 4,14 kali lipat selama periode siaga Ramadan dan Idulfitri (RAFI) 1447 H, menandai adopsi EV yang semakin menguat.

Data resmi mengungkap bahwa antara 12 hingga 31 Maret 2026, total transaksi pengisian daya mencapai 303.234 kali, melonjak drastis dibandingkan 73.161 kali pada periode yang sama tahun sebelumnya. Konsumsi energi listrik untuk pengisian mencapai 7,16 juta kilowatt‑hour (kWh), jauh melampaui 1,75 juta kWh pada 2025. Peningkatan ini sekaligus menjadi indikator kepercayaan publik terhadap infrastruktur pengisian yang kini lebih siap melayani jutaan kendaraan listrik yang beredar.

Periode Transaksi Konsumsi (kWh)
12‑31 Mar 2025 73.161 1.750.000
12‑31 Mar 2026 303.234 7.160.000

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menilai lonjakan ini sebagai bukti kuatnya adopsi kendaraan listrik di tengah momentum mudik. “Lonjakan penggunaan SPKLU selama RAFI menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan listrik. Hal ini tidak lepas dari kesiapan infrastruktur dan layanan yang kami hadirkan secara optimal selama periode mudik,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Rabu, 8 April 2026.

Inspektur Jenderal Kementerian ESDM, Yudhiawan Wibisono, menambahkan bahwa Posko Nasional RAFI 2026 berhasil menjaga kelancaran arus mudik dan balik Lebaran yang melibatkan jutaan orang. Ia menekankan peran penting SPKLU dalam memastikan keandalan pasokan energi nasional selama periode kritis tersebut.

Secara infrastruktur, PLN kini mengoperasikan 4.769 unit SPKLU di 3.097 titik seluruh Indonesia, dengan jarak rata‑rata antar stasiun sekitar 22 kilometer. Fokus utama terletak pada jalur mudik utama Trans Sumatra, Jawa, dan Bali, di mana 1.681 unit SPKLU tersebar di 994 titik—kenaikan sekitar 70 % dibandingkan Idulfitri tahun sebelumnya. Untuk mengantisipasi kebutuhan darurat, PLN menyiagakan 15 unit SPKLU mobile di lokasi strategis, khususnya pintu keluar tol, didukung oleh ribuan personel siaga.

Selain penambahan unit, kualitas layanan juga ditingkatkan melalui modernisasi teknologi pengisian. Beberapa SPKLU berkapasitas tinggi telah diupgrade menjadi fast charging dan ultra‑fast charging, mempercepat proses pengisian. Ekosistem digital pun diperkuat lewat aplikasi PLN Mobile yang menampilkan fitur Electric Vehicle Digital Services (EVDS), Trip Planner, dan AntreEV untuk memantau antrean secara real‑time. Sistem pembayaran elektronik EV‑TAP juga diperkenalkan di jalur Trans Jawa, mempermudah transaksi tanpa hambatan.

Tren peningkatan adopsi EV tidak hanya terlihat pada sisi pengisian daya. Data Gaikindo memperlihatkan penjualan mobil listrik nasional melonjak dari 10.327 unit pada 2022 menjadi 103.931 unit pada 2025. Pangsa pasar EV naik dari 1,7 % pada 2023 menjadi 12‑13 % pada 2025, dan mencapai sekitar 15 % dalam dua bulan pertama 2026. Mahaendra Gofar, pendiri EVSafe dan dosen di National Battery Research Institute, memproyeksikan bahwa Indonesia dapat mencapai lebih dari 50 % pangsa penjualan EV pada 2032‑2034 jika tren saat ini berlanjut.

Pengembangan ekosistem meluas ke sektor kebijakan. Kementerian Perindustrian menyiapkan roadmap EV tiga fase: inisiasi (2023‑2026), konsolidasi (2026‑2029), dan ekspansi pasca‑2030. Target TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) diatur naik dari 40 % pada fase inisiasi menjadi 80 % pada 2030, bertujuan memperkuat industri dalam negeri serta menurunkan ketergantungan pada impor.

Meski progres terlihat menjanjikan, tantangan masih ada. Infrastruktur pengisian masih terpusat di kota besar, harga kendaraan listrik relatif tinggi, dan konsentrasi pasar belum merata. Pemerintah dan sektor swasta diharapkan terus memperluas jaringan SPKLU, menurunkan biaya baterai, serta memberikan insentif fiskal untuk mempercepat transisi energi bersih.

Secara keseluruhan, lonjakan penggunaan SPKLU selama periode mudik Lebaran 2026 menegaskan bahwa Indonesia berada pada titik balik penting dalam adopsi kendaraan listrik. Kombinasi kebijakan progresif, investasi infrastruktur, dan inovasi layanan digital menciptakan ekosistem yang semakin kondusif bagi masyarakat untuk beralih ke energi bersih, sekaligus mendukung kelancaran mobilitas massal pada saat-saat kritis seperti mudik Lebaran.