Liput – 19 April 2026 | Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali berada di sorotan publik setelah tiga isu utama muncul secara bersamaan pada pekan ini. Pertama, BMKG menepis klaim viral di media sosial yang menyatakan tahun 2026 akan menjadi musim kemarau terparah dalam tiga dekade terakhir. Kedua, lembaga tersebut mengeluarkan peringatan dini tentang potensi gelombang tinggi yang dapat mencapai hingga empat meter di perairan Indonesia. Ketiga, tim lapangan BMKG sedang menyelidiki fenomena suara gemuruh misterius yang dilaporkan muncul dari dalam tanah di Bitung, Sulawesi Utara.
Isu kemarau terparah beredar luas sejak pertengahan April 2026, terutama melalui unggahan di Facebook yang mengaitkan pernyataan tersebut dengan BMKG. Pada 19 April 2026, pihak BMKG secara resmi membantah bahwa mereka pernah menyatakan bahwa kemarau 2026 akan menjadi yang paling ekstrem dalam 30 tahun terakhir. Sekretaris BMKG menegaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan disinformasi dan tidak memiliki dasar ilmiah. Meskipun begitu, BMKG mengakui bahwa prakiraan musiman menunjukkan curah hujan tahun ini akan berada di bawah rata‑rata klimatologis tiga dekade, yang berarti kondisi kering lebih terasa di beberapa wilayah, terutama daerah pertanian.
Dalam klarifikasi yang sama, BMKG menekankan bahwa istilah “Kemarau Godzilla” atau “El‑Nino Godzilla” tidak pernah dipakai dalam laporan resmi. Pihak lembaga mengimbau masyarakat untuk selalu memeriksa sumber informasi melalui kanal resmi BMKG, seperti situs web dan akun media sosial terverifikasi, sebelum mempercayai berita yang beredar.
Sementara itu, pada tanggal 20 April 2026 BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang diproyeksikan berlangsung hingga 23 April 2026. Berdasarkan analisis sinoptik, kecepatan angin di wilayah Indonesia bagian utara diperkirakan bergerak dari barat laut ke timur laut dengan kecepatan 6‑20 knot, sementara di bagian selatan angin dapat mencapai 6‑25 knot. Kondisi ini menghasilkan tiga zona utama gelombang:
- Kategori Tinggi: 2,5‑4,0 meter – diperkirakan terjadi di Samudra Hindia barat, sepanjang pantai selatan Jawa Barat, dan Laut Arafuru.
- Kategori Sedang: 1,25‑2,5 meter – diperkirakan meliputi perairan di sekitar Pulau Jawa, Selat Sunda, dan bagian timur Kepulauan Sunda.
- Kategori Ringan: di bawah 1,25 meter – mencakup sebagian besar wilayah Laut Jawa dan Laut Sulawesi.
Peringatan ini ditujukan khusus bagi pelayaran komersial, nelayan, serta penduduk pesisir yang harus meningkatkan kewaspadaan. BMKG menyarankan penggunaan perahu yang sesuai standar keamanan, menghindari pelayaran pada jam puncak gelombang, serta memantau pembaruan prakiraan secara berkala melalui aplikasi resmi.
Tak kalah penting, pada 14 Juni 2026 tim BMKG bersama pemerintah Kota Bitung melakukan inspeksi lapangan setelah warga melaporkan suara gemuruh misterius yang terdengar dari dalam tanah di Lorong 8, Madidir Ure. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Bitung, Altin Abraham Tumengko, menyatakan bahwa fenomena tersebut tidak terkait dengan gempa bumi yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Forecaster BMKG setempat, Niken Kusumawardani, menegaskan bahwa data seismik tidak menunjukkan aktivitas tektonik yang dapat menimbulkan suara tersebut.
Tim BMKG kini berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk melakukan investigasi lebih lanjut. Penelitian melibatkan penggunaan sensor infrasonik dan geofisika khusus yang dapat mendeteksi sumber suara di lapisan tanah. Jika hasil akhir menunjukkan adanya aktivitas vulkanik atau gas bumi, langkah mitigasi akan disesuaikan.
Ketiga peristiwa ini menegaskan peran strategis BMKG dalam memberikan informasi yang akurat, mengantisipasi bencana, dan menolak hoaks yang dapat menimbulkan kepanikan. Masyarakat diharapkan tetap mengikuti pembaruan resmi, terutama menjelang musim hujan dan periode potensi gelombang tinggi, serta melaporkan fenomena tak wajar kepada otoritas terkait.
Dengan pendekatan ilmiah dan transparansi, BMKG berupaya memastikan keamanan publik serta kesiapan penanganan darurat di seluruh wilayah kepulauan Indonesia.