Drama Liga Konferensi Eropa: Mainz Menang, Italia Menghilang, dan Brentford serta Newcastle Bergulat di Puncak Persaingan

Liput – 19 April 2026 | Persaingan di Liga Konferensi Eropa semakin memanas menjelang babak final, dengan beberapa cerita menarik yang menyoroti perubahan dinamika klub-klub Eropa. Di satu sisi, FSV Mainz 05 memperlihatkan keunggulan lini tengahnya, sementara di sisi lain Italia mengalami kejatuhan total di kompetisi antarklub UEFA. Di samping itu, Brentford dan Newcastle United berjuang keras demi tempat mereka di kompetisi musim depan.

FSV Mainz 05 menorehkan kemenangan penting 2-0 atas RC Strasbourg Alsace pada leg pertama perempat final Liga Konferensi Eropa 2025/2026. Empat gelandang klub asuhan Urs Fischer – Nadiem Amiri, Lee Jae Sung, Kawasaki Sota, dan Sano Kaishu – semuanya berhasil mencetak gol, menegaskan peran krusial lini tengah dalam strategi ofensif tim Jerman.

  • Nadiem Amiri: Meskipun sempat cedera, Amiri tetap menjadi andalan dengan dua gol di kompetisi ini. Rekrutmennya dari Bayer Leverkusen pada Januari 2024 dengan biaya Rp17 miliar terbukti bernilai.
  • Lee Jae Sung: Veteran berusia 33 tahun menambah satu gol dan dua assist, menunjukkan konsistensi meski usia sudah tidak muda lagi. Ia bergabung secara gratis dari Holstein Kiel pada 2021 dan baru memperpanjang kontrak pada Februari 2026.
  • Kawasaki Sota: Gol debutnya di kandang Lech Poznan menjadi sorotan, meski tidak mengubah hasil akhir. Sota dipinjam dari Kyoto Sanga dan akan menjadi pemain tetap setelah proses transfer permanen selesai pada Juli 2026.
  • Sano Kaishu: Pemain asal Jepang mencetak gol penentu melawan Strasbourg, menambah catatan satu gol dalam sebelas penampilan di kompetisi ini. Dengan nilai pasar Rp434 miliar, ia menjadi gelandang termahal di skuad Mainz.

Sementara Mainz bersinar, klub-klub Italia berada dalam krisis. Tidak satu pun wakil Italia berhasil menembus semifinal Liga Champions, Liga Europa, maupun Liga Konferensi Eropa musim ini. Nama-nama besar seperti Inter Milan, AC Milan, dan Juventus absen dari babak tersebut, menandakan penurunan tajam prestise Serie A di panggung Eropa. Kekalahan ini berdampak lebih jauh, karena tim nasional Italia diprediksi tidak akan lolos ke Piala Dunia 2026, menambah beban moral bagi para pendukung.

Di Premier League, Brentford mencatat lima pertandingan berurutan berakhir imbang, yang menempatkan mereka dalam posisi rapuh meski berada di peringkat ketujuh dengan 48 poin. Statistik menunjukkan mereka menciptakan peluang berlimpah namun gagal mengonversi menjadi kemenangan, terutama pada laga melawan Fulham (0-0) dan Everton (2-2). Akibatnya, Brentford kini mengincar tempat di Liga Konferensi Eropa 2026/2027 sebagai alternatif untuk melanjutkan kompetisi Eropa mereka, mengingat peluang lolos ke Liga Europa tampak semakin kecil.

Nasib serupa juga dihadapi Newcastle United. Kekalahan 1-2 dari AFC Bournemouth menurunkan posisi mereka ke peringkat ke-14, menambah tekanan pada pelatih Eddie Howe. Jika tim tidak berhasil memperbaiki performa, peluang mereka untuk mengamankan tempat di Liga Konferensi Eropa musim depan akan sangat tipis, mengingat persaingan ketat di Premier League.

Keseluruhan, dinamika Liga Konferensi Eropa mencerminkan perubahan lanskap sepak bola Eropa: klub-klub menengah seperti Mainz memanfaatkan kekuatan lini tengah, sementara raksasa tradisional dari Italia mengalami kemunduran drastis. Di Inggris, Brentford dan Newcastle harus mengoptimalkan strategi mereka untuk tetap relevan di panggung Eropa, baik melalui kualifikasi langsung atau melalui jalur kompetisi sekunder.

Dengan empat gelandang Mainz yang mencetak gol, Italia yang kehilangan jejak di semifinal, serta perjuangan Brentford dan Newcastle demi tempat di kompetisi musim depan, musim ini menjadi titik balik penting bagi banyak tim dalam mengejar kebanggaan dan peluang finansial di Liga Konferensi Eropa.