Semeru Meletus 7 Kali dalam Sehari, Kolom Abu Menembus 1,1 Km – Warga Dilarang Masuk Radius 5 km

Liput – 07 April 2026 | Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, kembali mengamuk pada Senin, 6 April 2026. Dalam rentang waktu kurang dari satu hari, puncak gunung mengeluarkan tujuh ledakan vulkanik yang menghasilkan kolom abu setinggi 300 hingga 1.100 meter, setara dengan ketinggian menara pencakar langit.

Menurut laporan petugas Pos Pantau Gunung Semeru, Liswanto, erupsi pertama tercatat pada pukul 00.38 WIB dengan kolom abu mencapai sekitar 1.000 meter. Selanjutnya, aktivitas berlanjut pada pukul 02.15, 04.02, 05.28, 06.51, 08.10, dan yang terakhir pada pukul 09.29 WIB. Pada pukul 06.51 WIB, kolom abu mencapai puncak tertinggi yaitu 1.100 meter (1,1 km) dan berwarna putih‑kelabu dengan intensitas sedang ke arah selatan.

Data seismograf menunjukkan amplitudo maksimum 23 mm dengan durasi rata‑rata 135 detik untuk masing‑masing ledakan, menandakan energi yang cukup signifikan meski belum masuk kategori super‑erupsi.

Berikut rangkuman singkat tiap erupsi:

  • 00:38 WIB – Kolom abu ~1.000 m, arah barat daya.
  • 02:15 WIB – Kolom abu ~300 m, intensitas ringan.
  • 04:02 WIB – Kolom abu ~500 m, arah selatan.
  • 05:28 WIB – Kolom abu ~800 m, awan panas terpantau hingga 3,5 km.
  • 06:51 WIB – Kolom abu tertinggi 1.100 m, warna putih‑kelabu.
  • 08:10 WIB – Kolom abu ~700 m, awan panas menyebar ke lembah Besuk Kobokan.
  • 09:29 WIB – Visual letusan tidak terlihat, namun aktivitas masih berlangsung.

PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) menempatkan Semeru pada status Level III (Siaga). Rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan mencakup larangan aktivitas di dalam radius 5 km dari kawah, serta pembatasan masuk dalam zona 13 km di sepanjang aliran sungai Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Masyarakat juga diinstruksikan untuk menjauh setidaknya 500 meter dari tepi sungai karena potensi lahar yang dapat merambah hingga 17 km dari puncak.

Erupsi kali ini menambah catatan panjang aktivitas Semeru sejak abad ke‑19. Pada periode 1818‑1940, letusan tercatat sporadis. Masa intensif terjadi antara 1945‑1989, diikuti fase erupsi berulang pada 1990‑2008. Tahun 2014‑2017 mencatat frekuensi erupsi hampir bulanan, dengan skala VEI 2‑3. Erupsi besar pada 2021‑2022 serta aktivitas berulang 2024‑2026 menunjukkan pola kontinu yang khas bagi gunung berstatus “kontinu”.

Sejak awal April 2026, kolom abu berkisar 300‑1.100 meter, menandakan bahwa Semeru sedang berada pada fase eruptif yang tinggi. Pemerintah daerah Lumajang dan Malang bersama BNPB terus memantau situasi, menyiapkan evakuasi darurat, serta mengaktifkan pusat komando bencana.

Hingga saat penulisan, belum ada laporan korban jiwa atau kerusakan infrastruktur signifikan. Namun, potensi bahaya awan panas, batu pijar, dan lahar tetap tinggi, khususnya bagi penduduk yang tinggal di lembah‑lembah aliran sungai yang mengalir langsung dari lereng gunung.

Dengan kondisi yang masih bergejolak, warga diimbau untuk mematuhi arahan petugas, menyiapkan ransum darurat, dan mengikuti informasi resmi melalui kanal PVMBG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Kesiapsiagaan bersama menjadi kunci mengurangi dampak sosial‑ekonomi yang mungkin timbul dari erupsi berikutnya.

Secara keseluruhan, erupsi 7 kali pada hari yang sama menegaskan status Semeru sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Pengawasan terus menerus, edukasi masyarakat, serta koordinasi lintas lembaga menjadi fondasi utama dalam menghadapi ancaman vulkanik yang bersifat dinamis.