Liput – 14 April 2026 | Sriwijaya, Sragen – Fenomena hoarding disorder atau gangguan menimbun barang yang berlebihan kini menjadi sorotan di Kabupaten Sragen, khususnya di kalangan warga lanjut usia. Penyakit mental ini ditandai dengan ketidakmampuan untuk membuang atau menyingkirkan barang, bahkan ketika barang tersebut tidak lagi berguna. Menurut tim medis Puskesmas Sragen, peningkatan kasus hoarding disorder pada lansia berpotensi menimbulkan dampak kesehatan fisik dan psikologis yang serius, termasuk peningkatan risiko penyumbatan saluran pembuangan rumah.
Hoarding disorder bukan sekadar kebiasaan mengoleksi barang; ia merupakan kondisi klinis yang diakui oleh DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Pada lansia, faktor-faktor seperti isolasi sosial, trauma masa lalu, serta penurunan fungsi kognitif dapat memperparah gejala. Di Sragen, dokter keluarga Dr. Rina Widyastuti mencatat bahwa setidaknya 12% warga berusia di atas 60 tahun menunjukkan pola menimbun yang mengganggu kualitas hidup mereka.
Berikut adalah beberapa ciri khas hoarding disorder yang sering terlihat pada lansia Sragen:
- Keterikatan emosional yang kuat terhadap barang, meski sudah rusak atau usang.
- Kehilangan kemampuan menilai nilai fungsional barang, sehingga menumpuk barang tanpa pertimbangan.
- Penolakan kuat untuk membuang atau menyumbangkan barang meski diminta oleh anggota keluarga atau tenaga medis.
- Kondisi rumah yang sempit atau berantakan karena tumpukan barang yang tidak teratur.
- Stres atau kecemasan yang meningkat ketika harus menghadapi proses pembersihan.
Gejala‑gejala tersebut tidak hanya memengaruhi kebersihan dan kenyamanan tempat tinggal, melainkan juga berpotensi menimbulkan masalah pada sistem sanitasi rumah. Dalam banyak kasus di Sragen, penumpukan sampah rumah tangga dan barang tidak terpakai mengakibatkan saluran toilet tersumbat. Penelitian lokal menunjukkan bahwa tumpukan kertas, kemasan, bahkan bahan non‑organik yang dibuang sembarangan ke toilet meningkatkan risiko penyumbatan, yang selanjutnya dapat memicu infeksi saluran kemih atau penyakit kulit pada penghuni rumah.
Untuk mengatasi hoarding disorder, pendekatan multidisiplin sangat dibutuhkan. Tim kesehatan Sragen menggabungkan terapi perilaku kognitif (CBT) dengan intervensi sosial, seperti program kunjungan rumah oleh pekerja sosial dan penyuluhan tentang pentingnya kebersihan lingkungan. Dr. Rina menambahkan, “Terapi harus disesuaikan dengan kemampuan kognitif lansia, serta melibatkan keluarga dalam proses pemberdayaan dan pendampingan.”
Selain terapi, langkah praktis yang dapat diterapkan meliputi:
- Identifikasi dan klasifikasi barang yang masih bernilai fungsional.
- Penetapan zona penyimpanan khusus untuk meminimalkan penumpukan.
- Penerapan jadwal rutin pembersihan bersama keluarga atau relawan lokal.
- Penggunaan tempat sampah terpisah khusus untuk barang yang tidak dapat didaur ulang.
- Konsultasi dengan tenaga profesional bila saluran pembuangan mengalami masalah berulang.
Upaya preventif ini tidak hanya menurunkan tingkat stres pada lansia, tetapi juga mengurangi beban kerja pada sistem pipa rumah, yang sering kali dirancang dengan aliran rendah. Menjaga kebersihan toilet dengan tidak membuang barang selain kotoran dan tisu toilet khusus menjadi bagian penting dalam mencegah penyumbatan yang dapat memperburuk kondisi kesehatan penghuni rumah.
Komunitas Sragen juga berperan aktif melalui program “Rumah Bersih, Jiwa Sehat” yang didukung oleh pemerintah daerah. Program ini mengadakan workshop edukasi tentang hoarding disorder, serta menyediakan layanan pembersihan gratis bagi keluarga yang membutuhkan bantuan. Sejumlah relawan lokal juga berkolaborasi dengan dinas sosial untuk mengidentifikasi rumah-rumah yang menunjukkan tanda‑tanda hoarding disorder secara dini.
Kesimpulannya, hoarding disorder pada lansia Sragen merupakan masalah kesehatan mental yang memerlukan perhatian khusus. Dampaknya tidak hanya terbatas pada psikologis, melainkan juga memengaruhi kondisi sanitasi rumah dan kesehatan fisik. Dengan sinergi antara tenaga medis, pekerja sosial, dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan angka kasus dapat ditekan serta kualitas hidup para lansia di Sragen meningkat secara signifikan.