Liput – 08 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 0,99% dalam satu minggu terakhir, menurunkan level akhir ke angka sekitar 6.971 pada perdagangan Selasa, 7 April 2026. Meskipun begitu, analis pasar menilai bahwa pergerakan tersebut masih berada dalam fase koreksi teknikal dan memunculkan peluang penguatan kembali pada pekan depan. Proyeksi utama menargetkan IHSG berada di kisaran 6.825 hingga 7.445 pada akhir minggu berikutnya, dengan dukungan sentimen positif dari sektor perbankan dan komoditas.
Analisis teknikal yang disampaikan oleh Herditya Wicaksana, Analis PT MNC Sekuritas, menempatkan IHSG pada gelombang (wave) V dari wave C dalam struktur Elliott Wave yang lebih luas. Menurutnya, posisi saat ini masih rawan koreksi ke zona support antara 6.745 dan 6.849. Namun, apabila gelombang A sudah selesai, IHSG diperkirakan akan melanjutkan penguatan menuju rentang 7.323 hingga 7.450. Level support penting yang harus dipantau meliputi 6.917, 6.846, sementara level resistance berada pada 7.207 dan 7.302.
Riset dari PT Pilarmas Investindo Sekuritas memberikan pandangan yang serupa, meski dengan batasan yang lebih konservatif. Mereka menilai potensi kenaikan IHSG terbatas pada level support 6.920 dan resistance 7.240. Kedua lembaga sekuritas sepakat bahwa dinamika pergerakan harga masih dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama aliran dana asing, data inflasi, serta kebijakan moneter Bank Indonesia yang diperkirakan tetap berhati-hati.
Berita pasar juga menyoroti rekomendasi saham yang dipilih oleh masing-masing analis. Herditya Wicaksana merekomendasikan empat saham unggulan: PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), dan PT Indah Kiat Pulp and Papers Tbk (INKP). Sementara Pilarmas Investindo menambahkan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) ke dalam daftar pilihannya. Dari sisi teknikal, saham AKRA mencatat kenaikan 5,66% menjadi Rp1.400 dengan volume pembelian yang signifikan, dan analis menilai bahwa saham tersebut berada pada fase “Buy on Weakness” dalam struktur wave C.
Faktor fundamental yang turut memperkuat proyeksi kenaikan meliputi data ekonomi makro yang menunjukkan penurunan inflasi inti pada kuartal terakhir serta stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap dolar. Selain itu, sektor perbankan terus mencatatkan laba bersih yang kuat, memberikan dukungan bagi indeks secara keseluruhan. Di sisi komoditas, harga nikel dan batu bara yang tetap berada pada level menguntungkan menguatkan sentimen bullish bagi saham-saham energi dan pertambangan.
Namun, risiko tetap ada. Penurunan nilai tukar yang tiba‑tiba, kebijakan fiskal yang tidak terduga, atau gejolak politik regional dapat memicu volatilitas kembali. Para pelaku pasar disarankan untuk tetap menjaga disiplin manajemen risiko, khususnya dengan menempatkan stop‑loss di sekitar level support terdekat (6.845–6.900) dan mengamati pergerakan volume untuk mengidentifikasi kemungkinan pembalikan arah.
Secara keseluruhan, meski IHSG mengalami penurunan 0,99% dalam seminggu, analisis teknikal dan fundamental menunjukkan bahwa pasar berada pada titik jenuh yang memungkinkan pemulihan. Proyeksi level 6.825–7.445 pada pekan depan mencerminkan ekspektasi penguatan yang realistis, dengan dukungan kuat dari saham-saham unggulan serta kebijakan moneter yang tetap stabil. Investor yang mengadopsi pendekatan berbasis data dan diversifikasi portofolio diperkirakan dapat memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan nilai investasi mereka.