Liput – 04 April 2026 | Roma, 3 April 2026 – Sejarah kelam sepak bola Italia kembali tercipta setelah tim nasionalnya gagal melaju ke putaran final Piala Dunia 2026. Kekalahan dramatis melawan Bosnia-Herzegovina dalam laga penentuan via adu penalti pada final play‑off zona Eropa menjadi titik terendah yang memaksa Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, mengumumkan pengunduran dirinya secara resmi.
Pengumuman itu disampaikan pada pertemuan internal di markas FIGC, Roma, yang dihadiri perwakilan Serie A, Serie B, serta sejumlah pejabat penting federasi. Dalam sambutan singkat, Gravina menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh elemen federasi yang telah mendukungnya selama masa jabatan, baik secara publik maupun pribadi. Ia menegaskan komitmen untuk menyelesaikan tanggung jawab administratifnya, termasuk melaporkan kondisi sepak bola Italia secara menyeluruh di hadapan Komite VII Bidang Kebudayaan, Sains, dan Pendidikan DPR Italia pada 8 April 2026.
Gagalnya Italia untuk lolos ke Piala Dunia 2026 menambah catatan hitam yang sudah panjang. Ini merupakan kegagalan ketiga beruntun sejak 2018, ketika tim Azzurri gagal menembus putaran final di Rusia, dan kembali pada 2022 di Qatar. Pada pertandingan penentu melawan Bosnia-Herzegovina di Stadion Billino Polje, Zenica, pada 31 Maret 2026, Italia menahan diri hingga adu penalti setelah hasil reguler berakhir imbang. Namun, serangkaian tembakan penalti berakhir tidak menguntungkan, menutup harapan Italia untuk melangkah ke Qatar berikutnya.
Keputusan mundur Gravina dipandang sebagai konsekuensi logis atas krisis performa tim nasional. Selama masa jabatannya, Gravina berupaya memperkuat infrastruktur sepak bola, memperluas program pembinaan usia dini, dan meningkatkan standar kompetisi domestik. Namun, hasil di panggung internasional menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan internal dan kualitas tim senior. Dalam laporan yang akan ia sampaikan kepada parlemen, Gravina dijadwalkan menyoroti kekuatan struktural, seperti jaringan akademi dan eksistensi klub-klub berkelas dunia, serta mengidentifikasi kelemahan, termasuk kurangnya konsistensi taktik, manajemen pemain senior, dan kebijakan seleksi yang dianggap kurang transparan.
FIGC telah menyiapkan agenda pemilihan presiden baru yang dijadwalkan pada 22 Juni 2026. Proses ini diharapkan dapat menghasilkan kepemimpinan yang mampu merestorasi kejayaan Azzurri, memperbaiki hubungan antara federasi dan klub, serta mengembalikan kepercayaan publik. Nama-nama potensial yang muncul dalam lingkaran sepak bola domestik mencakup mantan eksekutif Serie A, pengusaha olahraga, serta mantan pemain yang memiliki pengalaman internasional. Tekanan publik dan media semakin intens, menuntut solusi yang tidak hanya bersifat simbolik tetapi juga konkrit.
Di sisi lain, reaksi pemain timnas juga menjadi sorotan. Penyerang muda Francesco Pio Esposito, yang terlibat dalam laga penentu, mengungkapkan kekecewaan mendalam namun menegaskan tekad untuk bangkit kembali. “Kami menanggung beban seluruh Italia. Kegagalan ini bukan akhir, melainkan panggilan untuk memperbaiki fondasi,” katanya dalam konferensi pers pasca pertandingan. Mantan kapten legenda, Gianluigi Buffon, yang kini menjadi sosok senior di dalam federasi, juga menyampaikan dukungan bagi proses reformasi, menekankan pentingnya kepemimpinan yang visioner.
Selain aspek teknis, krisis ini menimbulkan dampak sosial‑ekonomi. Penurunan popularitas sepak bola dapat memengaruhi pendapatan hak siar, sponsor, serta penjualan merchandise. Kota-kota yang biasanya menjadi tuan rumah pertandingan internasional menghadapi potensi kerugian ekonomi terkait turisme. Oleh karena itu, FIGC diharapkan menyusun strategi pemulihan yang mencakup revitalisasi liga domestik, promosi bakat muda, serta kolaborasi dengan institusi pendidikan untuk memperkuat basis peminat sepak bola.
Dengan masa transisi yang sedang berlangsung, mata dunia tetap tertuju pada Italia. Harapan akan pemimpin baru yang mampu mengembalikan kebanggaan nasional sekaligus menata kembali struktur kompetisi domestik menjadi prioritas utama. Sementara itu, para pendukung sepak bola Italia menanti laporan komprehensif Gravina pada 8 April, berharap transparansi dan akuntabilitas dapat menjadi pijakan awal untuk perubahan yang berkelanjutan.