Liput – 10 April 2026 | Setelah 40 hari ditutup oleh otoritas Israel, Masjid al‑Aqsa di Kota Tua Yerusalem resmi dibuka kembali pada pagi hari Senin. Ribuan jamaah Muslim Palestina melaksanakan salat Subuh secara berbondong‑bondong, menandai berakhirnya penutupan terpanjang sejak pendudukan 1967. Namun, momen kebahagiaan itu segera berubah menjadi sorotan internasional ketika sekelompok pemukim Yahudi yang baru saja tiba di kawasan tersebut langsung menyerbu kompleks suci, menimbulkan konfrontasi yang menambah ketegangan politik dan keamanan di wilayah yang sudah rawan.
Menurut laporan keamanan, otoritas Israel menyiapkan pasukan kepolisian dan penjaga perbatasan dalam jumlah ratusan untuk mengamankan lorong‑lorong utama di Kota Tua, termasuk jalan menuju Masjid al‑Aqsa, Masjid Nabi, Gereja Makam Kudus, dan situs‑situs suci lainnya. Pengamanan intensif mencakup pos pemeriksaan, pemantauan CCTV, serta patroli berkala di sepanjang tembok pemisah. Langkah ini diambil untuk mencegah gangguan dan memastikan keselamatan para pengunjung, terutama menjelang perayaan keagamaan yang sensitif.
Pemukim Yahudi yang berjumlah beberapa puluh orang, dipimpin oleh aktivis kemasyarakatan dari komunitas Yerusalem Barat, melanggar larangan yang dikeluarkan otoritas keamanan dengan memasuki area Al‑Aqsa tanpa izin. Mereka mengangkat bendera dan mengeluarkan teriakan yang menyinggung sensitifitas umat Islam. Kejadian ini memicu respons cepat dari polisi Israel yang berupaya memisahkan kedua belah pihak, namun situasi tetap tegang selama beberapa menit.
Berbagai pihak mengkritik tindakan pemukim tersebut. Pemerintah Palestina menuduh Israel melonggarkan kontrol atas tempat suci demi kepentingan politik, sementara pejabat Israel menegaskan bahwa penegakan hukum sedang berjalan dan beberapa pemukim telah dikenai peringatan resmi. Organisasi hak asasi manusia internasional menyerukan investigasi independen terhadap insiden ini serta penegakan hukum yang adil untuk semua pihak.
Penutupan Masjid al‑Aqsa selama empat puluh hari sebelumnya dipicu oleh meningkatnya ancaman keamanan dan serangkaian insiden kekerasan di Yerusalem Timur. Selama periode tersebut, otoritas Israel melarang pelaksanaan ibadah Subuh, Idul Fitri, serta perayaan Paskah pada gereja‑gereja Ortodoks setempat. Keputusan itu menuai protes luas dari komunitas Muslim dan Kristen, yang menilai pembatasan tersebut melanggar kebebasan beribadah.
Berikut adalah langkah‑langkah utama yang diambil otoritas Israel dalam upaya mengamankan kembali Masjid al‑Aqsa:
- Penempatan ratusan petugas kepolisian di pintu masuk utama dan area perbatasan.
- Pemasangan titik‑titik kontrol kendaraan dan pejalan kaki.
- Peningkatan patroli militer di sekitar kompleks suci.
- Penggunaan kamera pengawas dengan kemampuan pengenalan wajah.
- Koordinasi dengan pemimpin agama Muslim dan Kristen untuk menjamin kelancaran ibadah.
Kejadian serbuan pemukim Yahudi menambah daftar panjang insiden yang mengguncang Yerusalem dalam enam minggu terakhir, termasuk bentrokan di kawasan Silwan, penangkapan aktivis Palestina, dan penutupan sementara situs‑situs ibadah lainnya. Semua peristiwa ini memperburuk situasi politik di wilayah tersebut, yang sudah dipengaruhi oleh konflik Gaza‑Israel, perayaan keagamaan yang bersamaan, dan tekanan internasional untuk menurunkan tingkat kekerasan.
Para ahli geopolitik menilai bahwa insiden ini mencerminkan dinamika internal Israel, di mana kelompok pemukim berupaya menegaskan klaim historis mereka atas Yerusalem, sementara pemerintah Israel berusaha menyeimbangkan antara kepentingan politik domestik dan tekanan diplomatik internasional. Di sisi lain, kepemimpinan Palestina menekankan pentingnya melanjutkan dialog damai dan menolak segala bentuk provokasi yang dapat memicu kerusuhan massal.
Meski keamanan di wilayah Al‑Aqsa tetap ketat, ribuan jamaah tetap melaksanakan ibadah Subuh dengan tenang setelah pengamanan berhasil memisahkan pihak yang terlibat. Pada akhirnya, peristiwa ini menegaskan betapa rapuhnya keseimbangan antara kebebasan beribadah dan keamanan di kota suci yang menjadi titik fokus tiga agama besar dunia.
Kesimpulannya, pembukaan kembali Masjid al‑Aqsa menjadi momen penting bagi umat Muslim Palestina, namun serbuan pemukim Yahudi menambah lapisan ketegangan yang memaksa pihak berwenang untuk meningkatkan pengamanan secara signifikan. Situasi yang masih belum stabil ini menuntut perhatian terus‑menerus dari komunitas internasional agar tidak berujung pada eskalasi lebih luas.