Video Viral Pengeroyokan Ketua Lembaga Viral For Justice: Polisi Surabaya Resmi Terima Laporan

Liput – 15 April 2026 | Surabaya, 14 April 2026 – Sebuah video yang menampilkan aksi pengeroyokan terhadap ketua organisasi non-pemerintah Viral For Justice menjadi perbincangan hangat di media sosial sejak Selasa, 14 April 2026. Rekaman tersebut, yang diunggah melalui platform Instagram pada sore hari, menampilkan sosok pria bersenjata sederhana yang menyerang Ketua lembaga tersebut di sebuah warung kelontong di kawasan Surabaya Barat. Kejadian itu terekam oleh kamera pengawas (CCTV) warung, lalu menyebar cepat ke berbagai kanal digital, memicu kemarahan publik dan menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan publik serta penyalahgunaan kekuasaan dalam aksi premanisme.

Menurut saksi mata yang berada di lokasi, serangan dimulai ketika korban, yang dikenal sebagai salah satu aktivis hak asasi manusia, memasuki warung untuk membeli kebutuhan harian. Tanpa peringatan, pria berpenampilan sederhana namun berotot menghampiri korban, mengancam dengan suara keras, “Bakar kau bakar!” sambil mengeluarkan botol cairan yang diduga bensin serta korek api. Ia kemudian memukul korban secara fisik, menyebabkan luka memar di wajah dan lengan. Beberapa warga yang menyaksikan aksi tersebut segera turun tangan, melerai pertikaian dan berhasil menahan pelaku sebelum ia sempat menyalakan api.

Setelah insiden, pihak kepolisian Surabaya, tepatnya Polrestabes Surabaya, menerima laporan resmi dari perwakilan Viral For Justice. Pada sore yang sama, unit Reskrim Polrestabes Surabaya mengonfirmasi bahwa laporan telah diterima dan penyelidikan kini tengah berjalan. “Kami telah mencatat semua bukti visual, termasuk rekaman CCTV, dan akan melakukan proses identifikasi pelaku serta memeriksa latar belakangnya,” ujar Kapolrestabes Surabaya dalam sebuah pernyataan resmi. Pihak kepolisian menambahkan bahwa mereka akan menindaklanjuti kasus ini sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terkait ancaman, penganiayaan, dan percobaan pembakaran.

Kejadian ini mengingatkan publik pada pola serupa yang terjadi beberapa minggu sebelumnya, ketika seorang pria yang diduga anggota organisasi masyarakat (ormas) mengancam akan membakar warung karena tidak diberikan uang sebesar Rp250 ribu. Video tersebut juga terekam oleh CCTV dan menjadi viral, memicu diskusi tentang meningkatnya tindakan premanisme di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Kedua insiden menonjolkan peran penting media sosial dalam mempercepat penyebaran video kekerasan, sekaligus meningkatkan tekanan publik terhadap aparat penegak hukum untuk memberikan respons cepat dan tegas.

Para ahli keamanan siber menilai bahwa viralitas video kekerasan dapat memperparah situasi, karena dapat menjadi bahan propaganda bagi kelompok-kelompok radikal. “Ketika video semacam ini tersebar luas, bukan hanya korban yang menderita, tetapi juga rasa aman masyarakat terganggu. Pemerintah perlu memperkuat mekanisme pelaporan cepat serta edukasi publik tentang penggunaan media sosial secara bertanggung jawab,” ujar Dr. Arif Nugroho, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.

  • Video menunjukkan ancaman pembakaran dan pemukulan.
  • Polrestabes Surabaya telah menerima laporan resmi dari Viral For Justice.
  • Warga berhasil mencegah aksi pembakaran dengan intervensi cepat.
  • Kasus serupa terjadi sebelumnya, menandakan pola kekerasan yang mengkhawatirkan.
  • Para ahli mengingatkan pentingnya regulasi dan edukasi media sosial.

Pihak Viral For Justice menyatakan keseriusan mereka dalam menuntut keadilan. Ketua organisasi tersebut, yang identitasnya dirahasiakan demi keamanan, menegaskan bahwa tindakan hukum harus diambil terhadap pelaku serta pihak yang memberi dukungan. “Kami menolak segala bentuk intimidasi dan premanisme. Kami berharap proses hukum berjalan transparan dan pelaku mendapatkan sanksi yang setimpal,” tuturnya dalam pernyataan tertulis yang disampaikan melalui kantor organisasi.

Kasus ini juga menimbulkan respons dari pejabat daerah. Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, melalui juru bicara, menyampaikan rasa prihatin atas kejadian tersebut dan menegaskan komitmen pemerintah kota untuk meningkatkan keamanan di wilayah-wilayah komersial serta memastikan bahwa tindakan premanisme tidak lagi terjadi. Ia menambahkan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan kepolisian untuk memperkuat patroli keamanan serta menyediakan sarana pelaporan yang mudah diakses warga.

Seiring berjalannya penyelidikan, publik menunggu hasil resmi dari Polrestabes Surabaya. Sementara itu, para aktivis dan organisasi masyarakat terus menyerukan transparansi proses hukum serta perlindungan bagi korban kekerasan. Video yang kini telah ditonton lebih dari satu juta kali menjadi simbol peringatan akan pentingnya menegakkan keadilan secara cepat, terutama di era digital yang memungkinkan penyebaran informasi secara masif dalam hitungan menit.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan bahaya premanisme dan penyalahgunaan media sosial, diharapkan langkah-langkah preventif dapat diterapkan secara lebih luas, termasuk pelatihan keamanan bagi pemilik usaha kecil dan peningkatan koordinasi antara kepolisian serta lembaga swadaya masyarakat. Hasil akhir penyelidikan akan menjadi tolok ukur efektivitas penegakan hukum di Surabaya serta memberikan sinyal kuat kepada pihak-pihak yang berniat melakukan aksi serupa di masa mendatang.