Drama Internal AS Roma Meledak: Gasperini vs Ranieri, Dampak pada Musim 2025/2026

Liput – 13 April 2026 | Ketegangan internal yang selama ini disembunyikan di AS Roma kini menjadi sorotan utama publik Serie A. Dua figur senior, pelatih Gian Piero Gasperini dan penasihat teknis Claudio Ranieri, terlibat dalam benturan visi yang tajam, menempatkan klub di persimpangan antara ambisi meraih trofi dan kepatuhan pada aturan Financial Fair Play (FFP) yang ditegakkan oleh pemilik keluarga Friedkin.

Gasperini, yang sebelumnya mencatatkan keberhasilan mengangkat Atalanta menjadi tim yang menakutkan dengan strategi pengembangan pemain muda, kini mengusung model klasik di Roma: mendatangkan pemain-pemain matang yang siap langsung mengangkat level kompetitif skuad. Ia menegaskan, “Kami membutuhkan kualitas instan untuk bersaing di Liga Champions dan mengejar gelar Serie A.” Pendekatannya telah menghasilkan 26 kemenangan dalam satu musim, namun menimbulkan tekanan finansial yang signifikan.

Di sisi lain, Ranieri—yang kini menjabat sebagai penasihat senior—menjadi perwakilan suara strategis Friedkin. Ia menekankan pentingnya menahan belanja pemain agar klub tetap berada dalam batasan FFP. “Kami memilih Gasperini karena track recordnya mengembangkan talenta, namun tidak berarti kami akan melupakan kesehatan finansial klub,” ujar Ranieri. Ia menambahkan bahwa akuisisi seperti Ziolkowski, Ghilardi, Venturino, dan Zaragoza semuanya disetujui secara kolektif, menandakan upaya menjaga keseimbangan antara kualitas dan keberlanjutan.

Kondisi ini menempatkan Direktur Olahraga Frederic Massara dalam posisi terjepit. Ia harus menengahi antara dua kubu yang masing-masing mengklaim memiliki dukungan penuh pemilik. Tanpa pernyataan resmi dari keluarga Friedkin, spekulasi publik semakin memuncak, dan suasana ruang ganti menjadi sarang kebingungan.

Konflik internal ini tidak hanya berpengaruh pada kebijakan transfer, tetapi juga pada performa tim di lapangan. Pada pekan terakhir, Roma mengalami kekalahan melawan Bologna di fase knockout Liga Europa, sekaligus tersingkir dari kompetisi tersebut. Kekalahan tersebut memicu kritik tajam dari Ranieri terhadap taktik Gasperini, menyoroti kurangnya adaptasi strategi saat menghadapi tim-tim defensif.

Di tengah ketegangan tersebut, klub harus bersiap menghadapi laga penting melawan Lecce yang dijadwalkan pada malam ini. Pertandingan ini menjadi ujian nyata apakah Gasperini dapat menenangkan situasi dan menampilkan skuad yang kohesif, atau apakah interferensi Ranieri akan mempengaruhi keputusan taktik di lapangan. Kedua pelatih diprediksi akan duduk di bangku cadangan bersama, namun pertemuan mereka di ruang taktik dijanjikan akan menjadi momen krusial bagi masa depan Giallorossi.

Sementara itu, pasar transfer musim panas semakin menegang. Gasperini menuntut rekrutmen enam pemain baru untuk memperkuat lini depan, termasuk mengusir nama-nama yang dianggap tidak cocok seperti Paulo Dybala. Ranieri menolak beberapa target yang dianggap terlalu mahal atau tidak sejalan dengan kebijakan FFP. Perselisihan ini memperlambat proses negosiasi, dan menimbulkan keraguan di antara suporter yang menantikan perbaikan skuad.

Para analis menggarisbawahi bahwa jika konflik ini tidak terselesaikan, AS Roma berisiko kehilangan identitas taktisnya. Model Gasperini yang mengedepankan pressing tinggi dan transisi cepat memerlukan pemain dengan kebugaran optimal, sementara kebijakan Ranieri menuntut rotasi yang lebih hati-hati demi menjaga keseimbangan keuangan. Keseimbangan antara kedua pendekatan ini menjadi faktor penentu dalam perburuan gelar musim ini.

Dalam konteks liga, rival-rival utama seperti Inter Milan dan Napoli terus menguatkan posisi mereka di papan atas. Inter, yang baru saja mengalahkan Roma dengan skor 5-2, menunjukkan bahwa kelemahan defensif Roma dapat dimanfaatkan oleh tim-tim ambisius. Napoli, di sisi lain, tetap menekan dengan serangkaian kemenangan beruntun, menambah tekanan pada manajemen Roma untuk segera menemukan solusi.

Sejumlah suara di luar klub menyerukan intervensi langsung dari pemilik. Mereka menilai bahwa hanya dengan keputusan tegas dari Friedkin, baik dalam hal kebijakan transfer maupun penunjukan kepemimpinan, konflik ini dapat diakhiri. Tanpa kepastian, suasana kebingungan dapat meluas ke ruang ganti, mengganggu konsentrasi pemain, dan pada akhirnya merugikan hasil kompetisi.

Kesimpulannya, perseteruan antara Gasperini dan Ranieri mencerminkan dilema klasik antara ambisi sportivitas dan realitas finansial. Bagaimana klub menyeimbangkan kedua kepentingan ini akan menentukan tidak hanya hasil di Serie A, tetapi juga masa depan AS Roma sebagai institusi sepakbola kelas dunia.