Liput – 08 April 2026 | Fabio Capello kembali menjadi sorotan publik setelah mengeluarkan pernyataan tegas mengenai proses pemilihan pelatih tim nasional Italia. Dalam sebuah wawancara dengan Adkronos, Capello menegaskan bahwa Antonio Conte adalah kandidat yang tepat, sekaligus menolak Roberto Mancini sebagai pilihan yang layak. Pernyataan ini muncul di tengah kegelisahan publik Italia setelah kegagalan timnas di laga Bosnia-Italia, yang menandai kegagalan ketiga Italia untuk lolos ke Piala Dunia 2026.
Capello, yang pernah memimpin timnas Italia meraih gelar juara dunia pada 2006, menambahkan bahwa proses seleksi masih berlangsung, namun ia yakin Conte dapat mengembalikan kejayaan Italia. “Saya tidak tahu apakah proses seleksi sudah ditutup, tapi Conte sudah menawarkan diri, menurut saya itu ide yang bagus,” ujarnya. Ia juga menegaskan kembali penolakannya terhadap Mancini, menyebutnya “tidak layak” untuk memimpin timnas.
Sementara itu, Capello juga muncul dalam sorotan internasional terkait komentar tentang David Beckham. Dalam sebuah konferensi pers pasca pertandingan Real Madrid melawan tim lokal, Capello memuji sikap profesional Beckham, menyoroti kontribusi pentingnya melalui sebuah tendangan bebas yang menghasilkan gol kemenangan 2-1. “Beckham adalah pemain yang sangat terintegrasi dalam skuad, dan kami semua sangat senang dengan kehadirannya,” kata Capello, menambah bahwa sikapnya selalu menjadi contoh bagi generasi pemain muda.
Tak hanya itu, warisan Capello dalam dunia sepak bola juga terukir kuat melalui prestasi klub. Pada 1994, Capello memimpin AC Milan meraih gelar UEFA Champions League dengan mengalahkan Barcelona 4-0 dalam final yang legendaris. Kemenangan tersebut tidak hanya menegaskan taktik defensif yang disiplin, tetapi juga menyoroti keputusan strategis Capello dalam mengorbankan pemain asing demi menyiapkan formasi yang optimal. Berikut beberapa poin penting dari perjalanan kariernya:
- 1994: Memimpin AC Milan mengalahkan Barcelona 4-0 di final Champions League.
- 2004-2006: Melatih timnas Italia, meraih Gelar Dunia 2006.
- 2010-2011: Mengembalikan Juventus ke Serie A setelah skandal Calciopoli.
- 2017-2018: Membawa Real Madrid ke semifinal Liga Champions.
Keberhasilan Capello di level klub dan internasional menjadikannya salah satu manajer paling dihormati di era modern. Namun, gaya kepemimpinannya yang tegas dan terkadang konfrontatif tidak jarang menimbulkan kontroversi, seperti hubungannya dengan pemain bintang dan keputusan taktis yang berani.
Dalam konteks terkini, pernyataan Capello tentang pemilihan pelatih Italia menambah dinamika politik sepak bola Italia yang sudah panas. Setelah kegagalan melawan Bosnia, publik menuntut perubahan struktural, dan Capello tampaknya mendukung solusi yang melibatkan tokoh-tokoh berpengalaman seperti Antonio Conte. Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), yang harus menimbang antara pengalaman, visi taktis, serta dukungan publik.
Selain peran di Italia, Capello juga terus memberikan pengaruh di arena internasional melalui komentar publiknya. Sikapnya yang terbuka terhadap pemain seperti Beckham menunjukkan bahwa ia tetap relevan dalam diskusi tentang perkembangan pemain dan taktik modern. Penghargaan terhadap etos kerja dan profesionalisme menjadi bagian penting dari filosofi kepelatihan Capello, yang selalu menekankan pentingnya disiplin, kebugaran, dan mental juara.
Kesimpulannya, Fabio Capello tetap menjadi figur sentral dalam sepak bola dunia, baik lewat prestasi masa lalu maupun pernyataan kontemporer yang mengarahkan debat publik. Dari mengukir sejarah di Milan hingga mengkritik kebijakan federasi, Capello menunjukkan bahwa pengaruhnya melampaui lapangan hijau, menembus ranah politik olahraga dan budaya tim.