Liput – 20 April 2026 | Keputusan strategis pemerintah Indonesia untuk menambah armada udara kembali menjadi sorotan publik setelah muncul laporan bahwa pembelian 24 pesawat tempur Rafale masih berada dalam tahap kajian mendalam. Pemerintah belum mengumumkan secara resmi angka final, namun sumber internal menegaskan bahwa proses evaluasi mencakup aspek teknis, finansial, serta implikasi geopolitik regional.
Rafale, pesawat tempur multi‑peran buatan perusahaan Prancis Dassault Aviation, pertama kali menarik perhatian TNI Angkatan Udara sejak awal dekade lalu. Dengan kemampuan supersonik, avionik canggih, dan fleksibilitas dalam misi udara-ke-udara maupun udara-ke-permukaan, Rafle dipandang mampu mengisi kekosongan setelah masa pensiun beberapa unit pesawat berbadan lama.
Dari sisi finansial, estimasi biaya per unit Rafale mencapai sekitar US$ 85 juta, termasuk paket pemeliharaan dan pelatihan. Dengan 24 unit, total anggaran dapat melampaui US$ 2 miliar. Anggaran pertahanan Indonesia tahun ini diproyeksikan berada di kisaran Rp 125 triliun, sehingga alokasi untuk pembelian pesawat ini memerlukan penyesuaian signifikan pada prioritas belanja lain, termasuk kapal selam, sistem pertahanan darat, dan modernisasi infrastruktur militer.
Berikut perkiraan biaya dalam format tabel:
| Item | Estimasi Biaya (US$) |
|---|---|
| Pembelian 24 Rafale | 2,040,000,000 |
| Pelatihan & Pemeliharaan (5 tahun) | 300,000,000 |
| Total | 2,340,000,000 |
Selain biaya, pertimbangan strategis menjadi faktor utama. Di tengah meningkatnya dinamika keamanan di Laut China Selatan dan kawasan Asia‑Pasifik, modernisasi kekuatan udara dianggap krusial untuk menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia. Rafale, dengan jangkauan tempur hingga 1.800 km dan kemampuan stealth sebagian, diyakini dapat meningkatkan deterrent effect terhadap potensi ancaman.
Hubungan bilateral dengan Prancis turut memengaruhi proses negosiasi. Sejak penandatanganan perjanjian kerja sama pertahanan tahun 2019, kedua negara telah melakukan serangkaian kunjungan tingkat tinggi, termasuk kunjungan Menteri Pertahanan ke Paris. Kesepakatan sebelumnya meliputi penjualan kapal selam Scorpène, yang kini menjadi referensi dalam menilai keandalan dukungan purna jual dan transfer teknologi.
Para pakar pertahanan menilai bahwa keputusan akhir akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mengamankan sumber pendanaan, baik melalui alokasi anggaran, pinjaman lunak, atau skema pembiayaan bersama dengan pihak swasta. Mereka juga menekankan perlunya evaluasi kemampuan integrasi Rafale ke dalam sistem pertahanan udara yang sudah ada, termasuk jaringan radar dan sistem komando‑kendali TNI AU.
Kesimpulannya, pembelian 24 pesawat tempur Rafale masih berada pada fase analisis komprehensif yang mencakup dimensi finansial, teknis, dan geopolitik. Pemerintah diharapkan akan mengumumkan keputusan akhir dalam beberapa bulan mendatang, setelah semua variabel dipertimbangkan secara matang.