Harga Minyak Melonjak di Atas $100 per Barrel Pasca Blokade AS di Selat Hormuz

Liput – 14 April 2026 | Pasar energi global mengalami lonjakan tajam pada hari Senin ketika harga minyak mentah Brent menembus level $100 per barrel, meningkat hampir enam persen setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan blokade terhadap Selat Hormuz. Selat strategis ini menjadi jalur utama bagi sekitar tiga perempat produksi minyak Persia ke pasar dunia, sehingga setiap gangguan signifikan berdampak pada pasokan internasional.

Blokade yang diumumkan Trump setelah kegagalan pembicaraan gencatan senjata selama 21 jam menambah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Iran menanggapi dengan mengancam semua pelabuhan di Teluk Persia dan Teluk Oman, memperburuk kekhawatiran akan kelangkaan minyak di pasar internasional. Sebelum konflik, harga Brent berada di kisaran $70 per barrel; kini, harga tersebut mencapai $101,90 per barrel, meskipun masih di bawah puncak historis $119 yang pernah tercapai pada fase paling intens perang.

Reaksi pasar saham di Amerika Utara relatif tenang meski harga minyak naik drastis. Indeks S&P 500 hampir tidak berubah pada sesi pagi, sementara Dow Jones turun 0,5 persen dan Nasdaq naik 0,3 persen. Di Kanada, indeks S&P/TSX mencatat kenaikan tipis sebesar 2,30 poin. Sektor energi menunjukkan kekuatan, dengan saham perusahaan minyak seperti Halliburton naik 1,9 persen dan ConocoPhillips meningkat 1,1 persen. Sementara itu, pasar obligasi tetap stabil; imbal hasil Treasury 10 tahun sedikit naik menjadi 4,33 persen.

Para analis menilai bahwa pasar masih mengharapkan kemungkinan de‑eskalasi. Sameer Samana, kepala global equities dan real assets di Wells Fargo Investment Institute, menyatakan bahwa percakapan antara pihak-pihak yang berkonflik memberikan sedikit harapan, meskipun risiko geopolitik tetap tinggi. Kenaikan harga minyak diperkirakan akan menekan biaya transportasi dan logistik, serta meningkatkan harga barang kebutuhan pokok seperti produk pertanian impor, daging, dan produk susu di pasar ritel.

Di sisi lain, proyeksi jangka panjang menunjukkan bahwa jika blokade Selat Hormuz terus berlanjut, harga minyak dapat mencapai $150 per barrel, menurut beberapa analis energi. Potensi penutupan jalur utama ini dapat mengakibatkan penurunan pasokan global hingga 5 juta barrel per hari, memicu lonjakan harga yang lebih ekstrem.

Pengaruhnya tidak hanya terbatas pada pasar energi. Saham-saham di bursa Eropa dan Asia mengalami penurunan, dengan indeks Hang Seng di Hong Kong dan Kospi di Korea Selatan masing-masing turun 0,9 persen. Investor global tampak mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas, sementara mata uang dolar AS tetap menguat sebagai mata uang safe‑haven.

Meski demikian, sejumlah negara produsen minyak OPEC+ berusaha menyeimbangkan pasar dengan menyesuaikan produksi. Sumber internal OPEC menyebutkan bahwa mereka siap meningkatkan output bila tekanan harga berkelanjutan, untuk mencegah ketidakseimbangan yang dapat merusak ekonomi global.

Ketegangan politik yang memicu lonjakan harga minyak ini juga memicu perdebatan di dalam negeri AS. Kritik terhadap kebijakan luar negeri Trump muncul, dengan sejumlah pengamat menilai bahwa langkah blokade dapat memperburuk inflasi domestik, terutama pada sektor transportasi dan energi rumah tangga. Pemerintah federal diperkirakan akan memantau dampak inflasi secara ketat, sambil menyiapkan kebijakan penanggulangan energi darurat jika diperlukan.

Secara keseluruhan, situasi tetap dinamis. Pasar energi menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap keputusan geopolitik, dan tindakan selanjutnya dari kedua belah pihak—AS dan Iran—akan menentukan arah pergerakan harga minyak dalam minggu-minggu mendatang. Pemerintah dan pelaku pasar disarankan untuk terus memantau perkembangan diplomatik serta kebijakan produksi OPEC+, guna mengantisipasi fluktuasi harga yang dapat berdampak luas pada perekonomian global.