Liput – 21 April 2026 | Industri film Korea terus menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengubah cerita rakyat dan legenda urban menjadi karya sinematik yang menegangkan sekaligus mengedukasi. Tiga judul terbaru—Salmokji, The Wailing, dan A Tale of Two Sisters—menjadi bukti nyata bagaimana pembuat film menggali akar budaya, mengadaptasi mitos lokal, dan menyajikannya dengan standar produksi kelas dunia.
Film pertama, Salmokji, mengangkat legenda urban yang beredar luas di kalangan mahasiswa Seoul tentang sosok misterius yang muncul di lorong-lorong kampus pada malam hari, menuntut balas dendam atas kematian tak terungkap. Sutradara Lee Joon-ho menghabiskan lebih dari satu tahun melakukan riset lapangan, mengunjungi perpustakaan universitas, serta mewawancarai saksi mata yang mengklaim pernah melihat penampakan itu. Hasilnya, Salmokji menampilkan atmosfer yang menegangkan tanpa mengandalkan jumpscare berlebihan; alur cerita dibangun lewat detail visual, suara ambient, serta penggunaan warna monokromatik yang menekankan kesan kelam.
Film kedua, The Wailing (judul Korea: Goksung), dirilis pada 2016 dan disutradarai oleh Na Hong-jin, menggabungkan elemen shamanisme Jeju dengan kisah penyakit misterius yang menyebar di sebuah desa terpencil. Legenda tentang roh-roh penjaga hutan yang menghukum penduduk yang melanggar aturan tradisional menjadi benang merah yang mengikat seluruh narasi. Na menekankan pentingnya menampilkan ritual asli, bahkan melibatkan praktisi shaman sejati untuk memastikan akurasi gerakan dan nyanyian. Film ini berhasil meraih pujian internasional, terutama karena kemampuan menggabungkan horor psikologis dengan kritik sosial tentang ketidakpercayaan masyarakat modern terhadap tradisi.
Film ketiga, A Tale of Two Sisters, merupakan adaptasi modern dari dongeng tradisional “Janghwa Hongryeon jeon”. Disutradarai oleh Kim Jee-woon pada tahun 2003, film ini memanfaatkan cerita dua saudara perempuan yang kembali ke rumah keluarga setelah dirawat di rumah sakit jiwa, hanya untuk menghadapi teror dari sosok ibu tiri yang menakutkan. Meskipun bersumber dari cerita rakyat yang sudah berabad-abad, Kim menambahkan lapisan psikologis yang kompleks, menjadikan film ini sebagai contoh sempurna bagaimana legenda kuno dapat dihidupkan kembali dengan teknik sinematik kontemporer. Visualisasi ruang rumah tradisional, penggunaan cermin, serta pencahayaan yang kontras menjadi simbolisme visual yang kuat.
Ketiga film tersebut tidak hanya menonjolkan kualitas produksi, namun juga menegaskan peran penting riset budaya dalam pembuatan film horor. Seperti halnya film Indonesia Songko yang baru-baru ini menyoroti legenda Minahasa dengan melibatkan talenta lokal, film‑film Korea ini menunjukkan tren global di mana pembuat film berusaha menjaga keaslian cerita sambil tetap memenuhi ekspektasi pasar internasional. Pendekatan semacam ini memberi penonton rasa keterikatan emosional, karena mereka tidak hanya disuguhi ketakutan semata, melainkan juga pemahaman tentang latar budaya yang melahirkan legenda tersebut.
Dari segi penerimaan, Salmokji mencetak box office yang kuat di dalam negeri, dengan lebih dari 2,5 juta tiket terjual dalam tiga minggu pertama. The Wailing memperoleh penghargaan Best Director di Festival Film Cannes 2016, sementara A Tale of Two Sisters terus menjadi film referensi dalam kursus sinema di universitas-universitas dunia. Keberhasilan ini menegaskan bahwa cerita-cerita yang berakar pada mitos lokal memiliki daya tarik universal bila dipresentasikan dengan kualitas sinematik tinggi.
Secara keseluruhan, ketiga film ini membuktikan bahwa legenda urban bukan sekadar bahan cerita seram, melainkan cermin nilai, ketakutan, dan aspirasi kolektif suatu masyarakat. Dengan menggabungkan riset mendalam, kolaborasi dengan pakar budaya, serta inovasi teknis, para pembuat film Korea berhasil mengangkat kisah-kisah tradisional ke level baru, menjadikannya produk budaya yang dapat dinikmati baik di dalam maupun luar negeri.