Liput – 12 April 2026 | Jakarta, 12 April 2026 – Mantan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), baru-baru ini mengingat kembali keputusan strategisnya pada tahun 2006 yang mengirimkan putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), bersama dua prajurit TNI lainnya ke misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Keputusan tersebut tidak hanya menjadi tonggak pertama kontingen Garuda di Lebanon, tetapi juga membuka jalan bagi generasi penerus yang kini mengemban peran penting di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan media nasional, SBY menegaskan bahwa pemilihan prajurit muda untuk penempatan pertama di UNIFIL merupakan bagian dari upaya memperkuat reputasi militer Indonesia di panggung internasional. “Kami ingin menunjukkan bahwa TNI mampu beroperasi secara profesional, bahkan dalam situasi yang sangat kompleks seperti konflik Israel‑Lebanon,” ujar SBY sambil mengingat keberangkatan kontingen pada 4 November 2006.
Kontingen tersebut terdiri dari 850 prajurit, termasuk Letnan Satu Iftitah Sulaiman yang saat ini menjabat sebagai Menteri Transmigrasi dalam Kabinet Prabowo. Bersama AHY dan prajurit lain bernama Ossy Darmawan, mereka menumpang kapal kargo berbendera Amerika Serikat, menempuh rute Jakarta – Selat Malaka – perairan Somalia – Terusan Suez, hingga tiba di pelabuhan Beirut.
Selama penugasannya, Iftitah mengungkapkan bahwa ia naik pangkat menjadi Kapten dan memimpin batalion mekanis yang bertanggung jawab mengawal logistik penting. Durasi penugasan satu tahun yang dijalaninya menjadi yang terlama, melampaui batas standar maksimal sembilan bulan untuk kontingen Garuda.
- 2006: Keberangkatan 850 prajurit TNI, termasuk AHY, Iftitah, dan Ossy.
- 2006‑2007: Penugasan di wilayah selatan Lebanon, fokus pada pengamanan zona konflik dan dukungan kemanusiaan.
- 2022‑2024: Iftitah meniti karier politik, terpilih sebagai anggota DPR, kemudian menjadi Menteri Transmigrasi.
- 2024‑2026: Prabowo Subianto membentuk kabinet baru, menempatkan Iftitah sebagai menteri, menandai generasi pertama kontingen UNIFIL menjadi pemimpin politik tingkat tinggi.
Selama penempatan di Lebanon, pasukan UNIFIL Indonesia memperkenalkan program Civic Military Cooperation (CMI) yang bertujuan membangun kepercayaan dengan warga setempat. Salah satu inovasi paling terkenal adalah mobil perpustakaan keliling yang menyediakan akses bacaan bagi anak‑anak di daerah konflik. Iftitah menambahkan bahwa pendekatan humanis ini berhasil menurunkan ketegangan dan meningkatkan citra TNI di mata masyarakat Lebanon.
Salah satu tantangan paling sensitif yang dihadapi kontingen adalah pengamanan area makam yang diperebutkan oleh Israel dan Lebanon. Makam tersebut terbagi menjadi dua bagian – satu untuk Syekh Abbad (500 tahun lalu) dan satu lagi untuk Rabbi Assy (1.500 tahun lalu). Karena letaknya yang berada di titik tinggi, area tersebut menjadi medan kritis bagi manuver militer. Pasukan asal Spanyol yang sebelumnya mengamankan lokasi memberi instruksi tidak membawa senjata untuk menghindari provokasi dengan Israel. Namun, mandat UNIFIL chapter 6.5 tetap memperbolehkan penggunaan senjata bila diperlukan untuk pertahanan diri.
Pengalaman lapangan tersebut, menurut Iftitah, mengasah kemampuan kepemimpinan dan diplomasi militer yang kemudian menjadi modal penting dalam karier politiknya. “Melihat langsung konsekuensi konflik, serta bagaimana kita dapat meredakan ketegangan melalui aksi kemanusiaan, memberi saya perspektif yang berbeda tentang pelayanan publik,” katanya dalam program Real Talk with Uni Lubis pada 11 April 2026.
Pergeseran peran dari prajurit menjadi menteri mencerminkan tren politik Indonesia di mana veteran militer beralih ke kancah pemerintahan. Kabinet Prabowo, yang menekankan pada stabilitas keamanan dan pembangunan infrastruktur, secara khusus menempatkan Iftitah di Kementerian Transmigrasi, sebuah posisi strategis untuk mengelola mobilitas penduduk dan pembangunan daerah terpencil.
SBY menilai keputusan tersebut sejalan dengan visi jangka panjangnya mengenai peran TNI dalam pembangunan nasional. “Kami selalu berharap bahwa pengalaman militer dapat menjadi aset berharga dalam kebijakan publik. Lihat saja Iftitah, yang kini memimpin program transmigrasi, mengimplementasikan prinsip disiplin dan kepedulian yang sama seperti saat bertugas di Lebanon,” ujarnya dengan nada optimis.
Keberhasilan kontingen pertama Indonesia di UNIFIL tidak hanya menjadi catatan sejarah militer, melainkan juga titik tolak bagi generasi pemimpin yang menggabungkan nilai-nilai kedisiplinan militer dengan kebijakan sosial‑ekonomi. Dengan Iftitah Sulaiman kini berada di pucuk pimpinan kementerian, harapan publik terhadap sinergi antara keamanan dan pembangunan semakin besar.
Secara keseluruhan, ingatan SBY tentang pengiriman AHY ke Lebanon pada 2006 sekaligus transformasi anggota kontingen menjadi menteri menegaskan bahwa sejarah militer Indonesia terus berlanjut ke ranah politik, memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional sekaligus memberikan kontribusi konkret bagi kemajuan dalam negeri.