Liput – 06 April 2026 | Pada malam 4 April 2026, warga di provinsi Lampung dan Banten menyaksikan sebuah cahaya terang yang meluncur cepat melintasi langit, memancarkan jejak bercahaya dan kemudian terpecah menjadi beberapa serpihan. Kejadian yang awalnya menimbulkan spekulasi meteor atau rudal balistik ini kini telah dikonfirmasi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai sampah antariksa berupa sisa roket peluncur China tipe CZ-3B.
Prof. Thomas Djamaluddin, peneliti utama bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, menjelaskan bahwa objek tersebut merupakan bagian ketiga (third stage) roket Long March-3B yang diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Xichang pada 23 Januari 2025 untuk mengantarkan satelit komunikasi TJSW-14. Menurut data yang diperoleh dari sistem pelacakan Space‑Track, puing roket tersebut masuk kembali ke atmosfer Bumi dari arah India, meluncur menuju Samudra Hindia di sebelah barat Sumatera.
Menurut pernyataan resmi yang disampaikan pada Senin, 6 April 2026, objek mulai terlihat pada pukul 19.56 WIB dengan ketinggian menurun di bawah 120 kilometer. Pada fase ini atmosfer menjadi cukup padat sehingga gesekan udara menghasilkan suhu ekstrem, menyebabkan tubuh roket terbakar dan terfragmentasi. Proses re‑entry ini menghasilkan cahaya terang yang terlihat jelas oleh masyarakat, sekaligus menimbulkan kesan bahwa benda tersebut bergerak perlahan dan berpecah‑pecah.
Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Wahyudi Hasbi, menambahkan bahwa bagian roket yang terdeteksi memiliki panjang sekitar 12,4 meter, diameter 3 meter, dan massa kosong sekitar 2,8 ton. Meskipun berat, sebagian besar massa tersebut terbakar habis sebelum mencapai permukaan. Hasil analisis memperkirakan titik jatuh akhir puing berada di perairan Samudra Hindia, jauh dari wilayah pemukiman, sehingga risiko dampak langsung terhadap manusia dianggap sangat minim.
Tim Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL) juga melakukan verifikasi visual berdasarkan rekaman video warga. Mereka mencatat bahwa kecepatan relatif objek menurun ketika memasuki lapisan atmosfer yang lebih padat, ciri khas sampah antariksa buatan manusia, berbeda dengan meteorit yang biasanya melaju lebih cepat dan tidak terfragmentasi secara signifikan.
Fenomena serupa tidak baru bagi Indonesia. Pada tahun 2022, sampah antariksa serupa terdeteksi di wilayah Lampung dan jatuh di daerah Sanggau, Kalimantan Barat. Namun, kejadian pada April 2026 menjadi sorotan utama karena visualisasi yang lebih jelas dan partisipasi aktif media sosial yang menyebarkan video berulang kali.
- Objek: sisa roket CZ-3B (Long March‑3B) buatan China.
- Waktu penampakan: 4‑5 April 2026, pukul 19.56 WIB.
- Ketinggian saat masuk atmosfer: <120 km.
- Arah masuk: dari arah India menuju Samudra Hindia.
- Lokasi dampak: diperkirakan di perairan Samudra Hindia, jauh dari pemukiman.
BRIN menegaskan bahwa kejadian semacam ini merupakan bagian dari dinamika aktivitas antariksa global. Setiap tahun ribuan fragmen puing antariksa masuk kembali ke atmosfer Bumi, sebagian besar terbakar total. Hanya sebagian kecil yang selamat sampai ke permukaan, biasanya jatuh di lautan atau daerah tak berpenduduk. Pihak lembaga mengimbau masyarakat untuk tidak panik apabila menyaksikan fenomena serupa di masa mendatang, sekaligus memanfaatkan momen tersebut untuk meningkatkan literasi sains dan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah antariksa.
Secara keseluruhan, penjelasan resmi dari BRIN, didukung oleh data pelacakan orbit dan analisis teknis tim ilmuwan, menegaskan bahwa kilatan di langit Lampung‑Banten bukan ancaman kosmik melainkan bukti nyata sampah antariksa yang kembali ke Bumi. Pemerintah dan komunitas ilmiah akan terus memantau fenomena re‑entry serupa, sekaligus memperkuat kerjasama internasional dalam mengurangi limbah antariksa yang dapat menimbulkan bahaya di masa depan.