Maracanazo Historis: Independiente Rivadavia Balikkan Kekalahan dan Menang 2-1 atas Fluminense di Maracanã

Liput – 16 April 2026 | Independiente Rivadavia mencatatkan salah satu momen paling bersejarah dalam sejarah klub Argentina ketika mengalahkan Fluminense dengan skor 2-1 di stadion legendaris Maracanã, Rio de Janeiro, pada pertandingan kedua Grup C Copa Libertadores 2026. Kemenangan ini tidak hanya memberikan tiga poin penuh bagi tim yang dipimpin oleh pelatih Alfredo Berti, tetapi juga menempatkan mereka sebagai pemimpin tunggal grup dengan total enam poin, mengukuhkan posisi mereka sebagai kandidat kuat untuk melaju ke fase knockout.

Pertandingan dimulai dengan tekanan agresif dari pihak tuan rumah. Pada menit ke-10, gelandang Brasil Guilherme Arana berhasil menembus pertahanan Rivadavia dan mencetak gol pembuka lewat tendangan akhir yang tepat sasaran. Gol tersebut memberikan Fluminense keunggulan awal dan menegaskan niat mereka untuk mendominasi laga di kandang.

Meskipun tertinggal, Independiente Rivadavia tidak kehilangan fokus. Tim menampilkan pola permainan yang terstruktur, menekan sisi sayap dan memanfaatkan bola mati. Upaya itu berbuah pada menit ke-37, ketika striker asal Italia-Argentina Fabrizio Sartori mengeksekusi tendangan bebas yang melengkung ke sudut gawang, memaksa kiper Fluminense melakukan penyelamatan yang gagal. Gol tersebut menyamakan kedudukan menjadi 1-1, menambah tekanan pada Fluminense yang kini harus berjuang untuk mempertahankan keunggulan.

Memasuki babak kedua, Rivadavia meningkatkan intensitas serangannya. Pada menit ke-51, Alex Arce, pemain asal Paraguay, berhasil memanfaatkan kesalahan pertahanan Fluminense dan menempatkan bola ke dalam kotak penalti, menyelesaikannya dengan tembakan kuat ke sudut bawah gawang. Gol ini menjadikan skor 2-1 untuk Rivadavia dan mengubah dinamika pertandingan secara drastis.

Fluminense berusaha bangkit pada menit-menit akhir, menciptakan beberapa peluang melalui serangan sayap, namun semua tembakan mereka ditangkis dengan sigap oleh kiper Rivadavia, yang tampil luar biasa dengan beberapa penyelamatan krusial, termasuk satu tendangan keras yang hampir masuk pada menit ke-85.

Berikut adalah rangkaian kejadian penting dalam pertandingan:

  • 10′ – Guilherme Arana (Fluminense) membuka skor lewat tendangan akhir.
  • 37′ – Fabrizio Sartori (Independiente Rivadavia) menyamakan kedudukan dari tendangan bebas.
  • 51′ – Alex Arce (Independiente Rivadavia) mencetak gol kemenangan setelah memanfaatkan kesalahan lini belakang Fluminense.
  • 85′ – Penyelesaian keras Fluminense dicegat oleh kiper Rivadavia.

Kemenangan ini menempatkan Independiente Rivadavia sebagai klub Argentina ketiga yang berhasil meraih kemenangan di Maracanã, bergabung dengan Central Córdoba de Santiago del Estero dan Lanús. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa tim yang relatif baru dalam kompetisi ini mampu menantang tim-tim besar dari Brasil, yang biasanya mendominasi laga di kandang mereka.

Pelatih Alfredo Berti memberikan pujian kepada skuadnya setelah pertandingan, menekankan pentingnya mentalitas juara dan disiplin taktis. “Kami datang ke Maracanã dengan tujuan jelas: menunjukkan bahwa kami bukan tim yang mudah dikalahkan. Para pemain menunjukkan keberanian dan ketangguhan yang luar biasa, terutama dalam mengatasi tekanan di babak pertama,” ujar Berti dalam konferensi pers pasca laga.

Di sisi lain, pelatih Fluminense, Zubeldía, mengakui bahwa timnya kurang konsentrasi pada fase kedua pertandingan. “Kami memulai dengan baik, namun tidak dapat menahan tekanan Rivadavia. Kesalahan defensif di menit 51 menjadi titik balik yang menentukan,” kata Zubeldía.

Dengan hasil ini, Independiente Rivadavia akan menjamu La Guaira pada 30 April 2026 di Stadion Malvinas Argentinas, sementara Fluminense harus melawan Bolívar pada tanggal yang sama. Kedua tim kini berada dalam situasi yang berbeda; Rivadavia memimpin grup, sedangkan Fluminense harus mengejar poin untuk tetap berada dalam zona aman.

Kemenangan ini tidak hanya memperkuat posisi Rivadavia di klasemen, tetapi juga memberikan dorongan moral bagi para pendukungnya di seluruh Argentina, terutama di provinsi Mendoza, yang menyaksikan tim mereka mengukir sejarah di panggung kontinen.