Liput – 20 April 2026 | Pertandingan penentu A-League menahun antara Wellington Phoenix dan Western Sydney Wanderers pada 18 April 2026 di Christchurch berakhir dengan skor 2-1 untuk Phoenix. Gol pertama dicetak oleh Ifeanyi Eze pada menit ke-23 setelah umpan silang tajam dari Tim Payne, diikuti oleh gol balasan cepat dari Kazuki Nagasawa pada babak pertama. Di babak kedua, Eze kembali menjadi pahlawan dengan mencetak gol penentu lewat serangan balik yang memanfaatkan kembali umpan silang Payne.
Pelatih interim Wellington Phoenix, Chris Greenacre, mengungkapkan kebahagiaan timnya setelah kemenangan tersebut. “Kami sangat senang dengan hasil ini. Kami ingin tetap hidupkan mimpi kami dan memastikan tim lain harus bekerja keras untuk merebut posisi kami,” kata Greenacre dalam konferensi pers pasca pertandingan.
Namun, kegembiraan tersebut tidak cukup untuk mengamankan tempat Phoenix di babak playoff. Pada malam yang sama, Melbourne City mengalahkan Brisbane Roar 3-2, menambah tiga poin penting yang menempatkan Phoenix empat poin di belakang zona playoff dengan satu pertandingan tersisa. Akibatnya, Phoenix harus menunggu hasil akhir dari pertandingan melawan Macarthur FC pada akhir pekan untuk mengetahui nasib mereka.
Di sisi lain, Western Sydney Wanderers mengalami campuran emosi. Meskipun mereka kembali mengalami kekalahan dari Phoenix, klub ini sempat meraih kemenangan moral pada pertemuan sebelumnya melawan tim yang sama, yang membantu mengangkat semangat tim menjelang akhir musim. Namun, sorotan utama klub kini bergeser ke isu off‑field yang mengganggu.
Baru-baru ini, eksekutif utama Wanderers, Scott Hudson, menjadi target kampanye smear yang menyebarkan dokumen palsu menuduh pelanggaran batas gaji (salary cap) A-League. Dokumen yang mengaku berasal dari Australian Professional Leagues (APL) menyatakan bahwa klub telah melampaui batas pembayaran pemain pada paruh kedua musim 2025/2026. APL kemudian menegaskan bahwa surat tersebut palsu dan tidak ada bukti pelanggaran. Situasi ini menambah tekanan pada manajemen Wanderers yang sudah berjuang di papan klasemen, dengan klub berakhir di posisi terendah bersama Sydney FC.
Secara statistik, Phoenix menutup musim reguler dengan 34 poin, menempati posisi kedua di klasemen wanita A-League dan masuk playoff pertama kali dalam lima tahun terakhir. Tim mencatat rekor serangan terbanyak dengan 38 gol dan pertahanan paling solid dengan hanya 17 kebobolan. Namun, pada level pria, Phoenix harus puas dengan posisi keenam, yang kini berada di luar zona playoff setelah kegagalan menutup celah poin.
Berikut rangkuman statistik utama pertandingan:
- Skor akhir: Wellington Phoenix 2 – 1 Western Sydney Wanderers
- Penjaga gawang Phoenix, Victoria Esson, mencatat satu clean sheet pada pertandingan ini.
- Gol Phoenix: Ifeanyi Eze (23′, 68′), Kazuki Nagasawa (45+2′)
- Gol Wanderers: Tim Payne (penyedia assist)
- Kartu kuning: 3 (2 untuk Phoenix, 1 untuk Wanderers)
Selain isu di atas, A-League juga sedang menyiapkan jadwal final musim 2025/26, dengan Wellington Phoenix dan Melbourne City dijadwalkan bertemu pada babak semifinal kedua. Kemenangan Phoenix atas Wanderers menambah intensitas persaingan, namun tekanan untuk melampaui batas poin masih terasa.
Dengan sisa satu pertandingan, Phoenix harus menumpuk tiga poin melawan Macarthur FC untuk menutup jarak dengan tim-tim di zona playoff. Sementara itu, Western Sydney Wanderers berupaya memperbaiki citra mereka di luar lapangan dan fokus pada perbaikan performa di sisa musim, berharap dapat menghindari gelar ‘wooden spoon’ dan menyiapkan fondasi yang lebih kuat untuk musim berikutnya.
Kesimpulannya, pertandingan Wellington Phoenix vs Western Sydney menjadi sorotan utama akhir musim A-League, menampilkan drama di atas lapangan sekaligus isu-isu administratif yang memengaruhi kedua klub. Bagi Phoenix, kemenangan ini tidak cukup untuk mengamankan tiket playoff, sementara Wanderers harus mengatasi tantangan internal dan eksternal untuk bangkit kembali.