Liput – 20 April 2026 | Harga minyak mengalami lonjakan signifikan pada pekan ini, memicu keprihatinan konsumen di Jawa Timur sekaligus menimbulkan perdebatan di kalangan ekonom tentang potensi dampaknya terhadap inflasi nasional. Data terbaru menunjukkan kenaikan pada berbagai jenis minyak goreng, sementara analis BCA Research menilai gejolak harga energi global tidak akan menimbulkan tekanan inflasi jangka panjang.
Menurut laporan harga sembako di Jawa Timur tanggal 19 April 2026, minyak curah naik Rp425 atau 2,10 persen, minyak premium naik Rp275 atau 1,30 persen, serta minyak goreng sederhana naik Rp446 atau 2,47 persen. Kenaikan serupa juga tercatat pada varian Minyakita yang meningkat Rp128 (0,80 persen). Perubahan harga tersebut dipengaruhi oleh biaya produksi, kebijakan pemerintah, nilai tukar, serta kondisi cuaca yang memengaruhi hasil pertanian bahan baku.
| Jenis Minyak | Kenaikan (Rp) | Persen |
|---|---|---|
| Minyak Curah | 425 | 2,10% |
| Minyak Premium | 275 | 1,30% |
| Minyak Goreng Sederhana | 446 | 2,47% |
| Minyakita | 128 | 0,80% |
Lonjakan harga minyak ini tidak terlepas dari dinamika pasar energi global. Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah, khususnya gangguan pada jalur distribusi di Selat Hormuz, mengakibatkan fluktuasi harga minyak mentah dunia. Meski demikian, BCA Research dalam laporan Strategi Investasi Global menyatakan bahwa ekspektasi inflasi tidak akan terlanjur naik selama 12 bulan ke depan. Menurut analis, peningkatan fleksibilitas pasar tenaga kerja serta perlambatan pertumbuhan upah nominal memberikan bantalan kuat terhadap potensi spiral upah‑harga.
Pengaruh pada Konsumen dan Daya Beli
Kenaikan harga minyak goreng langsung memengaruhi biaya hidup rumah tangga, terutama di wilayah yang mengandalkan bahan pokok tersebut. Pemerintah daerah Jawa Timur terus memantau harga sembako harian untuk mencegah beban pengeluaran rumah tangga melambung. Penurunan pada bahan lain seperti bawang merah, cabai rawit, dan telur ayam memberikan sedikit ruang bernapas, namun kenaikan minyak tetap menjadi sorotan utama.
Selain minyak goreng, pasar bahan bakar minyak (BBM) juga mengalami penyesuaian. PT Pertamina baru‑baru ini mengumumkan kenaikan harga BBM nonsubsidi pada 18 April 2026, dengan contoh Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.400 per liter di DKI Jakarta, Dexlite mencapai Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex Rp23.900 per liter. Kenaikan tersebut mencerminkan tekanan harga minyak mentah global serta kebutuhan menyesuaikan tarif dengan realitas pasar.
Perbandingan Harga BBM Indonesia dengan Negara ASEAN
Dalam konteks regional, harga BBM Indonesia masih relatif kompetitif dibandingkan negara‑negara ASEAN. Sebagian besar negara tetangga mengalami kenaikan serupa akibat penyesuaian pajak dan subsidi. Indonesia mempertahankan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar di level yang lebih rendah, sementara jenis nonsubsidi mengalami kenaikan yang lebih tajam. Hal ini menciptakan disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi, yang dapat memicu pergeseran pola konsumsi masyarakat.
Secara keseluruhan, meskipun harga minyak mengalami kenaikan, faktor‑faktor penyangga seperti pasar tenaga kerja yang masih fleksibel dan kebijakan moneter yang hati‑hati menurunkan risiko inflasi meluas. Pemerintah diharapkan terus memantau dinamika pasar serta memberikan kebijakan penyesuaian yang tepat untuk melindungi daya beli konsumen, terutama di sektor makanan pokok.
Dengan situasi yang terus berubah, konsumen disarankan untuk mengelola anggaran belanja secara cermat, memanfaatkan harga turun pada komoditas lain, serta mengikuti informasi resmi dari otoritas setempat guna mengantisipasi fluktuasi harga minyak dan BBM di masa mendatang.