Ibunda Irish Bella Lontarkan Sindiran Pedas, Ammar Zoni Dijadikan ‘Kambing Hitam’ dalam Kegaduhan Media Sosial

Liput – 11 April 2026 | Ruang publik kembali diwarnai dengan sorotan tajam ketika sebuah cuitan yang diunggah oleh ibu dari aktris populer Irish Bella menyinggung mantan menantu keluarga, Ammar Zoni. Sindiran tersebut menimbulkan perdebatan hangat di media sosial, memperlihatkan dinamika hubungan keluarga pasca perceraian yang tak lagi bersahabat. Pada dasarnya, cuitan itu mengangkat isu pencarian “kambing hitam” yang diyakini menjadi pola lama dalam keluarga tersebut.

Menurut laporan yang beredar, ibu Irish Bella menuliskan komentar yang menyiratkan bahwa Ammar Zoni selalu mencari pihak lain untuk dijadikan sasaran ketika terjadi masalah. Kalimat yang dipilih terkesan menyinggung, menyebut bahwa sang mantan menantu “selalu cari kambing hitam” dalam setiap perselisihan. Meskipun tidak menyebut nama secara eksplisit, konteks jelas mengarah pada Ammar Zoni yang baru-baru ini menjadi sorotan publik karena mengaitkan mantan istrinya dalam sebuah pledoi yang dipublikasikan.

Pledoi Ammar Zoni, yang dipublikasikan lewat akun media sosialnya, berisi penjelasan mengenai alasan di balik perceraian dengan Irish Bella. Dalam pledoi tersebut, Ammar menyinggung mantan pasangan dan menambah nama-nama orang terdekat yang, menurutnya, turut berkontribusi pada keretakan hubungan. Ungkapan-ungkapan tersebut kemudian memicu reaksi keras dari pihak keluarga Irish Bella, terutama sang ibu, yang menanggapinya dengan sindiran yang kini menjadi viral.

Berikut rangkaian peristiwa utama yang menjadi latar belakang kegaduhan ini:

  • November 2023: Ammar Zoni mengumumkan perceraian dengan Irish Bella melalui pernyataan resmi.
  • Desember 2023: Ammar Zoni mengunggah pledoi yang memuat tuduhan terhadap pihak-pihak tertentu, termasuk mantan istri dan orang terdekatnya.
  • Januari 2024: Ibu Irish Bella mengunggah cuitan sindiran yang menyebutkan “selalu cari kambing hitam”.
  • Februari 2024: Netizen ramai memperdebatkan siapa yang menjadi pihak benar, dengan banyak komentar menyoroti dinamika keluarga pasca perceraian.

Reaksi publik terbagi menjadi dua kubu utama. Sebagian menganggap cuitan ibu Irish Bella sebagai bentuk pertahanan diri terhadap serangan pribadi yang dianggap tidak adil. Mereka berargumen bahwa setiap pihak berhak mengeluarkan pendapat di ruang publik, terutama bila menyangkut nama baik keluarga. Di sisi lain, netizen lain menilai bahwa sindiran tersebut menambah provokasi, memperburuk suasana, dan tidak membantu proses penyelesaian masalah secara damai.

Para pakar hubungan keluarga mengingatkan bahwa perceraian, terutama yang melibatkan figur publik, seringkali menjadi ajang pertarungan psikologis dan reputasi. “Ketika kedua belah pihak mengeluarkan pernyataan publik yang saling menuding, hal itu tidak hanya menciptakan polarisasi di antara para pendukung, melainkan juga merusak citra keluarga secara keseluruhan,” ujar Dr. Siti Nurhaliza, pakar psikologi keluarga. “Sebagai gantinya, mediasi pribadi atau melalui pihak ketiga yang netral biasanya lebih efektif dalam menyelesaikan konflik semacam ini.”

Tak hanya itu, pengamat media sosial menyoroti bahwa fenomena cuitan pedas ini mencerminkan tren baru dalam penyelesaian sengketa pribadi melalui platform digital. “Di era digital, setiap orang dapat menjadi penulis sejarah pribadi mereka, namun harus menyadari bahwa setiap kata yang diposting dapat berdampak luas, terutama jika melibatkan tokoh publik,” kata Budi Santoso, analis media digital.

Hingga saat ini, Ammar Zoni belum memberikan respons resmi terhadap sindiran yang dilontarkan oleh ibu Irish Bella. Sementara itu, pihak manajemen Irish Bella menegaskan bahwa mereka akan tetap menjaga privasi keluarga dan tidak akan terlibat dalam pertikaian publik lebih lanjut. Kedua belah pihak tampaknya memilih untuk menahan diri, memberi ruang bagi proses penyembuhan pribadi yang lebih tenang.

Kasus ini menegaskan pentingnya kebijaksanaan dalam berkomunikasi di media sosial, terutama ketika melibatkan anggota keluarga dan mantan pasangan. Penggunaan kata-kata yang tepat serta pengendalian emosi menjadi kunci untuk menghindari eskalasi konflik yang dapat meluas ke publik. Semoga ke depannya, semua pihak dapat menemukan jalan tengah yang konstruktif, menjauhkan diri dari pertikaian yang hanya menambah beban emosional.