Liput – 10 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026 – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat, mendorong rupiah Indonesia menembus level psikologis Rp17.000 per dolar. Pada sore hari, kurs spot mencatat rupiah melemah 0,46 persen menjadi Rp17.090 per dolar, sementara kurs referensi Bank Indonesia (Jisdor) berada di Rp17.082. Pergerakan ini terjadi seiring dengan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan di Selat Hormuz, serta kebijakan fiskal yang telah memperhitungkan fluktuasi nilai tukar.
Analisis Doo Financial Futures, yang dikutip oleh beberapa media, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen pasar yang berbalik negatif akibat naiknya harga minyak mentah dunia. Menurut Lukman Leong, faktor eksternal seperti gencatan senjata yang belum pasti di wilayah tersebut menambah tekanan pada mata uang Garuda. Di sisi lain, indeks dolar AS melemah sedikit, sekitar 0,07‑0,71 persen, namun masih cukup kuat untuk menahan rupiah di zona lemah.
Berita pasar valuta asing menunjukkan bahwa mata uang Asia lainnya juga mengalami depresiasi. Yen Jepang turun 0,30 persen, baht Thailand hampir stagnan, yuan China melemah 0,11 persen, peso Filipina turun 0,55 persen, dan won Korea Selatan turun 0,19 persen. Dolar Singapura dan Hong Kong masing-masing melemah 0,09 persen dan 0,04 persen. Sementara mata uang utama negara maju seperti euro, poundsterling, dan franc Swiss mengalami penguatan tipis.
Di pasar domestik, bank-bank besar nasional mematok kurs jual dolar AS di atas Rp17.000. Berikut rangkuman kurs e‑Rate yang tercatat pada hari Kamis, 9 April 2026:
| Bank | Kurs Beli (Rp) | Kurs Jual (Rp) |
|---|---|---|
| Bank Central Asia (BCA) | 16.965 | 17.045 |
| Bank Rakyat Indonesia (BRI) | 16.948 | 17.100 |
| Bank Mandiri | 16.980 | 17.010 |
| Bank Negara Indonesia (BNI) | 16.955 | 17.045 |
Data tersebut mencerminkan konsistensi kebijakan bank dalam menyesuaikan nilai tukar di tengah volatilitas pasar. Sementara itu, kurs spot pada pukul 10.35 WIB menunjukkan nilai rupiah berada di level Rp17.056 per dolar, menandakan penurunan 44 poin atau 0,26 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, yang dipimpin oleh Febrio Kacaribu, menegaskan bahwa fluktuasi nilai tukar sudah masuk dalam perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. “Sudah masuk dalam perhitungan, kami tidak masalah,” ujar Febrio dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa meskipun harga minyak mentah dunia (ICP) berada di US$77 per barel—di atas asumsi dasar APBN—kondisi tersebut masih dalam batas aman. Defisit APBN diproyeksikan tetap di bawah 2,9 persen, jauh di bawah batas toleransi 3 persen.
Secara fundamental, ekonomi Indonesia menunjukkan performa yang kuat. Realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun, naik 10,5 persen secara tahunan, dan pajak mencapai Rp462,7 triliun dengan pertumbuhan 14,3 persen yoy. Peningkatan tersebut menambah bantalan fiskal untuk menahan guncangan eksternal.
Namun, para pengamat tetap memperingatkan bahwa tekanan eksternal dapat berlanjut. Gejolak di Timur Tengah, kebijakan moneter Federal Reserve AS, serta dinamika politik internasional, terutama kebijakan Presiden Amerika Serikat yang baru—Donald Trump—dalam menangguhkan aksi militer terhadap Iran, menjadi faktor yang dapat memicu volatilitas lebih lanjut. Meskipun demikian, pasar domestik masih menilai bahwa penurunan nilai rupiah belum mencerminkan kelemahan fundamental ekonomi, melainkan lebih pada reaksi terhadap faktor luar.
Dengan kurs berada di kisaran Rp16.950‑Rp17.100 per dolar, para pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Sementara pemerintah terus memantau dampak kurs terhadap belanja negara, konsumen dan pelaku usaha disarankan untuk memperhatikan fluktuasi nilai tukar dalam perencanaan keuangan mereka.