Liput – 21 April 2026 | Sabtu, 21 April 2026, stadion Abanca‑Riazor menjadi saksi sengitnya duel antara Deportivo Alavés dan CD Mirandés di Liga 2 Spanyol. Pertandingan yang awalnya tampak seimbang berubah menjadi drama kontroversial setelah keputusan video‑assisted referee (VAR) menimbulkan perdebatan hangat di kalangan pelaku dan penggemar.
Pukulan pertama datang pada menit ke‑41 ketika pemain Deportivo, Carlos Fernández, berhasil mengeksekusi penalti yang memberi tim tuan rumah keunggulan 1‑0. Namun, gol tersebut hanya membuka babak selanjutnya yang dipenuhi keputusan‑keputusan meragukan. Pada menit ke‑51, Mirandés menyamakan kedudukan lewat gol Mario Soriano setelah serangan balik cepat. Dua menit kemudian, Yeremay menambah kedudukan Mirandés lewat penalti kedua, membuat skor menjadi 2‑1 untuk tim asal Ebro.
Puncak kontroversi terjadi pada menit ke‑57 ketika Alti, pemain Deportivo, melakukan regu dengan mengincar ruang di area pertahanan Mirandés. Dari ruang VAR, asisten VAR David Gálvez memberi isyarat kepada wasit lapangan Álvaro Moreno, menyatakan bahwa “pemain Mirandés sedang diam, dan Altimira yang menimpa defender”. Namun, Moreno menolak rekomendasi VAR dan tetap menegakkan penalti terhadap Mirandés, menganggap ada kontak yang menghalangi Alti. Keputusan tersebut menambah gol ketiga Deportivo, mengokohkan keunggulan 3‑1.
Selain insiden penalti, ada dua keputusan lain yang menambah rasa frustrasi Mirandés. Pertama, pada awal babak pertama, wasit tidak memberi penalti atas handball Loureiro di dalam kotak penalti, padahal bola jelas menyentuh tangan pemain bertahan. Kedua, ketika penjaga gawang Mirandés, Álvaro Fernández, menjatuhkan Unax dalam satu aksi, wasit hanya memperlihatkan kartu kuning, bukan kartu merah yang seharusnya diberikan menurut peraturan.
Pelatih Mirandés, Antxón Muneta, menilai bahwa “kami merasa sangat dirugikan oleh keputusan yang tidak konsisten. VAR seharusnya membantu, bukan menambah kebingungan”. Ia menambahkan bahwa timnya tetap fokus pada target utama: mengamankan posisi di Liga 2. “Kami masih memiliki satu pertandingan lagi dan harus memanfaatkan setiap peluang”, kata Muneta dalam konferensi pers pasca pertandingan.
Situasi klasemen menambah tekanan. Mirandés berada di zona ancaman dengan selisih poin tipis dari klub-klub lain seperti Zaragoza, Cádiz, dan Valladolid yang juga berjuang menghindari degradasi. Keberhasilan mereka pada pertandingan berikutnya sangat menentukan apakah mereka dapat menutup jarak dua poin dengan tim-tim yang berada di atas mereka.
Analisis taktik menunjukkan bahwa Mirandés mengandalkan serangan balik cepat melalui sayap kiri, memanfaatkan kecepatan Alti dan kreativitas Javi Hernández. Namun, defensif mereka terpaksa mengorbankan kestabilan akibat keputusan wasit yang dianggap tidak adil. Sementara Deportivo, di bawah arahan pelatih mereka, memanfaatkan peluang lewat set‑piece dan serangan terorganisir, yang terbukti efektif setelah gol penalti ketiga.
Pengamat sepak bola lokal menilai bahwa insiden ini menyoroti perlunya peninjauan kembali prosedur VAR di Liga 2. “Jika VAR tidak dapat memberikan penilaian yang jelas, maka kepercayaan publik terhadap otoritas kompetisi akan menurun”, ujar Gustavo Conde, kolumnis AS Mirandés.
Ke depannya, Mirandés harus memperbaiki fokus mental dan menyiapkan strategi yang lebih defensif untuk menahan serangan lawan, sambil tetap mencari celah pada serangan balik. Pertandingan selanjutnya melawan tim yang bersaing di zona aman dapat menjadi peluang penting untuk mengumpulkan poin tambahan.
Kesimpulannya, kontroversi VAR yang melibatkan penalti misterius, bersama dengan keputusan wasit lain yang dipertanyakan, menambah beban mental bagi Mirandés. Meski begitu, tekad pelatih dan pemain untuk bertahan dan berjuang hingga akhir musim tetap menjadi faktor kunci dalam upaya mereka mengamankan posisi permanen di LaLiga 2.