Liput – 18 April 2026 | Jakarta kembali menjadi panggung bagi perayaan tahun baru air khas Thailand, Songkran, yang digelar pada Sabtu, 18 April 2026 di Kedutaan Besar Thailand. Acara dengan tema “Our Songkran: Experience Thailand in Jakarta” menarik ribuan pengunjung dari seluruh wilayah Jabodetabek yang ingin merasakan atmosfer tradisi Thailand tanpa harus meninggalkan ibukota. Seluruh rangkaian dipenuhi musik, tarian, serta arena perang air yang memicu kegembiraan seru di antara para penikmat budaya.
Meski bersifat gratis, tiket masuk terbatas menimbulkan kompetisi ketat sejak pendaftaran daring dibuka pada 2 April. Ratusan ribu klik menghantam server Google Form yang dipakai panitia, menyebabkan hampir terjadi kegagalan sistem. Banyak calon peserta, termasuk Lin dari Cirebon dan Alwan dari Jakarta, harus bersabar menunggu konfirmasi, bahkan rela mengatur jadwal kerja dan kuliah hanya demi mengamankan satu tiket. Drama “war tiket” ini menjadi cerita sampingan yang tak terpisahkan dari kesuksesan festival.
Setelah berhasil melewati proses pendaftaran, para pengunjung disambut oleh atmosfer yang menggelegar. Area utama festival dipenuhi stand makanan khas Thailand, panggung pertunjukan tradisional, serta zona perang air yang diperlengkapi dengan pistol air dan pelindung ponsel. Suara dentuman musik elektronik bercampur dengan sorak sorai menambah intensitas permainan air. Tasia, salah satu pengunjung, mengaku bahwa sensasi basah kuyup sekaligus kebebasan berlarian di antara riuhnya penonton membuatnya melupakan kelelahan menunggu tiket.
Dalam perang air, tidak ada batasan usia atau latar belakang. Baik remaja, pekerja kantoran, hingga keluarga dengan anak-anak tampak bersatu dalam satu tujuan: meneguk kebahagiaan lewat percikan air. Bila, teman Tasia, menekankan bahwa suasana festival berhasil menghidupkan nuansa otentik Thailand, menampilkan cara tradisional menyiram air kepada orang terdekat sebagai simbol penyucian dan harapan baru. Pengalaman ini menegaskan bahwa Songkran tidak sekadar hiburan, melainkan jendela budaya yang menghubungkan dua negara.
Di balik euforia, peserta juga memberikan masukan konstruktif untuk penyelenggaraan selanjutnya. Keluhan utama berfokus pada platform pendaftaran yang tidak mampu menampung lonjakan trafik, sehingga banyak calon peserta terpaksa menunggu lama atau bahkan tidak mendapatkan konfirmasi. Selain itu, beberapa pengunjung mengusulkan perluasan area festival untuk menampung lebih banyak peserta dan menambah fasilitas seperti area istirahat, tempat penyimpanan barang, serta area khusus anak-anak.
Para penilai juga berharap ke depannya Kedutaan Besar Thailand dapat menambah ragam kegiatan kebudayaan, misalnya workshop pembuatan anyaman, kelas memasak pad thai, atau demonstrasi tarian tradisional. Penambahan program edukatif semacam ini diyakini dapat memperkaya pengalaman pengunjung, menjadikan festival tidak hanya sekadar hiburan basah tetapi juga sarana pembelajaran lintas budaya.
Secara keseluruhan, Festival Songkran di Jakarta berhasil menggabungkan elemen budaya, hiburan, dan interaksi sosial dalam satu acara besar. Meskipun terdapat tantangan dalam proses pendaftaran, antusiasme yang tinggi menunjukkan tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap tradisi asing yang diadaptasi secara lokal. Dengan perbaikan teknis dan penambahan program kebudayaan, festival ini berpotensi menjadi agenda tahunan yang dinantikan oleh jutaan penikmat budaya.
Kesimpulannya, perayaan Songkran di Jakarta tidak hanya berhasil menyuguhkan perang air yang spektakuler, tetapi juga membuka ruang dialog budaya antara Thailand dan Indonesia. Drama tiket yang sempat menegangkan menjadi pelajaran berharga bagi penyelenggara untuk meningkatkan infrastruktur digital. Harapan terbesar kini adalah agar festival berikutnya dapat lebih inklusif, aman, serta memberikan pengalaman yang lebih mendalam bagi seluruh pengunjung.