Liput – 20 April 2026 | Drama Korea Perfect Crown memancing perbincangan hangat sejak episode perdana ketika Seong Hui Ju (IU) muncul mengenakan baju merah Hui Ju yang dianggap melanggar kodrat warna istana. Warna merah dalam tradisi kerajaan Korea identik dengan mahkota raja, sehingga penggunaannya oleh seorang tamu biasa memicu spekulasi tentang niat politik maupun strategi plot.
Di balik kilau mobil mewah dan pakaian nyentrik, muncul tuduhan bahwa Hui Ju sengaja memancing kemarahan Ibu Suri Yoon Yi‑Rang. Insiden tersebut berawal dari jamuan ulang tahun kerajaan yang dihadiri pejabat tinggi, pebisnis, serta anggota keluarga kerajaan. Hui Ju, yang berasal dari keluarga konglomerat, memanfaatkan kesempatan itu untuk menonjolkan diri. Namun, pilihan warna pakaiannya menjadi titik kritis.
Beberapa poin utama yang menjadi fokus kontroversi antara lain:
- Larangan penggunaan warna merah di dalam istana, yang secara tradisional diperuntukkan bagi raja.
- Rekaman CCTV yang menampilkan Hui Ju masuk ke area terlarang sebelum terjadinya ledakan di aula Jeonghwajeon.
- Perilaku Hui Ju yang memecahkan gelas wine dan bersulang kepada para bangsawan, ditafsirkan sebagai ancaman.
Pihak penyidik kebakaran Jeonghwajeon, yang dipicu oleh Ibu Suri, menyoroti kedua tindakan tersebut sebagai bukti niat jahat. Namun, Pangeran Agung I‑An (Byeon Woo Seok) dan Perdana Menteri Min Jeong‑Woo memberikan klarifikasi bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar, menegaskan bahwa Hui Ju hanya tersesat dan tidak terlibat dalam sabotase.
Sementara itu, karakter Hui Ju digambarkan sebagai perempuan independen yang harus berhadapan dengan stigma sosial. Seperti yang diuraikan dalam laporan lain, ia mengalami serangkaian kemalangan sejak kecil, termasuk penolakan keluarga, tekanan kelas, dan usaha terus‑menerus untuk membuktikan kemampuannya. Konflik internal ini menambah lapisan kompleks pada tindakannya di dalam drama, menjadikan setiap gerak-geriknya subjek interpretasi penonton.
Analisis kritikus budaya menilai bahwa pemilihan warna merah bukan sekadar kesalahan fashion, melainkan simbol perlawanan terhadap struktur hierarki yang kaku. Dalam konteks ini, Hui Ju menjadi representasi wanita modern yang menantang batasan tradisional, meski harus membayar harga kontroversi publik.
Di sisi lain, produser drama menjelaskan bahwa keputusan kostum dirancang untuk menciptakan ketegangan visual dan naratif. Warna merah dipilih agar penonton langsung merasakan ketegangan antara karakter utama dan institusi kerajaan, memperkuat alur cerita yang berpusat pada intrik politik dan asmara terlarang.
Seiring berjalannya episode, alur cerita mengungkap bahwa ledakan aula sebenarnya merupakan insiden teknis yang tidak terkait dengan Hui Ju. Pangeran Agung I‑An menegaskan bahwa Hui Ju telah dipindahkan ke zona aman, namun ia secara sukarela mengikuti I‑An ke lokasi kebakaran demi melindungi diri sendiri dan menegaskan keberanian pribadinya.
Kesimpulannya, kontroversi baju merah Hui Ju mencerminkan pertemuan antara tradisi kerajaan, strategi produksi drama, dan pesan feminis yang ingin disampaikan. Perdebatan publik yang muncul tidak hanya soal etika berpakaian, melainkan juga tentang bagaimana perempuan dapat mengekspresikan diri dalam lingkungan yang penuh aturan ketat. Kontroversi ini sekaligus menambah daya tarik Perfect Crown, menjadikannya sorotan utama dalam dunia hiburan K‑Drama tahun ini.