Rating Google Toko Kue Gambang Semarang Anjlok Jadi 2,8, Apa Penyebabnya?

Liput – 04 April 2026 | Rating Google Toko Kue Gambang yang berlokasi di Pasar Johar, Semarang, mengalami penurunan drastis hingga mencapai angka 2,8 pada Jumat, 3 April 2026 pukul 22.30 WIB. Penurunan ini menjadi sorotan publik setelah serangkaian isu viral di media sosial mengenai dugaan keterlibatan anak wali kota Semarang serta tuduhan penjebolan tembok ilegal di kawasan pasar.

Sejak awal pekan ini, ribuan warganet menyerbu kolom ulasan Google dengan rating bintang satu. Banyak di antaranya menuliskan keluhan yang tidak selalu berhubungan dengan pengalaman bertransaksi di toko tersebut. Analisis awal menunjukkan sebagian besar ulasan bersifat emosional, didorong oleh narasi yang beredar luas di platform Instagram @tokokuegambang dan media sosial lainnya.

Isu utama yang memicu kegemparan publik adalah rumor bahwa toko kue tersebut dimiliki atau dikelola oleh anak wali kota Semarang. Narasi ini menyebar cepat setelah foto-foto yang diklaim menunjukkan sosok muda yang dikenal publik berkunjung ke toko tersebut. Namun, pihak pengelola toko sekaligus Dinas Perdagangan Kota Semarang secara tegas membantah keterlibatan anggota keluarga pejabat dalam operasional toko. Dalam pernyataan resmi, mereka menegaskan bahwa semua perizinan usaha telah lengkap dan tidak ada unsur nepotisme.

Selain spekulasi kepemilikan, muncul pula tuduhan bahwa toko kue tersebut melakukan penjebolan tembok di area Pasar Johar Utara untuk memperlebar akses masuk. Menurut laporan yang tersebar, proses pembongkaran tembok diklaim dilakukan tanpa izin, sehingga menimbulkan protes dari pedagang sekitar yang menganggap langkah tersebut dapat mengganggu tata ruang pasar. Pihak pengelola menanggapi dengan menyatakan bahwa segala pekerjaan konstruksi telah melalui prosedur perizinan yang sah, termasuk persetujuan dari Dinas Penataan Ruang. Mereka juga menambahkan bahwa kehadiran toko kue telah memberikan dampak positif bagi pedagang lain, terutama dengan meningkatnya arus pembeli ke pasar.

Pengamat media sosial menilai fenomena ini sebagai contoh jelas bagaimana opini publik dapat terbentuk dalam hitungan menit melalui platform digital. “Ulasan negatif yang beredar tidak selalu berlandaskan pengalaman nyata. Kadang, motivasi emosional atau agenda politik menjadi faktor utama,” ujar Dr. Rina Prasetyo, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Semarang. Ia menambahkan bahwa algoritma Google Review cenderung menurunkan rating secara signifikan ketika terdapat lonjakan ulasan bintang satu dalam waktu singkat.

Respons Google terhadap manipulasi ulasan memang telah diatur dalam kebijakan mereka, namun proses peninjauan memerlukan waktu. Sementara itu, pemilik toko mengumumkan rencana untuk meningkatkan layanan dan transparansi, termasuk membuka sesi tanya jawab daring dengan konsumen serta memperbaharui foto-foto interior toko di profil Google Business.

Pedagang sekitar Pasar Johar memberikan pandangan yang lebih netral. Beberapa di antaranya menyatakan bahwa kehadiran Toko Kue Gambang membawa peningkatan penjualan karena konsumen yang datang untuk membeli kue juga membeli produk lain di pasar. “Kami memang melihat peningkatan pelanggan sejak toko itu buka, jadi kami berharap isu ini tidak mengganggu kegiatan perdagangan di sini,” kata Siti, seorang penjual sayur yang telah berjualan di pasar selama 15 tahun.

Dalam upaya meredam penyebaran informasi yang belum terverifikasi, Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Semarang berjanji akan melakukan monitoring terhadap konten viral yang berpotensi menimbulkan kepanikan atau kerugian ekonomi. Mereka menegaskan pentingnya verifikasi fakta sebelum menyebarkan informasi, terutama yang berhubungan dengan pejabat publik.

Secara keseluruhan, penurunan rating Google Toko Kue Gambang mencerminkan dinamika interaksi antara media sosial, opini publik, dan reputasi bisnis lokal. Meskipun isu-isu tersebut masih diperdebatkan, langkah-langkah perbaikan yang diambil oleh pengelola diharapkan dapat memulihkan kepercayaan konsumen dalam jangka menengah.

Kesimpulannya, penurunan rating menjadi sinyal peringatan bagi pelaku usaha agar selalu menjaga transparansi, memperkuat hubungan dengan pelanggan, serta siap menghadapi tantangan reputasi di era digital.