Spanyol Gertak Uni Eropa: Tangguhkan Perjanjian Israel Usai Serangan Brutal di Lebanon

Liput – 10 April 2026 | Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, menekan Uni Eropa (UE) untuk menangguhkan Perjanjian Asosiasi 1995 antara UE dan Israel setelah serangan udara Israel yang menelan ratusan korban jiwa di Lebanon. Dalam unggahan resmi di platform X, Sánchez menilai serangan terbaru Israel sebagai “pengabaian terhadap nyawa manusia dan hukum internasional yang tidak dapat ditoleransi” serta menuntut langkah tegas, termasuk pembekuan hubungan dagang dan kerja sama politik yang diatur dalam perjanjian tersebut.

Sánchez menekankan bahwa Lebanon harus dimasukkan dalam skema gencatan senjata yang sedang dibahas antara Amerika Serikat dan Iran, serta menyerukan komunitas internasional untuk mengutuk pelanggaran hukum internasional yang terjadi. Ia menambahkan, “Tidak boleh ada impunitas atas tindakan kriminal ini,” menyoroti perlunya akuntabilitas bagi semua pihak yang terlibat.

Data yang dirilis oleh Pertahanan Sipil Lebanon mencatat setidaknya 254 warga tewas dan 1.165 luka-luka akibat serangan pada Rabu, 8 April 2026. Serangan itu meluas ke wilayah Beirut, Lembah Bekaa, Pegunungan Lebanon, Sidon, serta sejumlah desa di selatan negara itu. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan angka korban yang terus meningkat, menambah tekanan pada sistem medis yang sudah tertekan akibat kekurangan stok darah dan tenaga medis.

Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares, menegaskan bahwa operasi militer Israel yang terus berlanjut di Lebanon merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang saat ini berlaku. “Semua front harus menghentikan tembakan, termasuk Lebanon,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers, menambah suara Spanyol yang semakin kritis terhadap kebijakan Israel di kawasan Timur Tengah.

Desakan Spanyol tidak muncul begitu saja. Pada Maret 2025, Sánchez telah mengecam serangan Israel di Lebanon sebagai “pelanggaran hukum internasional” dan menyerukan agar Lebanon dimasukkan ke dalam rangkaian gencatan senjata. Sikap tersebut kini diikuti oleh sejumlah negara Eropa lain, meskipun belum ada konsensus yang jelas di antara anggota UE untuk menangguhkan perjanjian.

Israel, melalui juru bicaranya, menolak klaim bahwa serangan tersebut melanggar hukum internasional. Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, menyatakan bahwa operasi militer itu ditujukan untuk menghentikan serangan roket dari kelompok bersenjata Lebanon yang dianggap mengancam keamanan Israel. Netanyahu juga menolak memasukkan Lebanon ke dalam gencatan senjata yang dibicarakan antara AS dan Iran, menegaskan bahwa konflik ini tetap menjadi urusan internal Israel.

Sejumlah analis geopolitik menilai bahwa penangguhan perjanjian UE-Israel dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi dan diplomatik yang signifikan. Perjanjian Asosiasi 1995 mencakup perdagangan bebas, kolaborasi teknologi, dan kerjasama politik yang menguntungkan kedua belah pihak. Menangguhkan perjanjian tersebut dapat menghambat investasi Eropa di Israel serta memengaruhi pasar energi dan teknologi di wilayah tersebut.

  • Korban tewas: minimal 254 jiwa
  • Korban luka: 1.165 orang
  • Wilayah terdampak: Beirut, Bekaa, Mount Lebanon, Sidon, desa-desa selatan

Meski tekanan internasional semakin kuat, keputusan akhir masih berada di tangan Komisi Eropa dan Dewan UE. Sánchez menunggu respons resmi, sambil menegaskan bahwa Spanyol tidak akan menutup mata terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Lebanon. Ia menutup dengan harapan bahwa langkah kolektif UE dapat mendorong deeskalasi, melindungi warga sipil, dan menegakkan prinsip hukum internasional.