Liput – 17 April 2026 | Jakarta – Ketika penyanyi pop legendaris Pinkan Mambo memutuskan mengamen di trotoar Jalan Sudirman, reaksi publik beragam, mulai dari pujian hingga kritik tajam yang menuding aksi tersebut sebagai “downgrade” karier. Namun, advokat terkenal Hotman Paris segera melontarkan pernyataan tegas, menolak label tersebut dan menegaskan bahwa mengamen bukanlah pekerjaan yang hina. Pernyataan Hotman menimbulkan perdebatan baru di media sosial, menyoroti persepsi masyarakat terhadap seni jalanan dan cara mencari rezeki yang halal.
Menurut saksi mata, Pinkan Mambo muncul dengan gitar akustik sederhana, menyanyikan beberapa hits klasiknya di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan pejalan kaki. Beberapa penonton tampak antusias, menepuk bahu penyanyi, dan memberikan sumbangan kecil. Namun, tidak sedikit pula yang mengkritik keputusan itu, menganggapnya langkah yang tidak pantas bagi seorang artis senior. Kritik tersebut kemudian direspon Hotman Paris melalui unggahan di akun Instagramnya, menyatakan bahwa menilai sebuah pekerjaan berdasarkan status sosial atau popularitas merupakan bias yang harus dihilangkan.
Hotman menulis, “Mengamen adalah cara mencari nafkah yang sah. Tidak ada pekerjaan yang hina selagi tidak melanggar hukum. Memang, Pinkan Mambo sudah memiliki karier yang cemerlang, tetapi ia berhak memilih cara lain untuk menambah pundi-pundi rezeki, terutama di masa-masa ekonomi yang tidak menentu.” Ia menambahkan bahwa masyarakat seringkali menilai pekerjaan dengan standar elitisme, padahal banyak orang Indonesia mengandalkan usaha informal untuk bertahan hidup.
Pengamat budaya, Dedi Santoso, menjelaskan bahwa busking atau mengamen telah menjadi bagian integral dari kehidupan kota-kota besar di dunia, termasuk Jakarta. “Di luar sana, artis internasional pun sesekali mengamen untuk merasakan interaksi langsung dengan penonton. Ini bukan soal menurunkan derajat, melainkan tentang kedekatan dengan publik,” ujarnya. Dedi menekankan pentingnya menghargakan seni jalanan sebagai bentuk ekspresi kreatif yang dapat memperkaya dinamika kota.
- Hotman Paris menolak stigma negatif terhadap pekerjaan mengamen.
- Pinkan Mambo memilih mengamen sebagai cara alternatif mendapatkan penghasilan.
- Masyarakat cenderung menilai pekerjaan berdasarkan status, bukan nilai moral.
- Busking memiliki peran penting dalam budaya perkotaan dan interaksi sosial.
Sementara itu, reaksi netizen terbagi. Sebagian memuji keputusan Hotman yang dianggap membela hak pekerja informal, sementara yang lain tetap skeptis, menganggap aksi Pinkan Mambo sebagai upaya mencari perhatian media. Beberapa komentar menyoroti bahwa artis sekelas Pinkan seharusnya tidak perlu mengamen, mengingat potensi pendapatan dari konser atau endorsement. Namun, Hotman menegaskan bahwa tidak semua artis memiliki kontrak atau proyek yang stabil, terutama setelah pandemi yang mengguncang industri hiburan.
Dalam konteks ekonomi, fenomena artis yang beralih ke pekerjaan informal bukan hal baru. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah pekerja harian lepas (PHL) di sektor kreatif selama dua tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa ketidakpastian pendapatan mendorong seniman, musisi, bahkan aktor, untuk mencari sumber penghasilan tambahan melalui cara-cara tradisional seperti mengamen, menjual merchandise, atau mengajar privat.
Hotman juga mengingatkan pada kasus istri Arya Khan, yang terjun ke usaha kuliner sebagai bentuk usaha mandiri. Ia menyamakan perjuangan Pinkan Mambo dengan wanita-wanita lain yang berusaha mencari nafkah halal tanpa rasa malu. “Kita harus mengapresiasi semangat wirausaha, bukan menghakimi cara mereka mencapainya,” tuturnya.
Perdebatan ini membuka ruang diskusi lebih luas tentang bagaimana masyarakat menilai pekerjaan dan peran seni dalam kehidupan sehari-hari. Jika mengamen dipandang sebagai sarana seni publik yang menghidupkan ruang kota, maka aksi Pinkan Mambo bisa menjadi contoh positif tentang keberanian artis untuk turun langsung ke lapangan. Sebaliknya, jika stigma tetap kuat, maka potensi kreatifitas akan terhambat oleh pandangan elitistik.
Kesimpulannya, pernyataan Hotman Paris menegaskan kembali bahwa pekerjaan apapun, selama tidak melanggar hukum, tidak dapat dikategorikan hina. Reaksi publik terhadap aksi Pinkan Mambo mengamen menyoroti dinamika sosial-ekonomi yang tengah berubah, di mana artis dan pekerja kreatif semakin fleksibel dalam mencari penghidupan. Dialog terbuka antara publik, media, dan pelaku seni menjadi kunci untuk menghilangkan stigma, sekaligus memperkuat nilai seni jalanan sebagai bagian penting dari kultur urban Indonesia.