Liput – 05 April 2026 | Dalam rentang dua puluh empat jam terakhir, sayap militer Hizbullah melancarkan sebanyak enam puluh serangan ke wilayah Israel, menandai intensitas operasi yang belum pernah terlihat sejak konflik berskala besar antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meletus pada awal tahun 2026. Serangan-serangan tersebut mencakup roket, artileri, serta penggunaan drone tak berawak, dan sebagian besar diarahkan ke zona perbatasan selatan Israel serta instalasi militer strategis.
Serangan ini terjadi bersamaan dengan gelombang retorika panas antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan pejabat militer Iran. Trump kembali mengancam akan menurunkan “neraka” atas Iran melalui platform media sosialnya, sementara juru bicara Khatam al‑Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menanggapi dengan pernyataan serupa, menyatakan bahwa seluruh kawasan akan menjadi neraka jika konflik terus meningkat. Kedua belah pihak telah melancarkan serangan balasan ke target masing‑masing, termasuk serangan rudal Iran ke wilayah Teluk, Irak, dan Israel serta operasi udara AS‑Israel ke instalasi militer Iran.
Keberanian Hizbullah dalam melakukan serangan massal ini dipicu oleh dua faktor utama. Pertama, pernyataan tegas Iran yang menegaskan bahwa seluruh kawasan akan berubah menjadi “neraka” bila Amerika Serikat dan sekutunya melanjutkan aksi militer. Kedua, dugaan keterlibatan drone milik Arab Saudi atau Uni Emirat Arab (UEA) yang dilaporkan jatuh di provinsi Fars, Iran, menambah ketegangan regional. Drone tersebut, yang diyakini jenis Wing Loong buatan China, menunjukkan kemungkinan dukungan langsung atau tidak langsung dari negara‑negara Teluk terhadap operasi anti‑Iran, memperluas dimensi konflik.
Serangan Hizbullah mencakup peluncuran roket dari wilayah selatan Lebanon ke kota-kota di Israel, termasuk kota-kota perbatasan seperti Nahariya dan Kiryat Shmona. Beberapa roket berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel, namun puing‑puingnya jatuh di wilayah penduduk sipil, menimbulkan kerusakan infrastruktur dan kepanikan warga. Selain roket, Hizbullah juga meluncurkan beberapa drone bersenjata yang diduga terinspirasi dari model MQ‑9 Reaper yang pernah ditembak jatuh di Iran pada awal bulan April.
Di sisi lain, Iran meningkatkan operasi rudalnya ke Israel dan negara‑negara Teluk, menembakkan lebih dari dua puluh misil dalam periode yang sama. Puing‑puing yang berhasil diintersep kembali meluncur ke wilayah sipil, menambah beban kerusakan. Amerika Serikat, melalui Pentagon, melaporkan bahwa lebih dari tiga ratus anggota militernya terluka dalam rangkaian pertempuran yang kini memasuki minggu keenam sejak serangan pertama pada akhir Februari 2026. Sementara itu, pilot F‑15 Eagle yang sempat terbunuh di wilayah Iran selatan pada 3 April berhasil diselamatkan, menambah dinamika geopolitik di udara.
Penggunaan sistem pertahanan udara canggih menjadi sorotan. Iran mengklaim berhasil menjatuhkan drone dengan sistem Day‑9, sedangkan Israel mengandalkan Iron Dome dan sistem pertahanan udara lainnya untuk menahan serangan roket. Keberhasilan Iran menembak jatuh drone Wing Loong menandakan peningkatan kapabilitas pertahanan udara Tehran, yang dapat memengaruhi strategi militer pihak‑pihak lain di kawasan.
Komunitas internasional menyuarakan keprihatinan atas potensi meluasnya konflik. PBB menyerukan gencatan senjata segera, sementara sekutu‑sekutu tradisional Amerika Serikat di kawasan Teluk menghadapi dilema antara mendukung aliansi dengan Washington dan menghindari eskalasi yang dapat melibatkan wilayah mereka secara langsung. Sementara itu, warga sipil di Lebanon, Israel, dan Iran menanggung beban utama berupa ketakutan, kerusakan rumah, serta gangguan ekonomi akibat ketidakstabilan yang berkepanjangan.
Secara keseluruhan, serangan enam puluh kali lipat oleh Hizbullah dalam satu hari menegaskan bahwa kelompok militan ini tidak lagi bersikap pasif, melainkan mengambil peran aktif dalam memperluas front konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, Israel, serta negara‑negara Teluk. Dinamika ini menambah kompleksitas perundingan diplomatik dan meningkatkan risiko terjadinya konflik berskala lebih luas di Timur Tengah.
Jika tidak ada upaya diplomatik yang efektif, kawasan ini berpotensi meluncur ke dalam spiral kekerasan yang tak terkendali, mengancam stabilitas regional dan menambah penderitaan rakyat sipil di seluruh wilayah yang terlibat.